
Tak terasa sudah sore tapi Fely belum juga bangun, Mama Weni memang sengaja tidak membangunkan Fely karena ia tahu pasti saat ini Putri nya masih sangat terpukul. Kehilangan orang yang sangat kita sayangi memang sangat berat rasanya, apalagi tanpa pesan dan pamit. Bahkan kisah mereka berdua baru saja di mulai, memang kadang takdir hidup tidak bisa di tebak dan manusia hanya bisa berencana.
" Bang, adik kamu belum bangun? " tanya mama Weni saat mereka bertiga berkumpul di meja makan.
" Kaya nya belum Ma. Eca masih sedih banget, terlihat jelas sekali raut wajahnya " terang Farel sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.
" Biarin seperti itu dulu Ma, Eca saat ini butuh support dari kita " ucap papa Bagas.
" Iya Pa, anak kita masih terlalu muda untuk menjalani ujian seberat ini " ucap mama Weni dengan mimik wajah yang tiba-tiba kembali bersedih.
" Ma, Pa, gimana kalo Eca kuliah di kampus dekat kantor aku aja? nanti biar Farel bisa bantu ngawasin." Farel memberi saran pada kedua orang tuanya.
" Sepertinya itu tidak buruk. Sekalian biar adik kamu tinggal di Apartemen kamu saja. " ujar Papa Bagas.
" Tapi kita harus tanya Eca dulu, dia mau apa tidak? karena yang jalani kan dia " sahut Mama Weni.
" Iya Ma, pasti itu... " jawab Farel singkat lalu lembali melanjutkan makan.
Di tengah keheningan mereka bertiga tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Mereka serentak menoleh, dan ternyata itu adalah Fely.
__ADS_1
" Sayang, kamu sudah bangun? " Mama Weni menghampiri putrinya lalu mengajaknya duduk.
" HMmmm " cuma itu yang terdengar dari mulut putri ceria mereka dulu. Kini seakan keceriaan nya sudah ikut pergi bersama Reza.
" Ca, kamu makan ya...sedikit saja gapapa yang penting kamu makan. Mama tadi masakin makanan kesukaan kamu loh " bujuk Mama Weni sambil mengambilkan makanan buat putrinya.
" Tolong kalian jangan pernah pangil aku Eca lagi. Eca sudah pergi bersama orang yang ngasih panggilan itu. " Kini Fely bersuara walau masih terdengar berat.
" Dek, abang yakin kamu itu luar biasa. Kamu kuat, kamu adik terbaik abang " Farel berjalan ke belakang adiknya sambil mengelus kepala sang adik lalu merengkuhnya dengan harapan bisa memberikan sedikit kekuatan pada adiknya itu.
" Kalian tenang saja aku hanya butuh waktu untuk menerima dan memahami ini semua. Felysa bukan orang yang lemah " ucapnya datar dan berusaha lebih tegar.
" Memangnya aku kenapa Ma? aku hanya mengalami mimpi buruk tadi. Tolong kalian jangan membahasnya lagi. Aku sudah tidak apa-apa" ucap Fely lagi. Ia masih tetap berusaha menutupi kerapuhanya.
Bukanya ia sudah lupa akan peristiwa menyakitkan itu, hanya saja ia tidak ingin membuat keluarganya ikut terlalu sedih. Karena ia berpikir semua sudah terjadi dan tidak mungkin kembali kecuali ada keajaiban. Tapi ia tidak mau berharap pada keajaiban yang belum pasti, yang justru malah akan membuatnya kecewa lebih dalam lagi.
Mungkin mulai saat ini dia akan menjadi lebih dingin dan sedikit trauma untuk jatuh cinta lagi, karena rasa yang ia miliki sudah pergi bersama suami yang sangat ia sayangi. Biar bagaimanapun dia hanya manusia biasa, sebelumya mungkin ia tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta, tapi melupakan orang dia sayang mungkin butuh waktu yang cukup lama.
" Ya udah Fely mau ke kamar dulu ya. Kalian juga istirahat " setelah menyelesaikan makannya Fely pun pamit kembali lagi ke kamarnya.
__ADS_1
Setelah sampai di kamarnya ia kembali menangis lagi, sekuat apapun ia berusaha menahan tetap saja cairan bening itu terus mengalir dengan sendirinya. Ia terus meluapkan kesedihanya sampai ia benar-benar merasa lega.
" Puas kamu bikin aku seperti ini? puas kamu? kamu pikir aku tidak bisa hidup tanpa kamu? lihat saja aku akan tunjukkan kalau aku tidak lemah. Aku akan buktikan kalau aku akan lebih baik dari ini, pasti itu kan yang kamu inginkan? " Fely berbicara panjang lebar sembari menunduk menatap Foto pernikahan nya.
" Tuhan kenapa secepat ini Kau ambil dia dari hidupku. Bahkan di saat aku mulai belajar menjadi istri yang baik untuk dia. Bukannya aku protes dengan takdir Mu, tapi aku masih belum begitu siap untuk kehilangan dia saat ini. Kenapa takdir hidupku begitu lucu sekali, aku begitu cepat menikah denganya, begitu lama mencintainya dan sekarang begitu cepat pula kehilanganya." Pekik Feli di tengah-tengah suara tangisnya, lalu ia menegakkan kembali kepalanya.
" Oke...aku tidak akan menjadi wanita yang lemah, mulai saat ini akan aku buktikan sama kamu betapa kuatnya aku " Ia masih saja berbicara pada Foto yang terbingkai itu lalu tak lama setelah itu ia memasukkanya kedalam laci lemari yang ada di kamarnya. Entah sudah berapa lama ia berbicara pada benda itu sampai akhirnya ia lelah dan kembali tertidur dengan sendirinya.
.
.
.
.
.
Happy Reading All...🥰🥰
__ADS_1
Kalau kalian suka dengan cerita ini Jangan lupa tinggalkan jejak yach...❤️❤️