
"Tuan... Ini kopi anda" ucap Syiren seraya lekas menaruh kopi itu di sisi meja ruang tengah. Sedang Diran masih sibuk membaca berkas yang berupa catatan omset dab penjualan dalam bisnis baru sedang ia garap.
"Terimakasih sayang"
"Tuan. Saya jadi malu jika anda memanggil saya dengan ungkapan seperti itu" ujar Syiren malu malu.
Diran pun menatap Syiren penuh makna "Malam ini. Kita tidur di matras yang sama ya?" pinta Diran. Syiren mengagguk malu malu.
"Kalau begitu aku akan mendi dulu ya...' Ucap Syiren seraya pergi menjauh dari Diran.
Tapi Diran tak mau mengabaikan istrinya, ia mulai melempar berkas di tangannya lalu meraih sikut istrinya "Tunggu" Pinta Diran. Syiren menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Ya tuan ada apa..."
Diran berdiri lalu memeluk istrinya dari belakang "Aku sudah tak bisa menahannya lagi" Bisik Diran memeluk perut istrinya yang langsingnya bukan kepalang.
__ADS_1
"Tapi tuan... Saya belum membersihkan diri" Ujar Syiren berusaha kabur dari pelukan Diran. Mau bagai mana pun, ini pertama kalinya Diran berlaku selembut itu hingga Syiren merasa gugup.
"Aku sungguh ingin... Boleh ya?" tanya Diran mulai memasukan tangannya ke dalam pakaian yang Syiren kenakan.
"Ta-tapi..." Syiren sungguh bergiding ngeri dan merasa geli ketika tangan nakal Diran sudah sampai di penutup dua buah bola sintal yang Syiren miliki.
"Bolehkan aku menyentuh mereka?" tanya Diran.
"Ta- Tapi tuan saya belum mandi. Saya masih bau kecut" Gagap Syiren dengan pereasaan yang tak nyaman. Pipinya mulai merah pekat karna ia merasa sangat geli atas perlakuan Diran yang nakal itu.
Diran memaksakan tangannya untuk masuk ke dalam bra Syiren yang ketat itu. Hingga ia pun mulai menyentuh tepat di bulatan hangat yang kenyal itu.
Diran lekas mencium lekuk leher istrinya "Tuan... Saya harus mandi dulu ya biar wangi"
"Mana sini ku cium?" Diran mengendus punggung tegak Syiren dan ternyata bau tubuh istrinya itu masih sangatlah wangi.
__ADS_1
"Syiren... Maafkan aku" Ucapnya lekas melepaskan tangannya dari salah satu gunung kembar Syiren. Lalu Diran membalikan tubuh Syiren ke hadapannya "Aku mencintaimu Syiren" bisik Diran lagi. Diran pun lekas mencium bibir Istrinya lalu kemudian ********** manja.
"Aku sangat tergoda..." Diran terus memburu bibir merah istrinya dan kemudian meraih tangan Syiren untuk ia kalungkan di leharnya. Diran maju ketika memburu ciuman panas yang tarasa nikmat di benaknya itu.
Lidah Diran meraksak masuk ke dalam mulut Syiren seakan mengabsen satu persatu gigi yang ada di dalam sana. Syiren tak bisa bernapas hingga ia sedikit ke sesakan... Syiren mundur dan mundur lagi,ia ingin melarikan diri dan mengambil napas untuk mengisi oksigen di paru parunya. Tapi Diran tetap mengikuti laju kaki Syiren yang terus menjauh itu...
Duk! Kaki Syiren mulai terhenti di sisi sofa itu dan ia pun tak bisa mundur lagi "Mmmgh..." Diran sungguh bernafsu pada Syiren. Napas Diran berubah menjadi sesak dan memburu... Kini Syiren menjadi buruan pria itu... Kini Syirenlah mangsannya...
Brukkk! Syiren terjatuh di sofa itu...
Diran mulai melepaskan kecupannya dan mulai ikut duduk di sisi sofa bersama Syiren.
"Tuan... Sebaiknya kita pindah ke kamar ya... Karna aku sungguh malu..." pinta Syiren.
Diran pun mengangguk dan lekas mengangkat tubuh istrinya lalu kembali mencumbunya sembari melangkah menuju kamar pribadi mereka...
__ADS_1
Untung tak ada pembantu... Juga Jimmy masih ada di rumah sakit, jadi mereka bisa melakukannya di mana pun...
Lanjut ke part 2