
"Ma, dosa tidak kalo seorang istri belum bisa melakukan kewajiban nya yang satu itu?" tanya Fely dengan bibir bergetar takut-takut salah ngomong. Tapi mama Weni bisa memaklumi putrinya yang masih duduk di bangku sekolah.
"Ya dosa lah sayang. Yang namanya seorang istri itu wajib melakukan apa yang di perintahkan suamin nya. Istri itu sudah menjadi hak suami seutuhnya, jadi sebagai istri itu wajib menta'ati perintah suami selama dalam hal kebaikan karena keridhoan Allah itu ada pada keridhoan Suami ketika seorang wanita sudah menikah." Jelas mama Weni panjang lebar dengan tegas.
"Jadi Reza belum pernah nyentuh kamu sama sekali?" selidik mama Weni dengan tersenyum, Fely hanya menggelengkan kepala. Jujur saja dalam hati nya dia sangat senang ternyata menantunya benar-benar menjaga dan menghormati putrinya. Tapi dia juga was-was yang namanya laki-laki normal kalau terlalu lama menahan terus kan bisa-bisa khilaf batin nya.
"Kak Eza siap nunggu sampai Eca selesai ujian kelulusan katanya. Eca kan masih sekolah ma, kalo Eca hamil gimana? kan malu" ujarnya dengan polos membuat tawa sang mama pecah.
"Kenapa harus malu? kamu kan sudah punya suami, kecuali kalo kamu belum punya suami trus hamil baru kamu malu" tutur mama Weni sambil membelai wajah putri tercintanya.
"Kasian Eza loh Ca, dia pasti tersiksa banget menahany nya. Kamu tidak takut kalo dia tiba-tiba mencari pelarian di luar sana untuk memenuhi kebutuhan nya" sambung mama Weni menakut-nakuti sang putri.
"Mama jangan menakut-nakuti Eca dong, Eca yakin kak Eza bukan orang yang seperti itu. Lagian itu kan kemauan nya kak Eza sendiri yang mau nunggu Eza sampai selesai ujian kelulusan, Eca juga gak minta." Fely masih bersikukuh dengan keyakinan nya, karena dia sangat percaya sama suaminya. Dia yakin Reza bukan orang yang seperti itu, suatu hubungan itu kan memang harusnya saling percaya dan pengertian.
"Jadi kamu sebenarnya pengen minta" goda mama Weni "Bluushh..." seketika membuat wajah Fely pun merona.
"Eca takut Ma, oops..." Fely dengan malu-malu langsung menutupi muka dengan kedua telapak tangan nya.
__ADS_1
"Kenapa takut sayang" tanya mama Weni menatap sang putri dengan intens. Mama Weni merasa terharu ternyata putri kecilnya sekarang sudah dewasa dan sudah mempunyai kehidupan sendiri.
Putri yang rasanya baru kemarin ia menimang dan mengajaknya bermain sekarang sudah menjadi seorang istri.
Perlahan Fely membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya, Fely ikut terharu melihat mama Weni yang matanya mulai berkaca-kaca. Lalu ia langsung memeluk sang Mama dan menenggelamkan wajahnya di punggung sang mama. Ia sangat nyaman bisa memeluk wanita yang melahirkanya kedunia ini dengan posisi seperti itu.
Fely sangat bersyukur mempunyai kedua orang tua yang lengkap dan sangat menyayanginya. Kadang ia kasihan dengan kedua sahabatnya, Revi yang anak Broken Home dan Rossa yang sudah yatim piatu sejak kecil sehingga dia di asuh oleh tante dan om nya yang belum punya anak sampai sekarang. Meskipun begitu pertemanan mereka tidak pernah memandang status sosial ataupun latar belakang, Mereka bertiga benar-benar tulus saling menyayangi.
"Sayang, segala sesuatu itu kadang kenyataanya tidak seperti apa yang kita bayangkan ataupun kita takutkan. Mama yakin kamu bisa menjadi istri yang baik. Patuhi semua perintah suamimu, jangan pernah kamu mengecewakan dia. Kalo kamu mengecewakan suamimu berarti kamu mengecewakan mama, papa, dan keluarga besar kita. Seorang istri harus melayani suami dengan baik, begitupun suami harus memperlakukan istri dengan baik dan harus bertanggung jawab terhadap istri." Mama Weni menasehati putrinya sambil mengelus-elus kepala sang putri, sedangkan Fely yang mulai memahami maksut dari ucapan sang mama hanya mengangguk pertanda ia mengerti.
"Ada apa ini kok peluk-pelukan di dapur? papa gak di ajak..." tanya pak Bagas yang tiba-tiba memasuki dapur sambil tersenyum senang melihat istri dan putrinya saling menyayangi.
"Oohh... begitu. Reza mana kok belum turun Ca?" tanya papa Bagas kemudian.
"Kak Eza masih mandi pa. Bentar lagi juga pasti nyusul turun" jawab Fely sambil melanjutkan membantu mama Weni menata makanan lalu membawanya ke meja makan.
Tak lama kemudian Reza yang sudah rapi dengan pakaian santainya langsung ikut bergabung di meja makan. Dua pasang suami istri itupun menyantap makakan mereka dengan lahap.
__ADS_1
"Papa dan mama nanti sore mau ke luar kota Ca, Za. Kira-kira lumayan lama karena di kantor cabang sedang ada sedikit masalah, jadi papa harus turun tangan untuk menyelesaikan nya."
"Bakal sepi dong ini rumah, cuma Eca berdua sama kak Eza aja" ujar Eca sedikit sedih mendengar orang tuanya yang mau keluar kota dalam waktu yang cukup lama.
"Kenapa mendadak sekali pa?" tanya Reza dengan mengernyitkan dahinya.
"Papa tadi malam baru mendapat Telfon dari asisten papa yang papa tugaskan di sana Za, papa mau bilang tapi kalian belum pulang jadi papa baru bisa bilang sekaang" jelas pak Bagas, lalu Reza mengangguk paham.
"Ingat kalian jangan berantem ya selama mama dan papa tidak di rumah. Kalo ada apa-apa kalian harus saling terbuka, kalo ada masalah kalian cari solusinya bersama" mama Weni berpesan pada anak dan menantunya.
"Jangan lupa kalo mama dan papa pulang kasih kami cucu" Fely yang mendengar tiba-tiba langsung terbatuk. "Gimana mau ngasih cucu, bikin aja belum pernah" gumamnya dalam hati. Sementara Reza terus tersenyum melihat tingkah lucu istrinya.
Happy Reading All...🥰🥰
Kalo kalian suka jangan lupa Like, Coment, dan Vote yach...🙏🥰
Author harap semoga para Readers selalu sehat dan bahagia...🤲🙏
__ADS_1
I Love You All...❤️❤️