
***
Beberapa hari kemudian...
"Bi aku akan pergi selama beberapa hari..." Pamit Diran pada Bi Mari.
"Lho. Tuan kenapa? Apakah anda akan pergi ke luar kota?" Tanya Bi Mari sedikit panik.
"Ya. Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan" Jelas Diran seraya menelpon sekertarisnya.
"Tuan. Sebaiknya, Syiren ikut dengan anda... Biarkan dia menjaga tuan di sana"Pinta Bi Mari.
"Syiren? Maksud bibi... Suster merepotkan itu?" tanya Diran sinis.
"...Setidaknya, Syiren bisa membantu anda mengambilkan sesuatu" Tambah Bi Mari.
Sedangkan Syiren hanya bisa bersembunyi di balik tempok dan sesekali mengintip. Saat dua manik Diran mendelik ke arahnya, ia pun kembali menyembunyikan dirinya.
Oooh apa yang salah dengan ku. Setelah kejadian itu, aku malah selalu ingin menatap tuan Diran, tapi aku jadi gugup... Bagai mana ini? Padahal aku belum meminta maaf padanya... Bathin Syiren menggumam. Pipi Syiren sudah terlanjur merah merona.
"Sudah bi... Tolong angkat semua koperku ke mobil. Nanti Arsyad akan datang dan membantu perjalanan ku..." jelas Diran.
"Baik tuan..." Bi Mari mulai berkutat mengangkat koper Diran satu persatu menuju keluar rumah.
Syiren yang sedari tadi sembunyi pun mulai mendekati Diran perlahan "tuan..." Desusnya. Diran mendelik dingin "Ada apa..."
"Soal yang kemarin, saya mau minta maaf karna telah menampar anda..." Jelas Syiren menundukan Atensinya.
"...Jangan di bahas lagi, aku saja tidak ingat kanapa hal itu bisa terjadi" Elak Diran. Diran mulai mengabaikan Syiren dan mengayuh kursinya dengan tangannya.
"Ahh biar saya saja" ucap Syiren seraya mendorong kursi roda Diran.
"Biar aku saja... Aku juga bisa melakukannya sendiri" Umpatnya.
__ADS_1
"...Bair tuan menolak, tapi ini adalah tugas saya, saya akan melakukannya..." Jelas Syiren.
Diran tak bisa berkata kata lagi... Akhirnya Diran pun menyerah "Ya sudah terserah" bisinya nyaris tak terdengar oleh Syiren.
"Biar saya yang merawat anda. Saya akan bekerja segiat mungkin untuk merawat anda..." jelas Syiren bersemangat.
Merawat? Yang benar saja... Memangnya aku ini bayi? Tanya Diran dalam hati.
Akhirnya, Diran pun pergi bersama Syiren ke sebuah pertemuan besar di sebuah Hotel bintang lima. Nampaknya, pertemuan tersebut sangat penting untuk kemajuan perusahaan yang saat ini Diran kelola.
***
"Pikir dong! Rencana apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuat suamiku memberikan seluruh hartnya padaku? Rencana mu saja sudah gagal untuk membunuhnya" amuk Lena memaki Yuda.
"...Jangan marah dong sayang. Kita kan baru sampai, sebaiknya kita berendam dulu atau kita makan makan dulu... Atau kita bisa jalan jalan sebentar..." Pinta Yuda seraya mendekap Lena dari belakang.
"Kau selalu saja mengalihkan pembicaraan... Aku jadi kesal. Huh!" Lena membuang wajahnya. Tapi Yuda lekas meraih nya lembut lalu mengarahkan wajahnya ke bibir Yuda. Yuda pun mengecup Lena sangat mesar, Lena yang memang ke hausan Se-xs pun mulai menyingkirkan amarahnya dan membalikan badannya, ia mulai melingkarkan tangannya di leher Yuda.
"Aku juga paling mencintaimu" balasnya. Yuda lekas menyeret tubuh Lena pelan menuju matras yang ada di belakangnya dan menjatuhkannya pelan lalu menghimpitnya.
Setelah itu, pakaian mereka pun mulai terlepas, Lena dan Yuda kembali bercumbu tanpa status pernikahan... Mereka menghambiskan waktu bersama di kota Las vegas...
***
"Hacuh!" Sedari tadi Diran bersin bersin dan membuat Syiren khawatir.
"Tuan apakah anda sakit?" tanya Syiren.
"Tidak. Hanya banyak debu saja di sini" jelasnya.
"Coba saya cek suhu anda" ucap Syiren seraya menyentuh jidak Diran dengan punggung tangan Syiren.
"Apa yang kamu lakukan...?" tanya Diran sedikit tersinggung.
__ADS_1
"Ini jelas. Anda demam..." Syiren lekas meraih koper Diran dan sedikit mengacak acaknya.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan sembarangan mengekuarkan barang barang ku tanpa izin. Di sana, ada berkas berkas penting..." Umpat Diran kesal pada kelakuan Syiren.
"Ketemu!!" Pekik Syiren.
Diran sedikit tercengang "Tuan... Makan lah roti ini, lalu minum obat ini... Anda pasti akan sembuh!" pinta Syiren.
Diran mengacuhkannya "Tidak .. Aku baik baik saja" jelas Diran.
"Jika anda tidak minum obat ini, anda bisa benar benar sakit nanti... Biar saya suapi. Saya tidak mau anda sakit, nanti saya bisa di tegur oleh Nyonya Lena" jelas Syiren.
Ia mulai mengarahkan tangan berisikan sebungkus roti pada mulut Diran "Aaaaa... Ayo buka mulut anda tuan" Pinta Syiren.
"Aku bisa sendiri" Diran salah tingkah dan mulai makan dengan caranya sendiri. Setealg selesai makan, Syiren menyerahkan beberapa butir obat.
"Ini tuan ayo minum agar anda baik baik saja..." pinta Syiren.
Diran pun meminumnya...
Gluk...
"Apakah ini tidak menyebabkan kantuk?" tanya Diran pada Syiren.
"...Ah. Saya lupa, saya belum membacanya. Coba saya baca..."
Syiren lekas membaca aturan pakai obat tersebut "Jangan minum obat ini ketika berkendara karna akan menyebabkan kantuk berat... Apa?" lantang Syiren. Diran hanya bisa menepuk kepalanya karna dia pun ikut ikutan jadi bodoh.
"Sudah ku duga..." Bisik Diran.
"Ah tuan. Bagai mana ini? Muntahkan muntahkan lagi obatnya!! Oh tidak ini sungguh tidak benar!!" Syiren panik sekali... Karna sebentar lagi Diran akan sampai di area pertemuan besar itu.
Kepanikan pun sampai hingga ke tempat pertemuan...
__ADS_1