
"Syiren tunggu!" Pinta Diran menarik tangan Syiren. Syiren berusaha kabur karena malu "Lepaskan Tuan, biarkan saya pergi..."
"Syiren kamu harus tunggu dulu penjelasanku" Pinta Diran masih menggengam tangan Syiren.
"...Saya malu tuan. Saya sudah melakukan sebuah kesalahan. Saya sudah melecehkan tuan dan bicara hal yang tidak senono pada anda" Syiren masih menyembunyikan wajahnya. Ia enggan menoleh ke arah Diran karna ia memang sangat malu.
"Kamu tak perlu malu. Jika kamu menyukaiku mungkin itu adalah hal yang bisa di maklumi. Aku juga menyukaimu... Tapi, aku belum bisa memastikan, mungkin saja kamu suka karna menghormatiku dan kamu sudah salah mengartikannya"
"Tuan. Tolong jangan singgung lagi pernyataan cinta saya tadi. Saya sangat malu... Apa lagi anda sudah menolak saya" Syiren menarik tangan nya sekuat tenaga dan langsung kabur dari Diran.
Diran kembali mengejar Syiren, Syiren entah pergi kemana... Diran sama sekali tak menemukannya. Mungkin juga Syiren bersembunyi karana terlalu malu pada Diran.
Tuan Diran benar... Seharunya aku bisa menahan diri. Aku jadi malu gara gara menyatakan perasaan ku yang tak seharusnya ini pada tuan Diran. Apa lagi tuan Diran baru saja kehilangan istrinya... Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku harus pergi darinya... Tapi kemana? Aku sama sekali tak punya tempat untuk pulang selain rumah tuan Diran. Bathin Syiren menggumam.
Diran sudah tak ada di tempat tersebut... Syiren pun mulai keluar dari tempat persembunyiannya "Aku hanya perlu menjauhi tuan Diran. Dan itu saja sudah cukup... Lagi pula nanti, jika tuan Diran lama tak berjumpa denganku... Dia juga akan lupa sendiri jika aku pernah menciumnya atau mengucapkan cinta padanya. Oh Syiren kenapa kamu bodoh sekali... Bisa bisanya kamu menyatakan perasaan bodohmu itu padanya" Umpat Syiren pada dirinya sendiri. Ia memukul mukul kepalanya yang serasa kosong.
"Nona..." seseorang menepuk punggung Syiren.
__ADS_1
"Ya..." Syiren pun menoleh ke arah seorang pria.
"Ah... Tuan. Apa yang anda inginkan?" tanya Syiren mundur.
"Nona. Apakah anda tahu alamat ini?" tanya pria tinggi, kurus putih dan tampan.
"...Saya kurang tahu. Mungkin anda bisa memakai Aplikasi untuk mencari alamat tersebut" Ujar Syiren.
Pria itu pun mengangguk dan mulai pergi dari hadapan Syiren "Eh tunggu. Alamat pria asing itu bukannya rumah tuan Diran?" tanya Syiren seraya mengejar pria asing itu.
"Eh tuan! Tunggu..." Teriak Syiren seraya mengejar pria itu.
"Benar? Saya ingin ke alamat ini... Apakah nona tahu, di mana lokasi ini berada?" tanya pria itu.
"Saya tahu. Tapi... Apakah anda ingin menemui seseorang?" Tanya Syiren.
"Ini alamat saudara saya..."
__ADS_1
"Siapa? Apakah saudara anda laki laki?" Tanya Syiren.
"Ya. Namanya Diran Prayoga. Apakah nona tahu?" Tanya turis itu.
"Ah tuan Diran. Ya saya tahu" Syiren mulai menghentikan taksi dan mereka pun masuk taksi tersebut.
Syiren sungguh lupa jika niatnya tadi ingin meninggalkan Diran dan membuat Diran melupakannya bersama ciuman pernyataan cinta Syiren yang terhitung mendadak itu...
Sepanjang jalan, Syiren terus saja bercerita pada pria asing di sampingnya itu tentang ke baikan Tuan Diran selama ini. Bahasa indonsia yang pasif membuat Syiren nyaman kala bercerita dengan pria di sampingnya itu...
"Ahh! Kita sudah sampai" Tunjuk Syiren ke arah rumah besar yang bercat putih, dan berpagar kokoh di sebelah kiri.
"Ahhh... Sudah lama aku tidak pulang. Rumah kakak ku sangat besar, apakah kakak ku baru merenopasinya?" tanya Pria turis itu.
"Hmm... Mungkin. Mari mas, kita masuk" Pinta Syiren.
Pria itu mulai keluar dari taxi bersama Syiren, pria turis pun membayar taxi itu, lalu mereka pun masuk setelah pintu gerbang terbuka "Syiren... Baru pulang? Lho mana tuan Diran?" tanya pak ogah sang scurty.
__ADS_1
"Tuan Diran? Ah... Ia aku lupa. Tuan Diran ketinggalan di rumah sakit" Pekik Syiren menepuk jidak nya sendiri.
Turis itu tersenyum dan malah mulai tertarik lada Syiren "Perempuan yang aneh"