
" Aaaaa...Paaaa.... " teriak Rossa dan Revi bersamaan.
" Fel, loe nggak bercanda kan " ujar Rossa.
" Gak lucu Fel, loe jangan nge Prank kita " sahut Revi. Tapi malah Fely terus menangis, terlihat jelas sekali kalau ia benar-benar rapuh saat ini. Sisi ceria nya tak nampak, yang terlihat sedang hancur perasaanya.
" Beb, maaf...kita berdua gak bermaksut seperti itu " ucap kedua sahabatnya dengan rasa bersalah.
" Iya gak apa-apa. Gue tadi juga mikirnya Om Johan bercanda sama gue, tapi ternyata benar " lirih Fely pelan. " Tolong kalian kabari Orang tua dan kakak gue ya, karena gue gak sanggup mengatakanya " lanjutnya lagi dengan penuh harap.
" Fel, tapi loe uda lihat jenazahnya pak Reza belum? kok menurut gue kaya ada yang njanggal ya " karena jujur saja Revi juga masih merasa gak yakin.
" Iya Fel, gue juga masih gak yakin soalnya gak lihat jenazahnya. Maaf ya Beb bukanya kita gak percaya sama loe " Rossa ternyata juga meragukan kabar tersebut.
" Kata Om Johan suami gue jatuh ke jurang dan mayatnya tidak di temukan. Polisi mengatakan kalau jurangnya dalam banget jadi kemungkinan kak Eza udah Me...ning...gal di sana " Fely berusaha menjelaskan pada kedua sahabatnya.
" Beb, sabar ya... gue tau rasanya perasaan loe saat ini. Loe kuat, gue yakin loe pasti bisa lewatin ini semua " kedua sahabat Fely terus berusaha saling menyemangati Fely. " Iya Beb, loe tenang aja kita berdua akan selalu ada buat loe, loe gak sendiri. Kita bertiga sudah seperti satu tubuh. Kalo loe sakit, kita juga ngerasa'in sakit. "
" Thanks gaess. Cukup kak Eza aja yang ninggalin gue, kalian jangan ikut ninggalin gue " Fely semakin mengeratkan pelukannya pada kedua sahabatnya. Tak bisa di pungkiri kalau Ia benar-benar sangat hancur dengan musibah ini.
Rossa dan Revi sudah memberi kabar kapada keluarga Fely, dan mereka baru bisa pulang besok. karena saat ini sudah larut malam. Melihat sahabatnya seperti itu, mereka memutuskan menginap di rumah Fely karena tidak tega untuk meninggalkan sahabatnya sendiri, takutnya Fely akan melakukan sesuatu yang nekat.
Sudah tengah malam namun Fely masih saja tidak berhenti menangis, ia susah sekali memejamkan matanya. Rasanya ia tidak punya rasa kantuk sama sekali hari ini walaupun ia sangat lelah menangis. Melihat sahabatnya seperti itu Rossa dan Revi ikut bergadang untuk memastikan sahabatnya tidak berbuat aneh, sampai tak terasa waktu sudah menjelang subuh.
" Fel, kita sholat dulu yuk. Siapa tahu perasaan loe akan lebih baik. " ajak Rossa.
" Iya. Gue mau sholat " jawab Fely dengan tatapan kosong.
__ADS_1
" Yuk ah Beb, wudhu bareng gue " Revi pun berdiri menggandeng tangan Fely ke kamar mandi, Fely hanya menurut aja dan mengikuti Revi. (Skip Sholat)
Pagi-pagi sekali orang tua Fely sampai di rumah, tidak lama di susul Farel kakak Fely.
" Assalamu'alaikum " ucap kedua orangtua Fely.
" Wa'alaikum salam Ma" jawab Revi yang kebetulan sedang membantu merapikan ruang tamu Fely. Rossa dan Revi memang sudah terbiasa memanggil orang tua Fely dengan sebutan Mama.
" Rev, Fely mana? kenapa mendadak menyuruh kita pulang? " tanya Mama Weni, karena pada saat menghubungi Mama Weni Revi belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Revi hanya memberitahukan kalau Fely sedang sakit, yah memang Fely saat ini bukan hanya sakit tapi hancur. Sakit tapi tidak berdarah, sulit untuk percaya tapi haus percaya.
" Fely ada di kamarnya sama Rossa Ma. Tapi Mama tolong jangan nanya yang aneh-aneh ke Fely dulu ya. " ucap Revi.
" Rev, ini maksutnya ada apa sih? kenapa tiba-tiba Fely nyuruh kita semua pulang? " Farel tiba-tiba menghampiri Mama nya dan Revi, karena ia sendiri bingung ada apa sebenarnya.
" Ma, Kak, jadi Fely tadi malam mendapat telfon dari Om Johan kemudian bla...bla...bla(Revi menceritakan semua yang di ceritakan) " Mama Weni dan kakaknya pun seketika membisu, hanya butiran kristal bening yang lolos dari mata mereka.
" Ca, ini Mama sayang. Kamu yang sabar ya " Mama Weni langsung memeluk putrinya yang terlihat sangat menyedihkan itu.
" Dek, kakak sudah pulang...kamu gak kangen sama kakak " Farel berusaha menghibur Fely namun Fely hanya tersenyum tipis.
" Sayang, kalau kamu mau mau nangis ga pa-pa itu manusiawi, jangan di tahan sayang. Mama ngerti perasaan kamu " Mama Weni terus mengelus puncak kepala Fely yang masih terus menangis sampai tertidur di pelukan sang Mama.
Rossa merasa lega, akhirnya Fely bisa tidur juga karena dari kemarin Fely tidak tidur. Ia ngerti pasti saat ini Fely butuh ruang dengan keluarganya, makanya ia berniat pamit pulang.
" Ma, Kak Farel, aku sama Revi izin pamit pulang dulu ya " pamit Rossa.
" Iya sayang hati-hati. Makasih banyak sudah jaga'in Fely, maaf sudah merepotkan kalian" ucap Mama Weni tulus.
__ADS_1
" Mama ngomong apa'an sih, gak ada yang namanya merepotkan dalam persahabatan Ma " jawab Rossa.
" Biar Kak Farel anterin kalian ya? " tawar Farel.
" Gak usah kak, q sama Revi biar naik taksi aja " tolak Rossa dengan halus karena ia memang benar-benar tidak ingin merepotkan.
" Ya udah kalian berdua hati-hati ya. Salam ke orang tua kalian " ucap Farel.
" Siiiappp kak " jawab Rossa dengan mengangkat jempolnya kemudian berlalu pergi.
.
.
.
.
.
Makasih buat semuanya yang udah setia ngikutin cerita ini, semoga kalian selalu sehat dan Bahagia...🤲🤲
Jika kalian suka dengan ceritanya jangan lupa tinggalkan jejak yach para Readers...
Terimakasih...🙏🙏
Author menyayangi kalian...❤️❤️
__ADS_1