Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Lamaran Diran


__ADS_3

"Kita menikah ya"


Seketika, dua bola mata Syiren membelalak tak karuan "T-tuan..."


"Jika kamu menyukaiku. Aku ingin kita menikah" Pinta Diran memperjelas ungkapannya.


"T-tapi tuan... Kenapa, tiba tiba anda bicara demikian?" Syiren masih tak percaya pada ungkapan Diran yang terkesan mendadak.


"...Aku, memang sudah memperhatikan mu sejak lama... Dan, saat aku di cemooh oleh istriku. Kamu lah yang selalu berdiri tegak di belakang punggungku. Lalu tiba tiba selalu mengulurkan tangan mu untuk menyambutku yang selalu terjatuh... Kau adalah penopang hidupku. Aku sungguh bersyukur bisa bertemu dengan mu... Syiren'


Mendengar ungkapan demikian, entah kenapa... Beberapa tetes basah di pelupuk mata Syiren mulai terjun di pelipisnya. Diran tersenyum dan menjulurkan tangannya... Ia perlahan menepis satu persatu tetesan basah itu dan kemudian kembali membesarkan hati Syiren.


"Aku janji... Aku akan membuatmu bahagia. Aku ingin kamu menjadi satu satunya istri yang paling aku cintai. Bukan salahmu, jika aku menyukaimu... Sebab kebaikan mu yang tulus itu lah yang selalu membuatku kuat. Berkat kamu... Aku pun mampu melewati setiap detik kehidupan ku yang terasa sesak..." Diran pun berdiri dan lekas meraih tubuh Syiren kemudian memeluknya.


"Hiks... Hiks..." Tangisan haru Syiren tak bisa di hentikan hingga ia tak bisa berkomentar.


"Ku mohon... Terimalah lamaranku ini. Aku tidak mau menjalin hubungan tanpa status. Aku ingin ikatan kita sah dan halal di mata agama juga negera" Jelas Diran.


Syiren yang selalu bungkam dalam tangisannya pun mulai mengangguk "Ya. Tuan, saya mau... Saya mau menjadi istri anda" balas Syiren bicara dengan suara yang sedikit parau.


Diran tersenyum lalu kembali memeluk Syiren erat "Terimakasih Syiren. Aku janji aku akan membuatmu bahagia, aku akan menjadikan mu wanita satu satunya dalam hidupku... Aku akan menepati janjiku. Aku pasti akan menepati janjiku..." Tak ada hal lain yang bisa Syiren lakukan. Ia hanya bisa menangis sesegukan setelah Diran berucap demikian.


Mereka mulai saling merangkul dan membalas pelukan. Syiren menagis dengan sebuah senyuman yang mengembang hingga pipinya terlihat tembem, nampaknya Syiren sangat bahagia mendengar ungkapan Diran yang tak pernah ia duga. Dan hal itu lah yang paling Syiren inginkan...


"Kamu senang?" Tanya Diran tiba tiba.


Syiren mengangguk "Tentu saja tuan. Saya sangat senang..."


"Kalau begitu... Apakah kamu mau menjadi istriku?" tanya Diran mengulang. Karna ia belum mendapatkan jawaban yang tepat dari Syiren.


"Ya. Tuan... Saya mau jadi istri anda. Saya senang anda mau membalas perasaan saya dan saya tak menyangka jika anda akan melamar saya hari ini... Dan begitu mendadak hingga jantung saya sedikit hampir meledak tadi"


"Begitu kah? Kalau begitu maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu kaget hingga membuat jantungmu hampir meledak" Diran tertawa dan ia kembali duduk di hadapan Syiren.

__ADS_1


"Bukan! Bukan begitu maksud saya... Saya tadi hanya gugup saja kok"


"Kelihatan kok. Kedua pipimu merah padam terlihat seperti sedang demam tinggi" Ujar Diran.


"B-benarkah? Aahh pasti sangat memalukan' Pekik Syiren menutupi wajahnya dengan ke sepuluh jari yang ada. Ia mengumpat sejadi jadinya di sana.


"Hehehe... Kamu memang masih bocah" Tawa Diran terlihat menggelitik.


Bocah? Apa aku terlihat ke kanak kanakkan di mata tuan Diran. Bathin Syiren menggumam.


Diran lekas menurunkan beberapa jemari lentik Syiren yang kala itu sibuk menyembunyikan mimik wajah wanita muda itu. Hingga Syiren merasa sangat malu dan kembali menurunkan kedua tangannya.


Kruuuyyuuukk! Tiba tiba bunyi itu mulai terdengar "Hem..." Diran lagi lagi tersenyum.


"Maafkan saya tuan. Tapi perut saya tidak bisa di ajak konfromi" ujar Syiren tersenyum malu.


"Jangan khawatir... Sebentar lagi pramusaji akan datang mengirimkan hidangan pesanan kita" Jelas Diran. Syiren mengangguk...


"Wah. Apa ini? Udang?' Syiren terbelalak ketika menatap udang yang ukurannya sangat besar dan merah pekat bertumpuk di satu piring yang besar.


"Itu bukan udang Syiren. Itu lobster" Jelas Diran.


"Ah... Lob apa?" Syiren terlihat susah untuk mengucapkannya.


"Lobster"


"Lobseter? Apa itu? Ah... Tapi ini keras tuan seperti cangkang kepiting?" tanya Syiren menusuk nusuk pinggiran cangkang lobster yang sedikit terkelungkup.


"Cobalah. Kamu pasti suka"


"Lalu. Apa yang tuan pesan?" Syiren menatap beberapa piring di depan Diran.


"Ini adalah kerang bakar... Dan yang sebelah sana adalah cumi bakar bumbu pedas"

__ADS_1


"Wah. Banyak sekali hidangannya. Apakah kita akan menghabiskannya?" Tanya Syiren sedikit takjub.


"Hem... Dari pada banyak bertanya... Silahkan coba dulu lobster di depanmu Syiren. Jika kamu suka, maka kamu pasti akan segera menghabiskannya" Ujar Diran.


"Benarkah? Bolehkan aku memakannya langsung oleh tangan?"


"Tentu... Tapi, cuci dulu tanganmu... Jangan sampai ada kuman yang masuk mulutmu nanti..."


"Baiklah. Bismillah..."


Syiren lekas memasukkan sepotong daging lobster itu ke dalam mulutnya pelan. Ia mengunyahnya perlahan... Dan seketika, rasa daging lobster pun pecah di mulutnya dan memberikan rasa yang tak biasa hingga ia pun terbelalak...


"...Ini, sungguh lezat..." Dua bola mata Syiren mulai berbinar dan tampak menikmatinya.


"Nah. Kamu menyukainya kan?" Diran ikut senang.


Syiren mengangguk dan lahap kala menyantap hidangan di depannya. Diran tak bisa berbuat apa pun saat Syiren tak sadar bahwa ia telah memakan bagian Diran.


"Makan pelan pelan nanti kamu bisa tersedak" ujar Diran. Nampaknya Syiren mengabaikan ujaran Diran...


"Uhuk uhuk..." Syiren tersedak oleh cangkang lobster tersebut.


"Makanya. Makan pelan pelan... Kan sekarang kena batunya?" Diran menyerahkan segelas air. Syiren lekas meraihnya lalu meminumnya hingga habis.


"... Maafkan aku tuan... Aku sungguh memalukan" Syiren kembali merendah.


Diran tersenyum, Syiren pun menunduk malu kala Diran terus saja menatapnya tanpa berkedip "T-tuan. Ada apa? Apakah ada kotoran di mataku?" Syiren hendak meraba kelopak matanya. Tapi Diran terlanjur menghentikannya, karna Syiren bisa saja menjerit jika tangannya yang di penuhi cabai itu menyentuh bola matanya.


"Jangan! Biar aku saja..." Pinta Diran, Diran mulai mengulurkan tangannya lalu mengelus bibir bawah Syiren yang di penuhi butiran-bitiran biji cabai. Diran menghempas pelan sisa makanan di bibir dan pipi kiri Syiren. Seraya senyum terus saja terlukis di wajah tampan tuan dermawan itu.


Syiren merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan pria tampan baik hati dan juga pengertian seperti Diran. Lena bodoh sekali karna ia telah membuang pria tampan mapan kaya raya dan baik hati sepertinya..


Tapi, jika nantinya Lena menyesalpun... Lena tak akan mampu kembali pada mantan suamunya itu. Ia tak punya waktu untuk kembali ke sisi pria tersebur. Sebab posisinya sebagai istri durhaka... Akan lekas tergeser oleh Syiren, gadis baik yang tulus mencintai Diran apa adanya...

__ADS_1


__ADS_2