
Keesokan paginya dua insan yang sama-sama polos terlihat masih bergelung dalam selimut. Aktivitas panjang yang menguras tenaga benar-benar membuat mereka kelelahan.
Sementara di balik pintu ada dua pasang mata yang mengintip mereka, melihat rencananya berhasil mama Weni menutup pintunya kembali lalu keluar.
Tapi tiba-tiba saja tanpa sengaja ia bertemu Varel yang menatapnya selidik penuh intimidasi. Karena gerak-gerik mama Weni seperti seorang pencuri yang mengendap-endap supaya tidak tertangkap.
"Mama sedang ngapain di sini?" tanya Varel mengintrogasi.
"Ma-ma-maama cuma melihat adik kamu, tapi sepertinya masih belum bangun." Jawab mama Weni terbata.
"Tumben Fely belum bangun jam segini?" tanya Varel heran.
"Sudah lah biarkan saja mereka mungkin kecapek.an, ayow kamu ikut mama ke dapur nyiapin makanan" mama Weni menarik lengan putra sulungnya ke bawah dan Varel pun menurut aja.
"Mama kenapa sih aneh banget, aku bisa jalan sendiri ma" gerutu Varel namun mama Weni hanya nyengir saja menampakkan deretan giginya.
Walaupun sebenarnya Fely enggan bangun tapi lama-lama ia memaksakan tetap membuka matanya. Melihat dirinya saat ini polos tanpa sehelai apapun sontak ia terkejut.
Jam berapa ini, kenapa tubuhku rasanya cape banget seperti di pukuli orang satu RT. Ouuuwww astaga... apa yang sudah terjadi. Fely terus bermonolog sambil mengingat-ingat malam panjang panas yang mereka lewati berdua. Rasanya sangat memalukan sekali membayangkanya, apakah ia harus pura-pura lupa saja biar tidak di tertawakan suaminya.
Fely akhirnya memutuskan memakai pakaian nya yang berserakan di lantai, setelah itu ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ckleeek" Fely segera keluar setelah merampungkan aktivitasnya dalam kamar mandi sementara Ferdi terlihat sudah berpakaian lengkap duduk dengan santai menatap layar ponselnya.
Suasana tiba-tiba terasa kembali canggung pagi ini. Ferdi yang melihat istrinya sudah segar dengan handuk yang masih melilit di atas kepala mulai mencoba memecahkan keheningan.
"Sayang, kamu tadi bangun jam berapa" tanya Ferdi basa-basi padahal dia aslinya tahu ketika Fely buru-buru berpakaian dan lari ke kamar mandi.
__ADS_1
"Belum lama mungkin sebelum kamu bangun" jawab Fely datar. Ia tidak mau banyak bicara dulu saat ini, rasanya masih sangat malu mengingat kejadian tadi malam.
"Ya udah aku mau mandi dulu" Fely hanya mengangguk, setelahnya ia bersiap-siap lalu turun ke bawah tanpa menunggu Ferdi.
"Mama masak apa hari ini?" tanya Fely sambil menghampiri sang mama ke dapur.
"Lho, sayang udah bangun? gimana tidurnya nyenyak?"tanya mama Weni sedikit menggoda.
"Udah dech mama gak usah sok polos, aku tahu itu semua kerjaan mama kan?" tanpa basa-basi Fely langsung menuduh perempuan paruh baya itu.
"Maksut kamu apa sih sayang?" tanya mama Weni pura-pura polos.
"Hmmmmm...percuma aja ngomong sama mama kayaknya" ujarnya kesal.
"Dek, gak boleh gitu. Gak sopan tau sama orang tua" nasihat Varel.
"Mentang-mentang udah ketemu lagi sama lakinya aja songong loe dek" Varel mengacak rambut Fely dengan gemas dan itu berhasil membuat Fely kesal, sementara Varel tanpa ba bi bu sudah ngiprit ke luar.
"Varel Ardianyah..." Teriak Fely dengan kencang justru membuat kakaknya terbahak-bahak sedangkan Fely semakin kesal.
"Kalian ini uda pada gede masih aja saling usil" dengus mama Weni.
"Cepat panggil suami kamu kita sarapan bareng" titah kanjeng mami tidak bisa di ganggu gugat.
"Iya...iya..." jawab Fely lesu tapi tetap naik ke lantai atas memanggil suami nya.
"Apa sudah selesai?" Ferdi mengernyitkan keningnya lalu mendekati Fely.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat, memangnya ada apa?" tanya Ferdi lembut.
"Ayow segera turun ke bawah di tunggu Mama sarapan" yah... saat ini Fely terlihat sudah lebih baik, bicaranya sudah mulai normal lagi.
Fely pun hendak berbalik melangkah keluar tapi tiba-tiba saja tanganya di cekal Ferdi sontak membuatnya terkejut lalu mengurungkan niatnya. "Ada apa?" tanya Fely sedikit heran. Bukanya menjawab Ferdi malah dengan cepat memeluknya dari belakang.
"Tolong jangan seperti ini pak Ferdi yang terhormat" ucap Fely penuh ketegasan. Bukanya ia menolak tapi ia kaget mendapat serangan mendadak seperti ini.
"Jangan bergerak, biarkan seperti ini sebentar" Fely hanya terpaku. Rasanya tubuhnya benar-benar menghangat saat ini.
"Sayang, maafin aku" kali ini Ferdi mengendus-endus leher Fely membuat Fely terhanyut dalam suasana.
Setelah beberapa saat tiba-tiba terdengar teriakan dari lantai bawah siapa lagi kalau bukan mama Weni. "Sayang cepat turun semua sudah berkumpul, mari sarapan bersama" hal itu membuat kedua insan itu menyudahi kegiatanya.
"Iya Ma ini mau turun" balas Fely berteriak dengan tidak kalah keras kemudian Fely melirik Ferdi sekilas. "Ayo kita sudah di tunggu orang rumah" Ferdi mengangguk lalu mengekor di belakang Fely.
Sarapan pagi ini terasa berbeda dari biasanya, suasananya lebih hangat karena setelah sekian lama akhirnya mereka bisa berkumpul dengan formasi lengkap.
.
.
.
Happy Reading All...🥰🥰
Maaf kalau kurang memuaskan...🙏🥰
__ADS_1