
***
Besok adalah hari H, Syiren sangat semangat menunggu hari itu tiba "Tuan, hari ini saya mau sungkem sama ibu" ucap Syiren meminta izin pada Diran.
"kita berangkat bersama" Balas Diran menyambut Syiren.
"Tapi. Bukannya tuan sedang sibuk?"
"Tidak, aku punya waktu kok dan ambil cuti beberapa hari..." Ujar Diran.
"Benarkah? Syukurlah" Syiren langsung menghampiri Diran. Diran pun tak mau mengabaikan calon istrinya, hingga ia pun lekas meraih pergelangan tangan calon istrinya dan mulai rangkulnya.
"T-tuan..."
"Kamu malu?" Tanya Diran melepas genggaman tangannya.
"T-tidak. Saya sebenarnya tidak biasa begitu, jadi... Saya sedikit kikuk tuan"
"Kikuk? Kalau begitu, coba sekali saja... Jangan anggap aku majikanmu. Anggap aku sebagai orang terdekatmu" Pinta Diran menghadap Syiren lalu menatapnya dalam dalam.
"...Orang terdekat?" Syiren berusaha berfikir.
"Pacar misalnya, atau kekasih..." Ujar Diran. Mendengar ungkapan itu, Wajah Syiren langsung saja memerah "T-tuan..." Syiren lekas menundukan wajahnya kala Diran menatapnya sayu dan penuh harap.
"Hem... Kamu, aku tak tahu... Harus bagai mana menghadapimu" Diran sedikit terkekeh.
Syiren masih malu malu dengan wajah pekatnya "Syiren" Dirang langsung menangkup wajah Syiren dengan kedua telapak tangan yang ada, lantas wajah Syiren seketika mengarah ke hadapan Diran.
"T-tuan..." Syiren nampak makin canggung. Lalu Diran menyematkan satu telunjuknya ke arah bibir tipis Syiren yang menawan itu.
"Ssssttt... Jangan bicara lagi"
"Mmmh?" Syiren mulai diam. Diran mendekat dan mulai membisik "Jangan panggil aku tuan, jika masih melakukannya... Maka aku akan mencium mu" Jelas Diran sedikit hangat ketika hembusan napasnya mendarat tepat di daun telinga Syiren.
Deg Deg! Deg Deg! Deg Deg! Jantung Syiren kian mendidih, kala Diran mendekatinya dengan kalimat kalimat yang begitu manis juga romantis.
"Kita bisa terlambat, ayo..." Diran mulai meraih tangan Syiren dan mereka pun bergenggaman tangan.
"Jangan menolak" Ujar Diran sembari menarik tangan Syiren. Akhirnya mau tak mau Syiren pun mengikuti Diran... Bahkan beberapa senyuman dilemparkan Diran ke arah Syiren hingga membuat Syiren makin gelepek gelepek.
"Tuan, silahkan" Dion membuka kan pintu mobil lalu Mereka pun masuk.
Diran dan Syiren pun duduk bersebalahan, Sepanjang perjalanan... Syiren sungguh canggung dan malu, ia tak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi pria di sampingnya itu. Sebab Diran menatap Syiren tanpa jeda bahkan tak luput sedikit pun "T-tu..." Diran lekas menyematkan jemarinya dan membuat Syiren berhenti berulah "Jangan bilang tuan... Coba ganti dengan yang lain"
"...Apa yang harus saya ucapkan?"
__ADS_1
"Terserah. Apa pun asal jangan Tuan" Pintanya.
"...Bagai mana kalau Kakak?" Tanya Syiren. Diran mulai berfikir dengan bola mata mengarah ke atas tampak mempertimbangkan.
"Itu tidak cocok... Aku bukanlah kakak mu. Dan kita bukanlah saudara" Umpat Diran.
"Lalu... Apa yang harus saya ucapkan"
"Yang lain... Aku belum menerima saran mu, Kakak itu menurutku terlalu formal..." Diran lantas menolaknya.
"Bagai mana kalau bapak?" Ujar Syiren sembari menyimpulkan senyuman pada Diran.
Bapak? Memang berapa usiaku? Bahkan aku belum memiliki anak. Menurutku bapak terlalu tua. Bathin Diran menggumam.
"Bapak? Tapi, aku belum setua itu Syiren. Aku masih muda dan kamu lihat kan, aku ini pria tampan dan rafi" Diran menepuk jidaknya sendiri.
Ahhh astaga, apa yang aku lakukan? Aku malah membuat tuan Diran marah. Bathin Syiren menggumam.
"Lalu apa yang harus saya pakai untuk meyapa anda Tuan" keluh Syiren menunduk.
"Cari yang lain... Jangan Kakak, atau bapak? Aku sungguh tersinggung dengan sebutan itu" Gumam Diran.
"...Oh ia aku tahu," Pekik Syiren menjentikan jemarinya.
"Om... Ia bagai mana jika Om!"
Diran yang berangan angan pun mulai di buat Drop oleh kelakuan calon istri barunya itu "Oh. Astagfirullah... Om itu adalah panggilan yang sungguh menjijikan. Aku seperti pria mesum yang menggait gadis bellia sepertimu" Diran sudah tak bisa berfikir lagi. Ia sudah pusing di buat nya...
Malah Dion tertawa di balik kursi kemudinya "Dion! Hentikan lah aku mendengarmu..." Gerutu Diran memperingatkan.
"Maafkan saya tuan... Saya sungguh belum pernah memanggil pria dengan sebutan lain. Saya tidak bisa berfikir lagi" Keluh Syiren menunduk.
"Syiren. Bagai mana jika kamu memanggil Tuan Diran dengan sebutan Sayang" Ujar Dion. Lantas Diran terbelalak ke arah Dion...
Bukan nya Istimewa jika Dion yang mengrintakan Syiren untuk memanggilku dengan sebutan Sayang. Dasar Dion... Kenapa kamu tidak diam saja. Gumam Diran.
"Sayang?" Bisik Syiren canggung. Padahal Syiren hanya mengulang ujaran Dion. Tapi Diran malah membelalakan matanya lebar lebar ke arah Syiren saat Syiren berucap demikian.
Sayang katanya? Bathin Diran menggumam.
Padahal Syiren hanya asal bicara, dan Diran malah baper di buatnya "Tapi... Panggilan itu sungguh tidak sopan"
"Jangan pikirkan hal lain. Aku malah suka jika kamu memanggilku dengan ungkapan itu... Karna, panggilan itu terdengar manis juga indah" jelas Diran sembari menerbitkan sebuah senyum di wajahnya.
"Tapi..."
__ADS_1
"Coba ulang sekali lagi" Pint Diran.
"Yang mana tuan?"
"Yang tadi, Panggil aku dengan sebutan Sayang'
"...." Siren malah diam.
"Ayo ulang. Panggil aku dengan sebutan Sayang" Pinta Diran mengharap.
Syiren gemetaran dan tangannya di kepal erat hingga berkeringat karna malu "S-sayang!" Pekik Syiren dengan suara yang Kelu.
"..."Diran lantas terdiam dan membatu sesaat.
"Tuan! Apakah anda marah?" Tanya Syiren panik kala melihat Diran menatap syiren dengan wajah yang datar.
"Tuan. Maafkan aku!" Syiren kembali menunduk dan enggan menatap dua manik Diran.
"Suka..." Imbuhnya.
"S-suka?"
"Ya. Aku suka... Aku suka kamu memangilku dengan sebutan Sayang. Coba sekali lagi"
"Tapi tadi saya sudah menanggil anda"
"Lagi. Aku mau dengar lagi" Pinta Diran menggeser duduknya hingga mendekati Syiren.
"Tapi Tuan"
"Ssstt... Sudah ku bilang, jika kamu memanggilku dengan ungkapan itu. Aku akan menciummu lho" Jelas Diran menggoda Syiren.
"... Maafkan aku, karna terbiasa... Aku sampai lupa menahan kata Tuan"
"Kalau begitu, belajarlah untuk terbiasa menyeru ku dengan sebutan Sayang..."
Glek! Syiren menguk Salivanya sendiri.
"Ulang lagi. Aku akan mengajarkan mu sampai kamu terbiasa... Ayo ulang lagi" Kembali Diran menggoda Syiren tanpa jeda. Hingga membuat Syiren benar benar canggung pada situasi tersebut.
Meski Syiren adalah calon istrinya, tapi karna awalnya status mereka sangatlah berbeda. Jadi, Syiren pun sudah terbiasa memanggil Diran dengan sebutan tuan. Tapi Kini, Syiren harus belajar untuk memanggil Diran dengan sebutan Sayang setiap waktu bahkan setiap hari... Kata sayang itu akan Syiren pakai di setiap pertemuannya dengan Diran. Saat bangun tidur di pagi hari. Menjelang siang... Sore dan malam hingga mereka kembali tidur kemudian membuka mata dan menjalankan aktifitas baru mereka.
Wah. Nantinya, hidup Diran akan sangat berwarna karna Syiren cukup kikuk untuk Diran goda. Hingga beberapa kali Diran di buat tertawa oleh kelakuan ajaib calon istrinya itu...
Next episode...
__ADS_1