
Keesokan harinya
Subuh-subuh sekali aku sudah terbangun lebih dulu, aku kaget ada tangan kekar yang melingkar di perut ku, hampir saja aku teriak, untung aku langsung teringat kalau aku sudah bersuami. Ku lepaskan tangan itu pelan-pelan supaya empunya tidak terbangun. Seperti biasanya aku melakukan kewajiban ku lalu membersihkan diri, setelah nya aku membangunkan kak Eza.
"Kak, bangun kak, sholat subuh dulu" sambil menepuk pelan pipi kak Eza.
"Astaga, sudah jam berapa ini? maaf sayang aku kesiangan ya" kak Eza langsung membuka matanya dan turun dari tempat tidur, ekspresi wajah nya yang panik ternyata menggemaskan.
"Gak kok, ini masih jam lima kurang kak. Buruan kakak mandi dulu udah aku siapin baju ganti nya di situ, aku mau turun bantuin Mama siapin sarapan" jawab ku sambil tersenyum, karena melihat tingkah kak Eza yang lucu menurut ku.
"Makasih ya sayang, Cup... Morning Kiss" kak Eza mencium bibirku singkat.
"Deg... Kakak...bikin kaget aja" Jawab ku sedikit gugup karena ini yang pertama bagiku.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa Sayang kalau tiba-tiba aku perlakukan seperti itu" Jawabnya dengan santai tapi terdengar tegas.
Lalu dia berjalan ke kamar mandi.
"HMmmm... kenapa sih dia suka banget bikin kaget kayak gitu, untung aja aku gak punya penyakit jantung" gerutuku pelan, mungkin masih terdengar samar oleh kak Eza.
Setelah selesai menyiapkan sarapan aku kembali ke kamar, aku berniat pakai seragam seperti biasa, kebetulan hari ini waktunya olahraga jadi aku memakai kaos dan Trening. Aku lihat kak Eza sudah rapi memakai pakaianya, lalu aku bergegas menuju kamar mandi.
"Kamu mau kemana Ca" tanya kak Eza sambil mengerutkan keningnya.
"Mau ke kamar mandi kak" jawabku.
"Kenapa gak ganti baju di sini aja?" tanya nya lagi.
"Kan di sini ada kakak, ya aku malu lah kak masa iya aku mau telanjang di depan kakak" jawabku halus, karena takut menyinggung kak Eza.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? aku kan suami kamu?" tanya nya dengan nada sedikit meninggi.
"Apa kamu takut sama aku?" belum sempat aku menjawab kak Eza sudah melontarkan pertanyaan lagi.
"Ya ampun kak bukan begitu, sebelum nya aku belum pernah telanjang di depan orang lain, kan aku malu kak" jelasku.
"Tapi kan aku bukan orang lain sayang, kenapa kamu masih menganggap aku seperti orang lain?" tanya nya lagi.
"Iya juga sih, tapi kan aku belum terbiasa kak" jawabku lagi.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa, kita sudah sah menjadi pasangan suami istri menurut agama dan hukum" lanjut kak Eza yang seperti sedang menceramahi aku.
"Iya iya kak" aku iyakan aja perkataan nya, karena aku juga sadar kalau aku belum bisa memenuhi kewajibanku sebagai istri.
Gak tau kenapa kak Eza sekarang tiba-tiba posesif gini. Apa mungkin dia tersiksa karena belum mendapatkan hak nya, aku bertanya-tanya dengan pikiranku sendiri.
"Nyesel aku Sayang nyuruh kamu buat ganti baju di depanku" ucapnya tiba-tiba sambil berjalan mendekatiku.
"Nyesel?" tanyaku heran.
"Iya, aku nyesel banget. Biar bagaimanapun aku ini laki-laki normal, tapi aku akan selalu berusaha untuk menahan nya sampai kamu benar-benar siap" jawab nya dengan sendu.
"Maaf Kak" ucapku memelas dengan mata yang berkaca-kaca.
"Udah kamu gak usah sedih gitu, q akan sabar menunggu waktunya tiba" jawabnya menenangkanku sambil mengelus-elus kepalaku.
"Makasih Kak" jawabku lalu aku reflek memeluk kak Eza. Kak Eza sepertinya kaget karena tiba-tiba mendapat pelukan dariku.
"Sudah-sudah, besok-besok kamu ganti baju di kamar mandi aja aku takut Khilaf" ujarnya.
__ADS_1
"Ok siappp Boss" jawabku dengan semangat.
"Ya udah yuk kita turun sarapan, Mama dan yang lain nya pasti udah nungguin" ajaknya sambil menggandeng tanganku turun.
Sesampai di meja makan ternyata benar saja semuanya sudah nungguin aku dan kak Eza termasuk kak Farel yang rencananya hari ini mau balik ke luar kota.
"Cie-cie pengantin baru pagi-pagi sudah bikin ngiri" goda kak Farel.
"Apaan sih kak, makanya buruan nikah sana" jawabku ketus.
"Belum ketemu Jodohnya dek, gimana donk?" kilah kak Farel.
"Ya nyari lah kak" jawabku asal.
"Udah Rel, jangan di godain terus adik kamu" tutur Mamaku menengahi. Mukaku dari tadi sudah bersemu sementara kak Eza hanya senyum saja dari tadi.
"Sudah-sudah ayow kita sarapan" titah Papaku.
Suasana pagi ini sedikit riuh, kemuadian selanjutnya kami sekeluarga sarapan dengan suasana hening. Setelah itu kami menjalankan aktivitas masing-masing.
Makasih buat yang udah ngikutin sampai Episode Ini...🙏🥰
Makasih juga buat yang sudah Like, komen, dan Vote....🙏🥰
Dukungan kalian yang membuat Aithor semangat buat nulis...
#Happy_Reading yaa...🥰🥰
Untuk Episode selanjutnya Author Ceritain nya langsung pakai nama aja yach Readers, mudah-mudah.an lebih enak di baca dan tidak membosankan yach...🙏🥰
__ADS_1