
Sampailah di rumah sakit tempat ibu Syiren di rawat "Tuan, saya sungguh tidak sabar... Saya ingin segera bertemu dengan ibu saya" Ucap Syiren melangkah cepat setelah ia turun dari mobil Diran.
"Syiren, pelan pelan... Nanti kamu bisa terpeleset" Pinta Diran seraya menarik tangan Syiren.
"...Ia tuan, cepatlah sedikit. Saya sudah kangen pada ibu saya jadi saya sudah tak sabaran" Ucap Syiren terburu buru.
Mau tak mau, akhirnya Diran pun mulai mengikuti arah kaki Syiren yang kala itu melangkah cepat "Syiren" Pekik Diran.
Syiren pun mulai menghentikan langkahnya pas di front kamar ibunya. Sesaat senyuman Syiren mulai mengembang indah "Ini dia, kamar nya... Aku sudah tak sabar untuk segera masuk" Ucap Syiren segera menarik handle kamar ibu nya.
Diran tersenyum lebar karna melihat ke bahagiaan di raut wajah itu, Namun siapa sangka. Setelah pintu kamar pasien itu di buka. Syiren malah terbelalak ia bahkan mematung di depan kamar ibunya yang baru saja ia buka.
"Syiren kenapa kamu tidak masuk?" Tanya Diran menghampiri Syiren.
"..." Syiren masih diam dengan tubuh sedikit bergetar. Bahkan wajahnya memerah karna ia harus menahan bulir basah yang hendak terjun.
"Syiren kamu kenapa?" Diran masuk dan memastikan hal apa yang membuat Syiren membatu seperti itu.
Saat kaki Diran masuk ke area ruangan kamar pasien ibu Syiren. Ia pun sedikit syok "Dokter apa yang terjadi?" Tanya Diran menghampiri ranjang ibu Syiren yang mulai hening. Wajah dokter mulai di tekuk setelah ia selesai menutup tubuh hingga wajah ibu Syiren dengan kain putih khas rumah sakit itu.
"Maafkan kami, tapi kami sudah berusaha sangat keras" Ucap sang dokter tampak lesu kala menyerah.
Jdeerr!
__ADS_1
Bagai di sambar petir, tubuh Diran seketika lemas "Tapi, bagai mana ini bisa terjadi? Kemarin dia baik baik saja bahkan tampak bugar dokter" komen Diran menyalahkan para medis.
"...Kami sudah berusaha keras, tapi... Ini adalah kehendak yang maha kuasa. Jadi, anda harus ikhlas tuan..." Pinta sang dokter menepuk punggung Diran.
Diran tak tega menatap ranjang yang mulai hening dan dingin itu, ia pun menepis air matanya lalu menoleh ke arah Syiren "Syiren. Kamu baik baik saja?" Diran menghampiri Syiren dengan langkah longai bergontai.
"Itu bukan ibuku kan tuan? Dia kemarin baik baik saja... Aku masih ingat ketika dia memelukku begitu erat kemari" Tangis Syiren. Diran tak tega membiarkan wanita itu yang mulai meracau.
Akhirnya, Diran lekas meraih tubuh Syiren lalu memeluknya "Jangan khawatir Syiren... Aku ada di sini" Ucap Diran meraih tubuh Syiren. Syiren hampir tak sadarkan diri ketika para suster mulai memindahkan ranjang Ibu Syiren ke arah kamar jenasah.
"Tidak ibu! Jangan pergi! Kenapa ibu begitu tega meninggalkan ku begini!" Teriak Syiren melepaskan pelukan Diran dan menghampiri ranjang ibunya.
"...Syiren! Syiren! Istigfar Syiren... Kamu kuat! Jangan menangisi nya begitu. Nanti ibumu bisa sedih...
"Tapi tuan! Kenapa dia pergi hari ini... Bahkan dia tak bisa hadir di acara pernikahan kita besok"
"Hiks Hiks! Aku tak menyangka, pernikahan kita akan sangat haru... Ibu ku berpulang di waktu yang tak tepat... Aku tidak mau melewatkan hari bahagia itu tanpa nya. Aku tidak mau menikah! Aku tidak mau menikah tanpa ibuku!" teriak Syiren tak karuan. Diran sedikit terpukul atas kepergian ibu Syiren... Diran tak bisa lakukan apapun untuk menenangkan Syiren.
Diran bahkan membiarkan Syiren memeluk jenasah ibunya di ruang jenasah. Tangisannya tak bisa di hentikan...
"Tuan, apakah anda kerabat dekat mendiang" Tanya Sang Suster menghampiri.
Diran menoleh "Ya. Sya adalah kerabat dekat almarhumah"
__ADS_1
"Tuan. Kami ingin menyerahkan barang barang mendiang di kamar mendiang" Sang suster menyerahkan sebuah buku besar yang cukup tebal.
"Suster. Apa ini?" Tanya Diran.
"Itu adalah catatan harian mendiang. Setiap hari mendiang selalu menulis dan menggambar. Jadi, saya harus menyerahkan benda peninggallan terakhir mendiang kepada kerabat dekatnya"
"Begitu ya sus. Kalau begitu terimakasih" Diran pun menerima buku itu dab suster pun berpaling pergi begitu saja.
Diran menatap seksama ke arah buku besar itu, Ia pun curiga hingga membukanya pelan "Buku tentang apa ini?" Diran menyimak diam diam tanpa di sadari Syiren. Sedangkan Syiren masih menangis sesegukan...
"Ibu! Jangan pergi bu... Ibu! Tolong bangunlah bu... Aku tak punya siapa pun lagi di dunia ini selain dirimu bu! Tolong dengarkan aku bu... Aku sungguh menyayangimu... Ibu! Huhuhuhu bangun bu! Ibu jangan pergi! Ibu bangun!" Mendengar jeritan Syiren yang kala itu menangis kejer membuat hati Diran seakan tergores.
Diran yang selesai membaca buku harian ibu Syiren pun lekas menghampiri gadis menyedihkan itu 'Syiren. Istigfarlah..." Pinta Diran seraya memeluk Syiren dari belakang.
Syiren yang sudah tak bisa menangis lagi pun mulai lemas dan ia pun terkulai tak berdaya di hadapan ranjang jenasah ibunya.
"Syiren! Syiren!" Pekik Diran.
Syiren sungguh tak berdaya, diran pun menggendong tubuh mungil itu menuju ruang emergency untuk mendapatkan pemeriksaan. Tak lupa Diran pun membawa serta buky berisikan catatan harian ibu Syiren di tangannya.
Diran lari ke arah di mana ia bisa mendapatkan perawatan terbaik untuk Syiren. Drap! Drap! Drap! Suara itu kian menjauh seiring kencangnya Diran berlari.
Rupa rupanya, di atas tangisan Syiren... Ada seseorang yang tertawa riang atas berpulangnya ibu syiren ke sisi yang kuas. Wanita itu memeperhatikan punggung Diran yang kian jauh dan menghilang di pertigaan kolidor rumah sakit...
__ADS_1
Wanita itu melepas masker putih yang menutupi wajahnya itu. Lekas terbitlah sebuah senyuman menyunging yang tampak bangga dan puas "Syiren. Rasakan pembalasan ku... Siapa suruh kamu mau merebut mas Diran dariku. Kau hanyalah sebulir debu yang ringan yang bisa dengan mudah ku singkirkan. Menikahi Mas Diran? Heh jangan mimpi kamu... Karna aku yang akan tetap menjadi istrinya dan bukannya kamu" Lagi lagi Lena yang jadi penyebab segala kegaduhan ini.
Masuk bui untuk pertama kalinya membuatnya tidak jera sama sekali... Malah Lena makin buas dengan melalukan perbuatan kejinya berkali kali pada setiap orang yang menurutnya adalah ancaman besar.