Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Suasana hati yang tenang


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Kinan masuk ke ruangan Diran dengan beberapa berkas yang harus Diran tanda tangani "Tuan. Ini berkas yang anda minta..." ucap Kinan meletakan tumpukan berkas tersebut di meja kerja Diran.


Nampaknya Diran tak pokus pada ucapan Kinan hingga Kinan pun perlu menyapa nya lagi...


"Tuan Diran?" Tanya Kinan mengencangkan suaranya. Barulah Diran bergeming "Ah ya..."


"Ini berkas yang anda minta. Tolong pelajari dengan seksama sebelum menandatanganinya..." pinta Kinan.


"Baiklah Kinan. Kamu boleh pergi" Diran meraih berkas itu dan membuka selebaran berkas tersebut. Kinan heran pada Diran karna ia tak melepaskan senyumannya sejak pertama Kinan masuk tadi...


"Tuan... Apakah anda baik baik saja?" tanya Kinan penasaran.


"Ah... Kinan. Memang ada apa dengan ku?"


"Tuan Diran... Kenapa saya merasa akhir akhir ini... Anda jadi terlihat semberingah. Apakah ada hal yang terjadi?" tanya Kinan sungguh heran pada air wajah bosnya akhir akhir ini.


"Oh... Itu, ada hal yang sedang aku pikirkan..." Singkat Diran.


"Pikirkan? Tentang apa? Pasti ada hal yang luar biasa ya? Soalnya tak biasa nya anda tersenyum renyah begitu" ujar Kinan.


"Kinan. Sebenarnya aku akan menikah" Jawab Diran malu malu. Sontak Kinan terbelalak tak karuan "Menilkah? Benarkah? Wah... Siapa wanita yang beruntung itu?" tanya Kinan ikut bahagia.


"...Soal itu" Diran menunduk malu.


Kinan tersenyum dan mulai menebak "Pasti Syiren ya?" tebak Kinan.


Seketika Diran mengangkat wajahnya dan mulai menatap lawan bicaranya "Bagai mana kamu tahu?"


"Tentu saja tuan. Dari awal aku memang sudah suka pada gadis itu... Dia adalah wanita yang cocok berdiri di samping anda. Jika Syiren menjadi istri tuan... Maka, anda akan jadi pria sempurna yang paling bahagia"


"Hem. Benarkah? Belarti aku memang cocok dengan gadis itu. Padahal usia kami berpaut cukup jauh..." Diran sedikit minder.


"Syiren memang masih muda dan umurnya masih belasan tahun. Tapi... Ia memiliki ke lebihan lain, ia sangat ke ibuan dan penuh perhatian.... Jika anda menjadi suaminya. Hidup anda pasti akan bergelimang ke bahagiaan" Ujar Kinan.


"...Benar, dia memang dewasa bahkan dia seperti ibuku sendiri dan perhatiannya selalu sama pada siapapun dan aku menyukai dia yang selalu rendah hati itu" Diran memuju calon istrinya sendiri itu.


"Kapan rencana pernikahan anda di gelar?" tanya Kinan.


"Kami ingin menikah lebih cepat, agar tak ada fitnah... Jadi aku berniat mempersuntingnya satu minggu lagi..." Jelas Diran.


"Satu minggu? Apakah tidak terlalu mendadak?"


"Ku pikir juga begitu. Tapi lebih cepat lebih baik... Aku tak mau ke duluan orang lain. Apa lagi, gadis seperti Syiren sangat jarang... Dan kebanyakan wanita hanya menginginkan harta ketimbang cinta. Aku tak mau hal yang sama menimpa ku lagi... Jika calon istriku bukanlah Syiren" imbuh Diran.


"Anda sungguh bersemangat. Baiklah... Sempga harapan anda tercapai dan di lancarkan dalam segala hal... Juga di jauhkan dair hal hal yang tak di inginkan"


"Makasih Kinan. Aku sungguh merasa lega jika sudah membagi unek unekku dengan mu"

__ADS_1


"Oh ia tuan... Apakah anda akan mengadakan pesta besar? Klien anda pasti akan senang jika mereka di undang dan turut hadir dalam acara pernikahan tersebut" Ujar Kinan.


Diran sesaat berfikir lalu menggelengkan kepalanya "Tidak... Sepertinya kami akan menikah secara sederhana. Syiren tak menginginkan hal hal seperti itu... Ia ingin acara pernikahannya sederhana dan hanya kerabat dekat nya yang hadir... Ia canggung jika seluruh klien ku datang dan bertemu dengannya. Ia hanya bilang bgitu padaku"


"Wah. Sayang sekali... Padahal jika mereka turut hadir, akan sangat menyenangkan dan sangat meriah. Tapi jika Syiren yang memintanya maka... Tuan sebaiknya menghargai pilihan Syiren" Imbuh Kinan.


"Aku pun berfikir demikian..."


"Selamat ya tuan... Saya pasti akan hadir dan akan membantu menyusun segala persiapan pernikahan anda"


"Terimakasih Kinan. Aku pasti akan sedikit membuatmu kerepotan oleh pernikahan ke duaku... Maaf ya" Diran tak enak hati.


"Jangan kawatir tuan. Apapun yang membuat anda bahagia. Saya pasti akan berusaha membantu anda..."


"Sekali lagi. Ku ucapkan terimakasih" Diran sungguh sungkan. Sejak kedua orang tuannya tiada dalam kecelakaan enam tahun yang lalu... Diran sudah terbiasa untuk menyusahkan wanuta cantik yang selalu mengenakan berhijab itu. Di mata Diran, Kina sudah seperti kakaknya sendiri... Ia sungguh asisten yang mampu di andalkan dalam situasi apapun. Hingga Diran selalu sungkan jika Kinan membaca situasi hatinya.


"Jika demikian, saya permisi dulu tuan"


"Ya Kinan... Silahkan"


Kinan melangkah ke kluar pintu dan mulai menghilang setalah pintu itu di buka lalu di tutup kembali..


Blam!


Sedangkan Diran, seraya memeriksa berkas yang Kinan berikan tadi. Pikirannya masih mengkhayal akan pernikahan keduanya yang tak bisa ia banyangkan. Makanya Diran terus saja senyam senyum seperti orang bodoh...


"Syiren Syiren! Kamu memang gadis baik yang unik" umpat Diran menggumam dalam diamnya.


Diran sungguh tak sabaran, ia ingin membeli sebucket bunga cantik juga sekotak coklat manis berbentuk hati. Menurutnya Syiren pasti akan sangat menyukainya.


Diran meraih ponsel nya lalu menelpon Dion sang supir pribadi Diran "Hallo Dion..."


"Ya aku pulang sekarang... Tolong siapkan mobil" jelas Diran.


Ia pun mulai membereskan pekerjaan di mejanya... Lalu membawa berkas yang bertumpuk tadi ke luar ruangan untuk di serahkan pada Kinan. Agar Kinan bisa meninjaunya lalu menyerahkan berkas tersebut pada Divisi berikutnya.


"Tolong yah Kinan..." Pinta Diran.


"Siap tuan. Serahkan saja padaku" Kinan lekas berkutat sedangkan Diran pulang lebih cepat untuk menemui wanita yang paling ia idamkan. Juga ia ingin memberikan survise untuk wanita yang telah berjasa bagi hidupnya itu.


Mobil...


"Tuan! Di sini!" Dion memarkirkan mobilnya cukup jauh dari Front parkiran. Diran menghampiri lalu lekas masuk mobil tersebut "Dion... Ayo antarkan aku ke toko bunga"


"Baik!"


Dion memacu mobil yang ia kendarai begitu cepat, hingga tak berselang lama... Sampailah mereka di front toko bunga tersebut.


"Silahkan tuan..."

__ADS_1


"Dion. Menurutmu bunga seperti apa yang cocok untuk wanita yang aku sukai"


"Jika anda memberikan bunga mawar merah. Belarti anda memberikan tanda bukti cinta pada wanita itu. Tapi jika anda memilih bunga mawar putih itu hanyalah simbol persahabatan. Jika tuan ingin keduanya tuan bisa meminta penjual untuk merangkainya untuk anda" Ujar Dion.


Diran sedikit bingung dan agak malu. Pasalanya belum ada wanita dalam hidupnya yang pernah ia berikan bunga. Hingga ia jadi agak canggung dan sedikit ragu...


"Silahkan tuan" Dion membuka pintu mobil itu. Tapi Diran masih saja berfikir keras hingga akhirnya ia pun mulai keluar dari mobil itu dengan wajah yang agak pucat.


"Baiklah... Ini mudah..." Dengan langkah gemetar. Diran pun lekas keluar dari mobilnya lalu melangkah pelan ke arah penjual itu.


BLAM! Dion menutup pintu mobil lalu menunggu Diran kembali dari toko bunga itu.


"Silahkan tuan... Apa yang anda inginkan" sapa seorang pelayan toko bunga itu.


"Eh... Bisakah saya membeli sebucet bunga yang indah"


"Tentu... Bunga apa yang anda inginkan?" tanya penjaga toko itu.


"Sebenarnya saya ingin memberikan bunga itu untuk lamaran pernikahan..."


"Wah. Anda akan menikah?" Tanya penjaga toko.


"Ya. Begitulah... Jadi tolong berikan bunga yang cocok untuk ku agar calon istriku bagaia atas kejutan ini" Pinta Diran.


"Baiklah... Tunggu sebentar"


Pelayan toko mulai merangkai bunga dan Diran pun menunggu... Nampaknya ada yang tengah memgendap endap lalu menguping. Dia adalah Lena mantan istrinya. Lena tak mau Diran menikah begitu cepat... Apa lagi Lena tak tahu siapa wanita yang akan Diran pinang untuk menggantikan posisinya sebagai mantan istri.


"Ini dia tuan... Bunga cantik telah siap" ujar penjaga toko bunga itu.


"...Cantiknya" Bisik Diran.


"Anda harus mengisi memo di balik bucket itu" Pinta penjaga toko.


"Tolong tuliskan kata kata indah untuk ..."


"Ya. Siapa wanita cantik yang beruntung itu...?" tanya penjaga toko.


"...Syiren. Namanya Syiren" tegas Diran.


Seketika wanita yang sedang pura pura memilih bunga seraya menguping pembicaraan Diran dan sang penjaga toko itu pun terbelalak.


*Syiren! Bathin Lena menggumam.


Keterlaluan... Beraninya dia menggoda suamiku! Dasar wanita genit! Bathin Lena menggumam*.


"...Terimakasih'


Diran lekas pergi setelah membayar untuk pergi ke sebuah toko coklat...

__ADS_1


Sedangkan Lena masih membatu dengan tangan di kepal dengan erat hingga sedikit bekeringat.


Tak akan ku biarkan hal ini terjadi Syiren... Aku tak akan membiarkan mu bahagia di atas penderitaan ku! Akan ku balas perbuatan mu ini... Karna kamu telah merebut suamiku!


__ADS_2