
***
Satu minggu setelah kejadian tersebut, Diran di sibukan oleh pekerjaannya. Hingga ia jarang sekali cek up ke dokter tentang keadaan kakinya, juga... Meski telah mendapatkan surat dari rumah sakit kepolisian tentang ke adaan Lena. Diran sama sekali belum mau menginjakan kakinya di sana untuk menemui Lena. Tampaknya Diran sudah mengabaikan apapun yang menyangkut mantan istrinya karna ia terlalu membenci mantan istrinya itu.
Bukan hanya itu, Diran bahkan sibuk mengurus surat perceraian nya dengan mantan istrinya. Dan juga Diran pun menyewa seorang pengacara kondang untuk berjaga jaga jika nanti Lena hendak melakukan Sidang banding atas kasus yang saat ini tengah menjeratnya. Diran tak ingin, nama Lena kembali datang dan menghantui hidupnya lagi.
Malam tiba, Diran barus selesai mengerjakan tugas kantornya di ruangan kerja pribadinya...
__ADS_1
"Syiren..." Bisik Diran membangunkan Syiren yang tertidur di sofa ruang tengah "Emmhh..." Erang Syiren berusaha membuka matanya. Tapi, entah karna lelah atau terlalu ngantuk, Syiren kembali memejamkan matanya setelah terbuka beberapa menit.
"Lebih baik pindah gih ke kamar, jika tidur diluar nanti kamu malah masuk angin" ucap Diran kembali menepuk-nepuk pundak Syiren.
Syiren tetap saja memejamkan matanya dan enggan bergeming. Karna Syiren memang sangat susah di bangunkan, Diran pun menyerah "Haaahhh..." Diran menghelan napas panjang dan tak habis pikir... Diran pun mengabaikan Syiren dan mulai mengayuh kursi rodanya menuju kamar Syiren. Tapi nampaknya Diran kembali dengan selembar selimut hangat di pangkuannya. Bahkan Diran tampak ke susahan karna pernglihatannya terhalang oleh selimut tersebut.
Ia duduk di depan Syiren yang kala itu menyenderkan kepalanya di kulit sofa ruang tengah. Diran memperhatikan wajah Syiren secara intrents dan seksama. Beberapa kali Diran tersenyum ketika menatap nanar Syiren yang bening tanpa make up, bahkan wajahnya lebih bercahaya ketika ia terlelap. Diran sampai sampai tak sadar jika jemarinya telah membelai lembut rambut Syiren yang halus nya melebihi sutra.
__ADS_1
"Kamu memang pantas di juluki Malaikat tanpa sayap, sebab... Hatimu yang tulus dan bersih itu tentu saja membuat setiap orang menjadi luluh karnamu... Aku sungguh beruntung masih bisa bertemu dengan seseorang yang telah menyelamatkan ku..." Ujar Diran seraya terus mengelus rambut Syiren yang panjang lurus dan lembut itu.
Jika Diran terus perhatian seperti ini pada Syiren, bukan hal mustahil jika nantinya Diran bisa saja jatuh hati pada wanita di depannya itu...
"Mulai hari ini, aku akan selalu mendukungmu... Jika dulu aku begitu enggan mendekatimu. Maka mulai saat ini, akan ku pastikan... Walimu adalah aku" Ucap Diran.
Sungguh beruntung Syiren, Dari awal pertemuan Diran dan Syiren enam bulan yang lalu. Syiren memang sudah sangat menyukai Diran. Tapi saat itu, wajah Diran yang berlumuran darah... Sangat sulit di kenali. Dan di awal pertemuan itu, Syiren lah yang telah memberikan pertolongan pertama dengan memberikan napas sebuah buatan pada Diran. Padahal Syiren saat itu tak pernah punya pacar, tapi dia malah tanpa sengaja memberikan ciuman pertama tidak langsungnya pada Diran agar Diran bisa sadar saat ia pingsan dalam insiden kecelakaan tersebut. Oleh karna itu, Syiren sudah menyimpan hatinya untuk pria yang ia tolong. Dan ternyata pria yang ia tolong itu adalah Diran yang tak lain adalah majikannya.
__ADS_1