Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Cemas


__ADS_3

***


Beberapa jam kemudiam...


Diran tergesa gesa pulang ke kediamannya...


"Syiren!" ia lekas lari setalah ia turun dari mobil dengan tergesa gesa.


"Syiren!" Diran membuka pintu dan mencari wanita yang mebuatnya cemas itu.


"Hosh! Hosh!" Netranya menelisik se isi rumah. Ia pun mulai masuk dan perlahan menapaki lantai menuju dapur kotor.


Saat kaki itu berhenti tepat di depan dapur kotor. Diran mulai lega... Ia dapati wanita yang paling membuat nya cemas itu di dapur tersebut.


Syiren sedang berkutat memasak hidangan sendirian "Syiren..." Ucap Diran menghampiri.


Syiren menoleh dan tersenyum "Ah tuan. Selamat datang" ia terenyum begitu saja tanpa tahu jika ia membuat pria tersebut khawatir setengah mati.


Diran lekas melangkah mendekati Syiren lalu meraih tubuh mungil Syiren lalu memeluknya "Jangan kabur lagi ya" Pinta Diran.


Syiren hanya bisa terbelalak "T-tuan..."


Diran makin memperkuat pelukannya "Aku tidak benci padamu... Aku juga tidak marah padamu. Mendengar kejujuran itu, aku sungguh senang. Aku sungguh bahagia..." Gumam nya.


Syiren kian malu karna ia memang menyatakan cinta nya pada pria di depannya itu.


"Tuan..."


"Diamlah. Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi" Nyatanya, saat Syiren mengucapkan cinta pada Diran. Diran sangat bahagia, Hanya saja saat dirumah sakit Diran sungguh canggung ketika Syiren tiba tiba menciumnya.


"...A- aku... Aku memang sangat menyukai tuan sejak kita bertemu... Di hari kecelakaan itu" Ucap Syiren.


"Benarkah? Apa alasan kamu menyukaiku?" Tanya Diran belum mau melepaskan pelukan itu.


"Karna. Aku telah memberikan ciuman pertama ku untuk tuan" jelasnya.


Diran terbelalak dan melepas pelukannya "Benarkah? Apakah aku sekurang ajar itu padamu? Apakah aku memburu bibirmu saat aku tak sadarkan diri?" tanya Diran ketakutan.


Syiren menggelengkan kepalanya "Bukan tuan"


"Lalu apa? Tidak mungkin kamu kehilangan ciuman pertama mu begitu saja kan?" tanya Diran cemas.


"Aku yang menyerahkannya..."

__ADS_1


Sesaat Diran terbelalak "Menyerahkan?"


"Ya. Seperti ini" Syiren mulai menangkup wajah Diran dan ia memejamkan matanya.


Diran terbelalak karna tahu hal apa yang akan Syiren lakukan padanya. Saat bibir Syiren kian dekat... Seseorang mulai mengganggu "Ahemmm... Kakak, lihat lah ada yang gosong" Seketika Diran membuang wajahnya dan Syiren membelalakan matanya.


"Oh astaga! Aku lupa mematikan kompor" Syiren kalang kabut.


"Ah biar ku bantu!"


"Tuan awas jangan di pegang. Nanti tangan mu malah terluka!" Jelas Syiren.


"Auuhh! Kamu terlambat memberi tahuku syiren!" Diran melepas panci itu dan memegangi tangannya yang memerah.


"Sinim benamkan di sini!" Syiren sigap membuka slot keran lalu menaruh tangan Diran di antara guyuran air itu.


"Tunggulah di sana beberapa saat" Pinta Syiren. Syiren kembalu membenahi dapurnya yang hampir tak karuan.


"Nah itulah sebabnya kakak. Kau tidak seharusnya bermesraan di dapur karna bisa sangat berbahaya! Bisa menyebabkan kebakaran" ujar pria itu.


"Oh... Jimmy! Kapan kamu pulang?" Tanya Diran menoleh pelan ke arah Jimmy.


"...Aku baru saja tiba"


"Seseorang menelpon ku. Dia bilang, kakak sedang sakit... Jadi aku datang kemari. Dia memberikan alamat rumah baru mu ini padaku"


"Seseorang? Siapa? Aku tidak sakit... Malah aku baru saja sembuh" Diran mencercidkan alisnya.


"Siapa? Dari suaranya dia adalah seorang perempuan kak" Jels Jimmy.


"Kamu Syiren" Diran menoleh ke arah Syiren.


"Saya tidak memiliki ponsel juga tidak mengenal turis itu" Ujar Syiren.


"Lalu siapa? Lagi pula... Aku tidak pernah menghubungi mu Jimmy"


"Sebenarnya ia memakai nomor telpon rumah kak. Bisa saja dia melihat nya dari buku catatan panggil..."


"Benar juga... Tak penting siapa yang telah memanggilmu kemari. Yang jelas, selamat datang... Besok adalah hari pemakaman mantan istriku. Jadi kamu harus ikut"


"Kau sungguh jahat. Istri baru meninggal sudah bermesraan bersama gadis muda di dapur. Dasar kakak yang tidak beretika..." umpat Jimmy seraya berlalu.


"Hei... Jimmy jangan salah paham..." Diran terpekik.

__ADS_1


"Tuan Diran. Hidangan makan malam sudah siap... Anda tunggulah di meja makan. Nanti saya akan antarkan satu persatu ke meja makan"


"Aku akan membantu" Diran mulai megambil beberapa piring lauk di dapur kotor itu.


"Jangan tuan. Anda pasti lelah... biarkan saya saja yang melakukannya"


"Aku bantu sedikit saja' Diran bersikeras.


"Ahem... Kalian seperti sepasang pengantin baru saja... Kakak kau sungguh tega! Umpat Jimmy berkomentar demikian.


Syiren dan Diran saling bertatapan satu sama lain.


"Ah... Kamu salah!" pekik keduanya.


"Tuh kan... Kalian memang kompak. Keterlaluan.


"Jangan salah paham Jimmy. Lagi pula... Syiren juga bukanlah kekasihmu kenapa kamu jadi marah?" tanya Diran.


Jimmy seketika membuang wajahnya "Kakak... Kamu memang selalu tidak peka" umpat Jimmy membuang wajah dari hadapan kakaknya.


"Sudah sudah. Jangan bertengkar... Sekarang lebih baik, kalian bantu aku menata meja... Kita makan bersama. Setuju?" tanya Syiren menjentikkan memarinya.


"Baiklah... Aku akan melakukannya" Diran mulai menata meja tersebut dan di bantu Jimmy yang terlihat kecut.


Akhirnya mereka pun salimg membantu satu sama lain untuk menghidangkan makan malam... Mereka pun makan bersama dengana lahap.


"Mmmh. Makanan ini enak, kamu cocok jadi istriku" gumam Jimmy dengan bahasa indonesia yang kurang pasif.


"Jangan bercanda Jimmy. Cepat makan bagianmu" Ujar Diran.


"...Kenapa kakak marah. Diakan bukan kekasih kakak, lagi pula... Kakak baru saja kehilangan istri kakak. Kakak sungguh serakah sekali" Komentar Jimmy.


"Mantan Jimmy. Dia adalah mantan istri kakak" Diran memperjelas statusnya.


"...heh wanita manis. Kau setuju menikahi kakak ku, aku lebih tampan lho" gurau Jimmy.


Syiren tersenyum "Aku tidak butuh pria tampan... Cukup yang setia dan baik juga tulus" balas Syirem mengarahkan pandangannya ke Diran.


Diran mulai menoleh ke Syiren... Seketika meja makan itu penuh dengan aura cinta dari syiren untuk Diran "Jawaban macam apa itu?" Umpat Jimmy. Jimmy kalah telak karna ia memang sudah di tolak oleh Syiren.


"Jangan banyak bicara. Ayo makan..." ujar Diran.


Syiren pun menundukan atensinya lalu kembali sibuk dengan hidangan di depannya... Mau bagai mana pun. Syiren merasa seperti pengantin baru saja... Meski mereka makan bertiga bukan berdua...

__ADS_1


Sampai sini dulu yups. Autor mau pergi kuli dulu. Kalau leader sekalian suka pada cerita ini... Silahkan merah kan jempol kalian... Mohon bantuannya, autor masih belajar jadi... Semangat!! Happy Reading... Guys


__ADS_2