
Matahari mulai nampak dari peraduanya,
bersinar begitu cerah namun tidak dengan hatiku. Aku masih memikirkan ucapan mama tadi malam, senang karena menikah dengan orang yang aku sayang selama ini,
entah kenapa seolah masih ada yang mengganjal di hati ini. rasanya aku ingin bolos sekolah, Huffftt... membayangkan bertemu dengan kak Eza saja sudah membuatku malas. Walaupun begitu aku masih tetap berangkat.
.
"Krucuk..krucuk..krucuk.." bunyi cacing diperutku yang sedang minta jatah.
"Astaga, aku lupa tadi langsung berangkat begitu saja" reflek ku tepuk jidatku, aku baru ingat kalo pagi tadi aku tidak sarapan.
"Aaahhh..." Nanti sajalah pas jam istirahat pikirku.
.
Saat aku sedang enak duduk di bangku kelas tiba-tiba duo kesayanganku datang, siapa lagi kalo bukan Rosa dan Revi.
.
"Pagi Beb, muka loe jangan di tekuk kaya gitu cepat tua loh entar" sapa Rosa, "lagi dapat ya loe?" timpal Revi. "Apa'an sih kalian, kaya emak-emak tau nggak" kemudian kami bertiga tertawa terbahak-bahak, ya setidaknya kesedihanku agak berkurang.
Sebenarnya aku tidak berniat menutupi dari mereka, tapi untuk sekarang aku belum siap cerita karena waktunya masih belum tepat menurutku.
.
Bel masuk pelajaran berbunyi, pelajaran pertama sudah selesai, saatnya sekarang ganti pelajaran kedua yaitu pelajaran olahraga yang di ajar oleh Pak Reza(kak Eza). Kebetulan hari ini waktunya praktek lari jarak jauh.
.
"Anak-anak hari ini kita latihan lari 10x putaran"
terang pak Reza.
"Siappp pak", jawab murid-murid dengan serentak.
__ADS_1
.
Walau aku lemas tapi aku tetap berusaha mengikuti latihan, awalnya tidak ada masalah, meskipun sedikit merasa pusing masih bisa aku tahan. Namun pada saat memasuki putaran ke Sembilan, kepalaku makin terasa pusing mataku juga mulai berkunang-kunang. dan akhirnya "Bruuukkk" aku tergeletak di lapangan.
.
"Felysa...loe kenapa?" teriak salah satu teman, kemudian semua teman-teman sekelasku menoleh dan menghampiriku. Pak Reza yang mengawasi dari kejauhan juga langsung berhambur menghampiri.
.
"Ada apa ini? kenapa dia pingsan?" tanya nya pada semua teman-temanku dengan intonasi yang tinggi. Semuanya hanya diam dan lempar pandang seolah saling bertanya. Dengan cepat Pak Reza membopongku dan membawaku ke UKS.
.
Beberapa saat kemudian aku terbangun, aku melirik ke samping terlihat ada seseorang yang sedari tadi menemaniku selama tak sadarkan diri. "Ka ka kak Eza, kenapa aku di sini? bukanya tadi aku sedang lari di lapangan." Tanyaku dengan suara lemah sambil berusaha mengangkat kepalaku.
"Iya, kamu tadi pingsan di lapangan. sudah jangan bangun dulu tetap istirahat." Perintahnya sambil merebahkan kepalaku kembali, terlihat kak Eza seperti orang yang sedang Hawatir.
.
"Astaga...sekarang kan jam pelajaran, aku harus kembali ke kelas" kembali kuangkat tubuhku berniat keluar dari UKS dan kembali ke kelas.
.
"Deg..Deg..Deg" debar jantungku semakin kencang tak terkontrol, baru pertama kali ini jarakku sedekat ini dengan kak Eza. Tatapan mata kami berdua beradu.
Eca tenangkan dirimu, kenapa kak Eza berlebihan sekali, padahal aku kan cuma pingsan, aku teus berbicara sendiri dalam hatiku.
.
Kami berdua masih terasa asing, karena memang jarang berkomunikasi, setelah cukup lama terdiam, aku memberanikan diri untuk berbicara.
"Kak, sudahlah aku tidak apa-apa, aku sudah baikan" aku berusaha mencari alasan supaya bisa kabur dari sini.
"Tidak ada bantahan Eca, kakak akan mengantar kamu pulang. Lagian kamu adalah sepupuku dan juga calon istriku, jadi mulai sekarang aku berkewajiban menjaga dan melindungi kamu." Ucapnya dengan penuh penekanan.
__ADS_1
.
"Kenapa kakak menerima perjodohan kita? bukanya kakak sudah punya pacar" entah kenapa pertanyaan itu begitu saja terlontar dari bibirku.
"Apa? Pacar... kata siapa aku punya pacar?" tanyanya dengan heran. Aku jadi semakin bingung, dan teringat ucapan mama, apa benar aku sudah salah faham.
.
"Iya, kan kakak sudah punya pacar. Kalau kakak hanya terpaksa menerima perjodohan ini lebih baik kakak batalkan saja mumpung belum terlambat" cerocosku begitu saja karena aku merasa butuh penjelasan daripada penasaran.
.
"Kamu ngomong apa sih Ca, mana mungkin kakak terpaksa menerima perjodohan ini. Sebenarnya kakak ingin mengatakanya dari dulu, tapi kakak belum ada keberanian dan juga beberapa bulan ini kamu selalu menghindari kakak, kakak sudah menyukaimu dari dulu Ca. Sejak kamu masih kecil kakak sudah menyukaimu, tanpa kakak sadari ternyata mami dan papi selalu memperhatikan gerak gerik kakak, makanya mereka menjodohkan kita ." panjang lebar kak Eza menjelaskan dan mengungkapkan perasaanya padaku, tapi aku merasa ada yang mengganjal.
.
"Trus siapa cewek yang selalu menempel pada kakak di kampus?" Tanyaku lagi...
"Yang mana? Maksud kamu Fika?" karena dia merasa selama ini cuma dekat dengan Fika.
"Tunggu..tunggu..tunggu.. darimana kamu tahu soal Fika yang menempel terus padaku? apa jangan-jangan kamu diam-diam mengikuti kakak?" sedidik kak Eza sambil memegang kedua pipiku, aku sangat terkejut sampai wajahku bersemu merah.
Oh tidak, apa yang harus aku katakan pada kak Eza, tidak mungkin kan aku mengatakan yang sebenarnya kalau waktu itu aku pernah datang ke kampusnya, benar-benar memalukan sekali, gara-gara kesalahpahaman itu aku banyak melakukan hal bodoh dan menghindari kak Eza.
Tapi biar bagaimanapun kak Eza adalah calon suamiku, tunggu dulu kenapa aku jadi menyebutnya begitu, apa memang sekarang aku sudah menerima dia dengan sepenuhnya. Aku terus berperang dengan bathinku sampai kak Eza menyadarkan aku yang dari tadi bengong.
.
.
.
Happy Reading 🥰🥰
Sudah Author kabulin yach kak, Up eps. yang panjang...🥰🥰
__ADS_1
kalo kalian suka Novel ini jangan lupa Like dan komen yach, kalo mau kasih Vote juga boleh...
Terimakasih kakak Readers tercinta...🙏🥰