Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Malu malu


__ADS_3

***


Diran sudah mendapatkan apa yang ia inginkan... Iapun lekas pulang, ia ingin memberikan hadiah itu untuk Syire secepatnya...


Sesampainya di kediamannya, Diran lekas keluar mobil lalu berjalan mengendap endap. Ia membuka pintu rumahnya pelan lalu masuk pelahan seraya memperhatikan area sekelilingnya. Ketika sudah di pastikan bahwa Syiren tak ada di ruang tengah... Iapun kembalu melanjutkan langkahnya menunju ke kamar pribadinya...


Diran berkemas lalu pergi membersihkan diri, ia ingin memberikan bunga itu setelah ia membersihkan Dirinya... Lalu makan malam bersama dengan sangat romantis bersama Syiren seraya syering rencana pernikahan mereka yang akan di gelar satu minggu lagi...


***


Di dapur kotor Syiren masih berkutat memasak hidangan makan malam untuk Jimmy dan Diran "Hei. Tolong ambilkan aku air" Pinta Jimmy.


Syiren yang sedang tanggung pun mulai menghampiri Jimmy lalu menyerahkan segelas air ke arahnya "Ini tuan..."


Jimmy lekas meraih gelas tersebut "Hei nona. Apakah benar? Kakak ku akan menikahimu?" Tanya jimmy tiba tiba.


Syiren tersenyum "Bukannya jawab malah tersenyum. Aneh" gumamnya.


"Insyaallah jika kami jodoh. Kami akan menikah satu minggu lagi" jawab Syiren.


"Begitu ya..." Jimmy meneguk gelas itu lalu menyerahkannya begitu saja pada Syiren.


"Saya harus pergi" Syiren kembali ke dapur seraya menaruh gelas tadi di tempat cucian.


"Hei nona... Minta air lagi" ujar Jimmy.


Syiren yang tanggung pun lekas mematikan kompor lalu mengisi air dengan gelas yang baru.


"Ini...' Syiren menyerahkannya dan mulai berbalik kembali ke dapur kotor.


"Tunggu. Ini gelas kosong belum kamu ambil" ucap Jimmy. Syiren sedikit kesal tapi ia pura pura saja diam. Syiren meraih gelas itu dan kembali ke dapur "Isikan aku air lagi ...." Pintanya


Ukh! Kenapa tidak ambil sendiri saja... Masakanku bisa bisa gosong gara gara ulah turis itu. Bathin Syiren menggumam.


"Hei nona... Lama sekali kamu mengambil air saja" Umpat Jimmy.


Tak berselang lama, Segelas air pun kembali di sodorkan ke Jimmy "Ini. Lain kali jangan ganggu pekejaan orang lain" Pinta Diran seraya menyerahkan air itu ke adiknya.


"Kakak... Apa apaan sih. Aku kan menyuruh dia bukan menyuruh kakak"

__ADS_1


"Tapi wanita yang kau suruh itu sedang sibuk. Makanya kakak yang bantu pekerjaannya..." Tegas Diran.


"Huh. Kakak selalu saja mengganggu kesenangan ku..." Umpat Jimmy.


"Ayo kita bicara" Diran pun duduk di sofa dan berhadapan dengan Jimmy.


"Bicara apa?" Jimmy membuang wajahnya kesal.


"Ada masalah apa kamu dengan Syiren... Hingga iseng begitu" Tanya Diran menekan Jimmy. Sejak Jimmy kembali dari luar negri, sikapnya pada Syiren selalu terlalu keras dan cenderung mempermainkannya.


"Tidak ada" Jimmy kembali membuang wajahnya dan enggan menatap dua manik mata Diran kala bercengkrama masalah serius itu.


"Tidak ada? Benarkah?"


"Tentu saja. Memang wajahku terlihat sedang berbohong apa?" Jimmy masih membuang wajahnya denga mimik yang kesal.


"Jimmy. Kuliah mu di luar negri sudah selasai kan... Jadi, kamu harus kerja di perusahaan ku mulai besok... Posisi kepala Divisi IT sedang kosong. Jadi... Mulai besok kamu harus datang ke perusahaanku" pinta Diran.


"Nggak ah kak. Aku sedang ingin di rumah dulu... Soalnya, aku kan baru lulus kuliah. Dan masih ingin menghabiskan waktu jalan jalan di ibu kota. Lagi pula... Semenjak aku datang ke indonesia. Aku belum pernah jalan jalan selain ke kuburan .." umpatnya.


"Begitu ya. Tapi... Karna di sini ada Syiren... Kakak takut, ada omongan tetangga jika kamu dan Syiren berdua saja" Diran tampaknya khawatir pada Syiren.


"Apa sih kak. Jangan cemburu begitu... Wanita itu memang muda dan cantik. Tapi aku nggak bakalan nikung kok. Oh ia... Sebenarnya jika di banding kakak seharusnya nggak cocok dong. Lagi pula usia kalian terpaut jauh kakak... Seharusnya, Syiren lebih cocok dengan ku kak..." Ujar Jimmy seakan menusuk hati Diran.


"Baik. Kami akan segera ke sana" Diran lekas berdiri.


"Jimmy... Ayo" Sambung Diran.


Jimmy pun mulai berjalan mendahului langkah kaki Diran untuk sampai ke meja makan. Syiren menyambut keduanya dengan senyuman manis khasnya.


"Silahkan... Kalian pasti lapar. Maaf ya karna terlalu lama menunggu" Syiren mulai mengisi kan beberapa piring sudah di siapkan dengan beberapa sendok nasi.


"Wah. Wangi sekali... Ini pasti sangat enak" Gumam Jimmy mengendus aroma masakan yang Syiren buat.


"Nah. Tuan....saya berusaha keras memasak kan anda Seafood. Bukannya anda suka Seafood...?" Syiren dengan sengaja memasakan makanan laut sama seperti menu yang ia pesan kemarin. Diran tersenyum "Terimakasih ya..."


Jimmy tak suka melihat Syiren dan Diran saling bertatapan. Hingga ia mengambil makanan ke sukaan Diran "Aku suka ini" Jimmy mengambil Lobster yang telah di masak Syiren untuk Diran.


"...Ah. Tapi itu..." Syiren mengeluh setalah melihat Jimmy memakan bagian Diran.

__ADS_1


"Tak apa... Aku bisa makan gurame bakar ini" ujar Diran hendak meraih piring berisikan gurame bakar buatan Syiren. Namun entah kenapa Jimmy pun mengambilnya "Aku juga suka ini..."


Diran dan Syiren malah menatap Jimmy yang terlihat rakus kala memakan santapannya...


Glek! Diran hanya bisa menelan salivanya sendiri ketika menyaksikan Jimmy yang puas memakan apapun yang ada di depannya.


EEEKKHH! Jimmy bersendawa dan lekas menyender ke kepala kursi meja makan itu untuk menyudahi makan malamnya.


"Aaah aku kenyang... Sebaiknya aku tidur" Jimmy pun meninggalkan meja makan dan ia lupa dengan rencananya untuk memisahkan Syiren dan Diran. Ia masuk kamar nya dan tak keluar lagi...


"Maafkan saya tuan. Besok saya akan masak lebih banyak lagi..." Ujar Syiren.


"Tak apa Syiren. Aku yang harusnya meminta maaf... Karna kamu di buat lelah oleh kelakuan adikku yang ke kanak kanakan itu"


"Bukan masalah tuan" Syiren mulai bangkit dari duduknya lalu melangkah untuk membereskan bebetapa piring sisa makan Jimmy.


"Biar aku bantu" Diran meraih piring itu bersamaan hingga tak sengaja tangan Syiren malah tersentuh olehnya.


"Ahhh.." Pekik keduanya saling menatap satu sama lain selama beberapa menit.


"Maafkan aku..." Diran menghempas tangannya.


"Tak apa tuan..." Syiren pun tersenyum. Pipinya merah merona dan Diran tahu hal itu... Karna Syiren pasti sangat malu padanya...


"Mari ku bantu" Akhirnya Diran membantu membersekan meja makan dan mencucikan piring.


"Jangan tuan. Biar saya saja" Pinta Syiren canggung. Tapi Diran hampir membereskan semuanya sendiri.


"Jangan khawatir Syiren. Lambat laun juga, nanti aku akan terbiasa... Apa lagi jika kita sudah menjadi pasangan yang sah" ujar Diran.


Syiren pun makin malu malu dan tak sabar ingin hari itu segera tiba... Diran kembali menatap Syiren dalam dalam setalah ia membereskan pekerjaannya.


"T-tuan. Ada apa? Kenapa menatap saya dengan padangan seperti itu...?" Tanya Syiren langsung menunduk.


"Syiren. Kita ke balkon rumah sekarang yah..." Ujar Diran.


"...Ba-balkon?" Tanya Syiren gagap.


"...Ya. Ayo..." Diran lekas menarik tangan Syiren untuk naik ke balkon bersama.

__ADS_1


"Tapi tuan... Hari sudah malam" Komen Syiren.


"Di sana pasti lebih indah. Akan ada beberapa bintang kecil yang berkedip" Ujar Diran. Syiren dan Diran pun naik bersama ke Balkon rumah kediaman Diran. Ada hal yang ingin Diran berikan pada Syiren. Kira kira apa itu ya...


__ADS_2