
Hari pertama bekerja membuat Syiren kelimpungan, sebab ini adalah kali pertamanya ia bekerja sebagai suster. Apa lagi yang ia rawat bukanlah seorang bayi atau anak kecil. Melainkan pria dewasa yang sudah berumur dan pria itu pun sangat tampan hingga jantung Syiren berdetak cepat hanya karna menatap mata pria itu.
"Tuan. Waktunya makan siang" ucap Syiren mengetuk pintu ruang kerja Diran.
"Aku akan keluar sendiri" balasnya. Syiren yang menunggu Diran keluar dari kantor itu hanya terus saja berdiri di depan daun pintu tersebut.
Syiren menatung seharian di luar kantor pribadi Diran "Maaf anda sedang apa?" Bi Mari menyapa Syiren. Syiren yang kaget hanya bisa menunduk malu malu seraya beberapa kali tersenyum kaku pada Bi Mari.
"...Sa-saya adalah pegawai baru di rumah ini..." Balas Syiren. Bi Mari mengangguk beberapa kali "Oh. Apakah kamu seorang pelayan baru? Siapa yang membawamu ke mari?" tanya Bi Mari.
"I-itu... sebanarnya Nyonya Lena..." Hendak saja Syiren ingin menjelaskan tetang ke beradaannya di rumah itu. Diran malah membuka pintu begitu saja lalu keluar dari kantornya.
"...Tuan muda, waktunya makan siang" ucap Bi Mari menunduk ramah pada Diran.
"Ia bi. Aku akan segera ke meja makan" Balas Diran.
"Tuan. Biar saya antar" Imbuh Syiren segera menyentuh gagang dorong kursi roda itu. Bi Mari menatap Syiren yang terlihat tak sopan menurutnya dan sedikit genit. Padahal sikap Syiren saat itu sungguh profesional.
"Hentikan. Jangan sentuh, aku bisa melakukannya sendiri..." Ucap Diran tegas.
"Tapi Tuan... Nyonya menyuruh saya..." Syiren berusaha memperjelas keberadaannya di sana.
"Hentikan. Aku tak perlu bantuan orang lain... Apa lagi dia adalah orang yang lebih muda dari ku. Aku tak membutuhkan mu... Sebaiknya pergi atau pulanglah..." Tegas Diran seraya beranjak.
Syiren yang mematung atas kata kata Diran yang pedas pun hanya bisa terdiam di depan pintu kantornya itu.
__ADS_1
"...Kenapa pekerjaan ku tak semudah yang aku pikirkan..." Bisik Syiren dalam hatinya.
Bi Mari melihat keadaan Syiren saat itu yang tampak Drop. Akhirnya, Bi Mari pun mulai menyapa Syiren "Oh ia... Tadi, saya sempat lupa... Sebanarnya siapa namamu nak?" tanya Bi Mari.
Syiren yang lesu lekas menatap Bi Mari "Ah... Saya bi?" Tanya Syiren. Bi Mari mengangguk "Ah... Nama saya adalah Syiren bi... Kalau nama bibi siapa?" Tanya Syiren mulai ramah.
Bi Mari tersenyum "Panggil saja bi Mari" jelas Bi Mari.
"Baik... Bi Mari, terimakasih sudah menyapa saya... Saya jadi sedikit lega" Balas Syiren di iringi senyum ringan.
"Jangan khawatir, sebanarnya tuan baik kok... Cuman dia pasti agak canggung karna ada seorang gadis di rumah ini. Mungkin tuan Diran belum terbiasa kok. Jika kamu sering menyapa nya kamu pasti akan tahu..." Jelas Bi Mari.
Syiren pun mengangguk "Baik bi..." Akhirnya semangat Syiren mulai meluap luap lagi. Dan akan berusaha lebih keras lagi untuk menyapa dan merawat tuan Diran.
Meski tuan Diran Jutek. Aku tak akan menyerah, Nyonya Lena telah memberikan amanat ini padaku. Jadi aku harus merawatnya dengan baik... Bathin Syiren penuh semangat.
"Tuan... Apakah anda ingin minum kopi?" tanya Syiren seraya mengetuk pintu.
Diran sudah sedikit jengkel seharian karna pintu kantornya sering sekali berbunyi setiap jam "Astaga... Apakah gadis itu tak punya kerjaan lain selain mengetuk pintu rumah ini beberapa kali setiap jam. Menjengkelkan!" Gumam Diran seraya memijat kepalanya yang terasa nyut nyutan.
"Haah... Masuk!" Bals Diran. Syiren lekas masuk dengan langkah mengendap ia sangat malu pada tuan Diran hingga ia menunduk dan tak berani menatap matanya.
"Ada apa? Kenapa sangat berisik?' Tanya Diran sedikit menekan nada suaranya.
"Apakah anda haus?" tanya Syiren.
__ADS_1
"Kenapa jika aku haus?" Balik tanya Diran dan mengabaikan pertanyaan Syiren.
"...jika anda Ha-haus... Saya akan mengambil air untuk anda" jelas Syiren gagap.
"Heh. Sudah ku bilang, aku tidak butuh bantuanmu... Lihatlah, aku perlu apapun yang aku butuhkan. Aku juga bisa membuat kopi ku sendiri" Imbuh Diran seraya menyungingkan bibirnya.
"Tapi tuan. Izinkan saya bekerja hari ini... Ini adalah hari pertama saya bekerja di sini, jika anda tidak mengijinkan say merawat anda. Bisa bisa saya di pecat oleh Nyonya Lena" Syiren malah curhat pada Diran.
"Lalu apa masalahnya untukku?" Tanya Diran.
"Ini... Masalahnya, karna saya sangat membutuhkan pekerjaan ini tuan. Saya ingin membatu perekonomian kluarga agar lebih baik..." Keluh Syiren memaksakan kehendaknya.
Diran hanya diam dan tak mau menatap atau mendengarkan Syiren "Pergilah... Aku sungguh tak membutuhkanmu. Jika aku butuh bantuan, biarkan istriku yang menyentuhku" Lagi Lagi Diran memperjelas perkataannya.
Itu semakin membuat Syiren drop saja...
"Pergilah..." Ucap Diran. Syiren sangat sedih, wajahnya memerah karna malu dan matanya sedikit berkaca kaca... Diran bisa melihat sekilas bawa wanita itu memang terlihat sedih.
Syiren mulai memutar tubuhnya kembali menuju pintu keluar dengan postur membungkuk karna sedih.
Melihat itu, Diran sedikit tak tega... Akhirnya Diran mulai mengambil keputusan "Aku akan memanggilmu jika aku butuh sesuatu" Jelas Diran. Seketika, Syiren pun terbelalak dan menatap Diran "Benarkah tuan?" Tanya Syiren menatap Diran dan memastikan.
Sesaat tatapan Diran terpaut, hingga Diran mulai membuang wajahnya dan enggan menatap syiren "Ia. Aku tak mau mengulangnya... Pergilah" Balas Diran.
Syiren tersenyum manis hingga pipinya merona merah dengan tatapan berbinar binar. Syiren keluar sambil berjalan meloncat loncat mirip seorang bocah yang dapat lotre.
__ADS_1
Diran sesaat menggelengkan kepalanya seraya tersenyum simpul "Dasar... Merepotkan"