
***
Satu minggu berlalu... Lena masih belum kembali, bahkan yang Diran tak habis pikir... Selama Lena pergi hampir setiap hari Diran menunggu kabar darinya karna ia sangat Khawatir pada istrinya, meski Lana sama sekali tak penah menelpon atau membri pesan singkat terkait keberadaannya di luar kota.
Karna ke teledoran Lena tersebut, Diran kini mulai makin dekat dengan Syiren dan Syiren selalu mememani Diran kemanapun... Diran sudah menganggap Syiren sebagai bagian dari kluarganya... Syren selalu menemani Diran ke manapun terkecuali ke kamar mandi. Syiren tak mau kejadian tempo hari terulang lagi dan membuatnya sangat malu hingga tak mau bertemu dengan Diran.
"Syiren... Aku akan pergi ke luar sebentar" Jelas Diran berpakaian formal. Nampaknya Diran akan pergi ke kantor atau semacamnya.
"...Apakah anda yakin anda tak mau saya antar?" tanya Syiren bersikeras.
Syiren cukup khawatir jika Diran lergi sendirian, ia tak ingin terjadi hal buruk padanya. Apa lagi karna Fisik Diran yang memprihatinkan membuat Syiren tak tenang.
"Ya. Jagalah rumah bersama Bi Mari. Lagi pula aku akan pergi bersama Kinan" Jelas Diran.
Syiren seketika mulai bungkam kala mendengar nama Kinan yang keluar dari bibir tipis Diran... Enak ya jadi asisten tuan Diran... Dia bisa pergi kemanapun bersama. Seandainya aku bisa sepertinya. Bathin Syiren menggumam.
"Baiklah aku pamit bi..." Diran mulai di dorong oleh sang supir menuju ke mobil yang terparkir di depan halaman rumah Diran.
"Hati hati tuan..." Syiren melambaikan tangannya lemas.
"Kami pamit bi..." Ucap sang supir.
"Ya hati hati di jalan" Ucap Bi Mari.
Sementara Syiren tak bergairah, ia tampak lesu ketika menatap kepergian Diran yang akan brertemu dengan Kinan.
"Lho kenapa cemberut?" tanya Bi Mari menepuk pundak Syiren.
__ADS_1
"Bi... Aku sudah terbiasa dengan tuan Diran. Jika saa ini aku jauh dengannya, rasanya aku sangat cemas padanya bi..." Ujar Syiren dengan nanar sedihnya. Bi mari Tersenyum dan mulai menarik sikut tangan Syiren.
"Walah walah... Seandainya yang di takdirkan untuk jadi istri tuan Diran adalah kamu ndok... Pasti tuan Diran bahagia dalam pernikahan nya" Ucap Bi Mari membuat Syiren menoleh ke arahnya.
"Lho apa maksud bibi?" tanya Syiren sedikit penasaran.
Bi Mari mulai sadar pada ucapannya yang terlalu polos dan fulgar "Ahh tidak. Bibi hanya asal bicara saja..." Balas Bi Mari seraya meraup wajah Syiren "Iih bibi apaan Sih..." balas Syiren sedikit marah.
"Ayo makan sebelum perutmu keroncongan! Jangan khawatirkan tuan Diran, Kinan akan menjaganya dengan baik" Jelas Bi Mari. Lagi lagi, mendengar nama Kinan menbuat hati Syiren tak senang.
Kenapa aku jadi sebal dengan nama itu... Aku sepertinya iri pada Kinan. Bathin Syiren.
***
"Tuan... Kita ke kantor atau ke tempat lain?" tanya Supir pribadi Diran.
Mobil pun mulai melaju ke arah yang Diran inginkan. Tempatnya tak begitu jauh dari kantor Diran hingga melaju beberapa saat pun, mereka mulai sampai di cafe yang Diran ingin datangi itu.
Kinan seperti biasanya menyambut Diran di front cafe tersebut "Selamat datang tuan..." sapa Kinan.
"terima kasih Kinan... Bagai mana Klien kita? Apakah mereka sudah datang?" tanya Diran melihat sekeliling.
"Mereka ada di dalam" Balas Kinan.
"Siapkan profosal yang telah kita rancang bulan lalu... Mereka pasti akan sangat tertarik dengan prodak perusahaan kita..." jelas Diran.
"Baik..." Kinan sigap melaksanakan perintah diran. Ia membawa beberapa berkas yang ada di mobil Diran...
__ADS_1
Sementara Diran mengayuh kursi rodanya sendirian menuju para Klien yang ada di meja nomor 11 nomor kursi yang Kinan pesan. Baru saja hendak mendekati ti kursi no 11 Tiba tiba pikirannya di buyarkan oleh suara tawa seorang wanita...
"Ahahahahha sayang... Kau ini memang luar biasa!" Tawa seseorang yang Diran kenali itu mulai melintas di telinganya dan sesaat membuat pikirannya sedikit Blank.
"Kau ini memang sangat cantik sayang. Makanya aku tak mau membuatmu sedih... Jadi ku belikan ini untukmu..." Jelas seorang Pria yang samar samar Diran kenali. Diran mulai mencari suara itu dan mengalihkan kayuhan kursi rodanya yang tadi akan maju ke nomor 11.
Ia malah belok ke kanan dan mengendap perlahan. Dua netranya mulai menyimak suara tawa riang yang selalu membuatnya rindu itu.
Saat sepasang netranya menyorot meja nomor 5. Di sana ia mulai tercengang, sesaat ia membatu dan tak bisa berkata kata lagi...
"Biarkan aku yang pasangkan kalung ini untukmu sayang" Ucap seorang Pria.
Dengan mata kepala nya sendiri Diran melihat Lena telah bermesraan bersama seorang pria. Dan Diran sendiri tahu pria itu adalah teman dekat istrinya Lena...
Astagfirullah... Ya allah, berat sekali cobaan yang engkau berikan padaku, rupa rupanya ini penyebab nya... Penyebab Lena berpaling dariku dan tak pernah mau melirikku. Lena teganya kamu, kenapa kamu membalas segala kebaikan ku dengan hal yang menjijikan seperti ini... Jika ini adalah kebahagiaan mu, akan ku biarkan kamu menikmati kedusataan mu ini untuk beberapa waktu... Setelahnya, aku akan berusaha melepaskan mu dengan ikhlas bersama pria brengsek pilihanmu itu... Bisik Diran dalam hatinya.
Diran sangat marah, rasa rasanya ia ingin menyeret Lena dan menjambak rambutnya lalu membuangnya ke tong sampah. Tapi, Diran tak mau aib kluarganya menyebar tanpa kendali kemana mana. Akhirnya dengan sebuah ketegaran di dalam hati Diran, Diran hanya memotret kemesraan Lena dan menyimpannya di ponselnya.
"Ini akan menjadi bukti di meja persidangan nanti. Betapa menjijikannya kamu saat ini istriku... Astagfirullah" Diran masih belum mau menerima kenyataan bahwa istrinya memang mendustai pernikahan mereka...
"Lena... untuk beberapa saat ini... Aku akan membiarkanmu bahagia bersamanya, meski uang yang kau makan bersamanya itu adalah harta hasil jirih payahku. Tapi... Setelahnya, akan ku buat kau menangis darah dan memohon ampun padaku!! Aku akan buktikan pada mu, bahwa jalan yang sedang kau pilih ini adalah jalan yang salah!!" Bisik Diran kesal.
Ia mulai membuang wajahnya, lalu menahan amarah dan tangisannya. Ia mulai menghempas nanarnya yang berkaca kaca itu dan merubahnya menjadi ketegaran, ia mulai berusaha fropesional di depan Kliennya. Beban berat di pundak Diran berusaha ia hampas untuk keberhasilan bisnisnya...
"Tuan Diran! Disini!" Seru Kinan melambaikan tangannya.
Diran mulai menghampiri Kinan dan mulai bersalaman kepada para klien yang ada di meja tersebut. Diran terkenal ramah tapi juga di takuti meski keadaan fisiknya cacat. Tapi, di pasar internasional nama Diran memang tersohor dan perusahaannya sangatlah berpengaruh besar.
__ADS_1
Itu sebabnya, Diran selalu mendapatkan tender- tender yang besar dan membuat usahanya kian melezit dan sukses besar.