Mencintai Sepupuku

Mencintai Sepupuku
Eps. 58# Penjelasan


__ADS_3

Varel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di liriknya Fely masih diam dan enggan menceritakan apa yang terjadi. Varel yang tidak tahan dengan situasi seperti ini akhirnya menepikan mobilnya di tempat yang agak sepi.


Di dalam Mobil


"Dek, kalo kamu ada masalah cerita sama abang" Varel memulai obrolan.


"Maaf bang, aku hanya belum siap cerita sama siapa-siapa. Semuanya sangat mengejutkan." ucap Fely lirih, tanpa sadar ia kembali terisak.


"Kamu punya abang, jangan seperti ini. Abang merasa tidak berguna karena membiarkan kamu menangis lagi. Padahal abang sudah berjanji dalam hati kalo abang akan menjaga dan tidak akan membiarkan kamu bersedih, tapi sekarang apa? bahkan abang tidak tahu apa-apa. Abang merasa seperti orang bodoh karena tidak tahu menahu tentang fakta suami kamu masih hidup" sesal Varel sambil memukul setir kemudi.


"Bang, jangan salahin diri abang, ini semua salah kak Eza. Seenaknya saja dia seperti ini, menciptakan kebohongan besar, aku gak mau maafin dia. Dia pikir aku gak sakit hati apa kehilangan dia tanpa tahu Jenazahnya, disaat aku sudah mulai menerima kenyataan, tiba-tiba saja dia datang lagi muncul di hadapan aku dengan berpura-pura menjadi orang lain." ucap Fely berapi-api.


"Jadi...jadi, Reza beneran masih hidup?" Varel menatap bingung pada Fely tapi dia berusaha mencerna verita Fely.


"Kamu jangan begitu dek, Reza pasti punya alasan melakukan itu semua. Abang yakin Reza itu sangat menyayangi kamu, kamu dengerin dulu penjelasan Reza jangan sampai kamu menyesal" Varel menasehati adiknya dengan bijak.


"Apapun alasanya tapi dia sudah keterlaluan bang, bercanda dengan pura-pura mati itu gak lucu sama sekali. Abang gak tau aku seperti orang gila saat mendengar kabar dia meninggal waktu itu" tangis Fely kembali mengingat saat-saat itu, meskipun dia dulu pernah merasa dunianya hancur tapi dia masih berusaha tegar dan kembali bangkit.


"Aku butuh waktu bang, aku masih kecewa. Aku tahu mungkin kak Eza tidak ingin masa depan aku gak jelas karena ngurusin orang cacat, tapi dia tidak bisa seenaknya seperi itu mengambil keputusan. Dia kira aku perempuan apa, aku tidak menyangka kak Eza nganggep aku sperti itu" Fely masih sesenggukan tapi terus mengutarakan isi hatinya.

__ADS_1


"Udah kamu tenangkan diri kamu, kamu istirahat dulu sekarang biar nanti bisa berfikir jernih, jangan sampai kamu salah mengambil keputusan." titah Varel.


"Nanti kalau sampai rumah abang bangunin" Varel mengelus puncak kepala sang adik lalu kembali melajukan mobilnya.


Mereka berdua menempuh perjalanan kurang lebih Dua Jam untuk sampai di kota B. Dan ternyata di rumah orang tua Fely, Mama Weni, Papa Bagas, dan Ferdi sudah menunggu kepulangan mereka.


"Assalamu'alaikum... mama... anak mama yang paling cantik pulang" ucap Fely dengan cerianya. Sementara Varel hanya tersenyum mengekor di belakang adiknya.


"Wa'alaikum salam sayang.." jawab mama Weni dengan suara lembut. Seketika mimik muka Fely langsung saja berubah karena melihat seseorang yang sudah membuat dia kecewa. Yah...orang itu adalah Ferdi/Reza.


"Kenapa dia disini?" tanya Fely datar.


"Felysa, kamu duduk dulu kita bicarakan baik-baik" papa Bagas kali ini bersuara tegas dan Fely pun patuh. Karena Fely sangat menghormati orang tuanya.


Fely akhirnya duduk dengan terpaksa dan perasaan marah seakan ingin memakan orang, tatapan tajamnya sekilas pada Ferdi yang terlihat sedikit gelisah karena baru saat ini ia melihat Fely menatapnya seperti itu. Sementara Varel yang tidak mau ikut campur hanya duduk santai menyimak obrolan empat orang di depanya.


Papa Bagas membantu menantunya menjelaskan kejadian Tiga tahun lalu yang di alami oleh Ferdi, meskipun marah, kesal, kecewa, Fely tetap mendengarkan penjelasan papa nya. Ferdi bukanya tidak mau menjelaskan sendiri pada Fely tapi ia tidak mau memperkeruh masalahnya makanya ia mempercayakan pada mertuanya karena Fely tidak akan membantah orangtuanya mengingat ia tahu betapa Fely sangat menyayangi keluarganya.


"Fel, papa harap kamu bisa memaafkan Ferdi" ucap papa Bagas dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


"Jadi, selama ini kalian sekongkol menyembunyikan kebenaranya dari aku" ucap Fely menyimpulkan.


"Bukan seperti itu sayang, kami tidak ada maksud untuk membohongi kamu" kali ini mama Weni yang bersuara.


"Asal kalian tahu, aku selama Empat tahun ini berusaha menjalani hidupku dengan baik, menyembuhkan lukaku dengan perlahan tapi kenapa? kenapa disaat semua sudah mulai sembuh kalian baru mengatakan yang sebenarnya. Ohh.... atau mungkin kalau kamu tidak melihat pria lain mendekati aku kamu tidak akan mengatakan yang sebenarnya? kamu ingin menyembunyikanya selamanya begitu?" ucap Fely berapi-api sambil menunjuk Ferdi.


"Eca, semua itu tidak benar. Tidak seperti apq yang kamu pikirkan, tolong dengarkan aku dan beri aku kesempatan" Ferdi memberanikan diri untuk berbicara.


"Reza Ferdinand... aku tidak menyangka kalau kamu seorang pengecut dan egois hahh" Fely tersenyum sinis. "kamu fikir aku perempuan seperti apa? aku tidak menyangka di mata kamu aku serendah itu... kamu takut aku tidak sabar merawat kamu? atau kamu takut aku meninggalkan kamu karena kamu Cacat? ternyata kamu belum benar-benar mengenal aku, dan kamu belum sepenuhnya percaya sama aku" Ferdi hanya bungkam dan memikirkan perkataan Fely. Memang ada benarnya ucapan Fely walaupun tidak semuanya benar.


"Sudahlah...aku lelah...aku ingin istirahat" Fely berjalan menaiki satu per satu anak tangga yang membawanya menuju kamarnya. Ia menutup pintu lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar di kasur empuk yang sudah lama tidak ia tempati dan tak lama akhirnya ia terlelap berpetualang ke alam mimpi.


.


.


.


.

__ADS_1


#Happy_Reading...🥰🥰


__ADS_2