Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Mulai berguna


__ADS_3

"Astagfirullah! Kapan aku bisa berjalan lagi ya allah... Aku bahkan tak bisa bangun dari kursi roda ini tanpa terjatuh" Gerutu Diran yang sudah muak pada tubuhnya.


Syiren yang mendengarkan keluhan Diran mulai menghampirinya "Tuan. Biar saya bantu" Pinta Syiren.


Diran menoleh ke arah Syiren sesaat "Siapa yang mengijinkan mu masuk" Tanya Diran padas.


"Saya baru saja mengganti pakaian Nyonya Lena. Dan saya kembali untuk mengambil cucian kotor" jelas Syiren.


"Tak perlu... Pergilah" Ketus Diran menolak tegas.


Syiren cukup marah karna melihat Diran yang kesusahan tapi dia enggan menerima bantuan Syiren.


"Kenapa kamu belum pergi?" tanya Diran tegas.


"Karna ini adalah tugas saya" ucap Syiren lekas meraih tangan Diran dan melingkarkannya di pundaknya.


"Apa yang kau lakukan... aku bukanlah muhrimmu" bentak Diran mengelak. Tapi Syiren bersikeras, dan ia mulai berusaha mengangkat tubuh Diran "Anda bisa menceceha saya. Tapi ini adalah tugas saya dan saya haruslah profesional" jelas Syiren.


Omongan Syiren yang tegas membuat Diran mati kutu. Dia tak bisa membalas perkataan Syiren yang sedikit ada benarnya juga.

__ADS_1


"Hati hati..." ucap Syiren. Akhirnya Diran bisa duduk di matras dengan amannya.... Ini kali pertamanya Diran duduk tanpa harus merasakan sakit karna terjatuh.


Sesaat, wajah Diran dan Syiren cukup dekat hingga jantung Syiren berdegup kencang karna canggung "Tuan. Anda sudah baik baik saja" ucap Syiren melepas lingkar tangan Diran di pundaknya.


"Baik... Terimakasih..." Balas Diran Dingin.


Syiren lekas menaikkan kaki Diran dan mulai menyelimutinya lembut. Ia juga mulai menyelimuti tubuh Lena yang tampak polos dengan pakain tidurnya yang tipis itu.


"Selamat malam tuan... Semoga besok, saya bisa membantu anda lagi. Dan semoga anda tak menolak bantuan saya..." jelas Syiren menunduk dan pergi dari kamar itu.


Diran mulai melamun sesaat, ia segera menoleh ke arah istrinya "Sayang. kamu sungguh ceroboh... Bagai mana bisa kamu memberikanku gadis muda seperti ini?" tanya Diran seraya mengusap pucuk kepala istrinya.


***


Dug Dug Dug...


Astagfirullah... Apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah merasa canggung setelah menyentuh tuan Diran. Rasanya jantungku tak bisa berhenti berdegup kencang... Aku malu tapi aku juga canggung.. Apa artinya semua ini. Tidak mungkin jika aku menyukai tuan diran... Masa semudah itu, baru saja aku bertemu dengannya malah perasaan ini yang muncul... Bathin Syiren berkecamuk dalam hatinya.


***

__ADS_1


Pagi tiba...


Lena mulai membungkus seluruh pakaiannya 'Sayang. Kamu mau kemana?" tanya Diran panik melihat istrinya berkutat, Diran bangun ia malah melihat pemandangan yang sedikit menyesakkannya.


"Aku akan tour ke luar negri mas..." Balas Lena acuh.


"Tour? Tour katamu?" tanya Diran tak paham pada apa yang telah Lena jelaskan tadi.


"Ya mas. Tour? Apakah kamu tidak tahu apa arti nya Tour?" Marah Lena menekan Diran.


"Astagfirullah... Kamu bilang kamu mau tour di saat suamimu sedang sakit?" Tanya Diran sedikit marah.


"Sakit? Kamu bukan sakit mas. Kamu itu cacat..." Timbal Lena menghujat Diran.


Sontak Diran sangat marah "Kamu jangan seenaknya... Harta yang kamu nikmati saat ini adalah hasil jirih payahku... Aku bisa mengambilnya kapan saja!" Bentak Diran.


Dan Lena lekas menjawab "Oh silahkan... Tapi, kita sudah menandatangani perjanjian tentang harta yang ada di tanganmu adalah harta ku juga. Apakah kamu lupa pada perjanjian kita?" tanya Lena tak mau kalah.


Akhirnya Diran pun membuang wajahnya dan mulai menerima kehendak istrinya yang sudah seenaknya sendiri itu...

__ADS_1


__ADS_2