
***
Diran menunggu di depan UGD, meski kantuk terus membujuknya untuk menyelam ke alam mimpi, tapi ia sungguh bertahan dan tetap membuka matanya.
"Syiren. Bertahanlah... Kamu pasti akan sembuh" bisik Diran tampak cemas dan tak tenang.
Lena sudah sampai di depan Diran, dan Diran mulai berdiri menyapa suster berkaca mata dan bermasker itu "Malam suster. Apakah anda yang bertugas malam ini?" tanya Diran.
Suster tersebut mengangguk tanpa bicara "Begitu ya" Diran sedikit curiga.
"Apakah, anda akan memeriksa ke adaan istriku?" tanya Diran. Lagi lagi suster tersebut mengangguk.
"Kalau begitu... Silahkan" Diran mempersilahkan Lena masuk kamar UGD yang di tempati Syiren. Dalam penutup wajahnya, Lena terkekeh karna Diran sama sekali tak mengetahui jika ia adalah mantan istrinya.
Kenapa suster ini tak membawa buku pemeriksaan rutinnya. Dan ia sama sekali tak bicara apapun saat aku bertanya padanya. Kenapa aku sedikit curiga. Apakah... ini hanya perasaan ku saja. Bathin Diran menggumam.
Diran membiarkan Lena masuk begitu saja, bahkan Diran tak tahu jika wanita penyamar itu adalah mantan istrinya.
Blam! Seketika, Lena mulai ada di dalam ruangan itu. Lena manatap di kejauhan seraya menyematkan sebuah senyuman menyungingnya.
Hehehehehe.... Syiren. Kita bertemu lagi, setelah sekian lama... Ternyata nasibmu berubah drastis. Tapi aku tak mau memberikan mas Diran begitu saja padamu. Jadi aku minta, pergilah ke alam sana dengan tenang... Jangan pernah bangun lagi. Dan menganggu mantan suamiku. Karna aku akan kembali ke sampingnya. Gumam Bathin Lena.
__ADS_1
Lena melangkah sedikit demi sedikit, seketika... Suasana ruangan itu berubah menjadi mencekam. Hening dan dingin, jika Syiren belum sadarkan diri... Maka Lena akan leluasan membunuh Syiren, Hingga Syiren akan terlelap selama lamanya.
Lena mulai membuka maskernya dan ia pun memasukan masker itu ke dalam saku pakaiannya. Setelah itu, ia kembali merogoh saku yang lainnya lalu mengambil sebuah jarum suntik yang tengah Lena isi dengan Sianida cair, bahkan dosis yang Lena berikan sangatlah tinggi agar dengan mudahnya membunuh Syiren tanpa jejak.
"Syiren! Syiren! Seandainya kamu melihatku yang seperti ini. Apakah kau akan menyerah... Agar aku bisa mengampunimu? Setidaknya, pergilah ke tempat yang jauh dan tak usah kembali lagi ke hadapan ku. Karna aku lah yang pantas untuk mantan suamiku dan bukannya dirimu" Gumam Lena sebelum menjalankan aksinya.
Mendengar ocehan itu, tiba tiba Syiren pun membuka kelopak matanya perlahan "Engghh..." Ringisnya.
Seketika bola mata Syiren memutar ke arah langit langit rumah sakit yang berwarna putih itu "Syiren. Kau sudah sadar?" tanya Lena. Suara yang Syiren kenali itu membuatnya sedikit syok. Syiren pun menoleh ke arah kiri samping dan penglihatannya di suguhkan sesuatu yang membuatnya syok.
"Ny-Nyonya Lena?!" pekik Syiren tak percaya pada apa yang ia lihat.
"Ya. Ini aku... Apa kabar?" Lena kembali menyungingkan bibirnya kesal.
"Kenapa? Apakah kau ingin aku mati sungguhan?" Lena menghampiri Syiren hingga Syiren mundur ke kepala ranjang.
"Lalu apa yang ingin anda lakukan pada saya?" Tanya Syiren sedikit ketakutan. Bathinnya bertanya tanya antara mimpi dan kenyataan. Ia sungguh tak menyangka jika ia akan di pertemukan lagi dengan wanita yang telah berjasa dalam hidupnya.
"Aku ingin kau tiada seperti ibumu" Ujarnya.
"Ibuku?" Netra Syiren mulai berkaca kaca.
__ADS_1
"Ya. Ibumu... Akulah yang melenyapkannya" Lena terkekeh. Ia memainkan sebuah jarum suntik berisikan sianida.
"Tidak mungkin! Anda tidak mungkin melakukan itu pada ibu saya!" Bentak Syiren seraya pecah dalam tangisan.
"Kenapa tidak mungkin? Apa pun mungkin bagiku... Aku pikir, jika ibumu tiada. Pernikahan mu dengan mas Diran akan terhenti dan bahkan tak mungkin terjadi. Tapi, kau memang gadis gatal dan centil hingga tak memiliki hati nurani. Berani beraninya kamu menikah di saat ibumu tewas..."
"Saya melakukan itu atas permintaan terakhir mendiang!" Bentak Syiren.
"Tapi aku tetap ingin kau tiada! Agar aku dan mas Diran kembali bersama!"
"Apa yang akan anda lakukan Nyonya?" tanya Syiren mundur.
"Aku akan membuat mu mati, seperti aku membuat ibumu mati!" Jelas Lena di susul dengan sebuah gerakan cepat dengan menyuntikan jarum berisikan sianida.
"Tidak! Tolong! Tolong!!" Teriak Syiren..Teriakan Syiren sangatlah mengganggu hingga setelah suntikan di tusukan ke dalam infus. Lena tak keburu menekan tuasnya.... Lena malah meraih bantal untuk membungkam mulut Syiren agar ia diam.
'Tolong!! Tolong!" Teriakan dengan suara yang parau malah membuat Syiren kesulitan. Lena sungguh keji, ia membungkam hingga wajah Syiren hingga Syiren hampir mati karna kesulitan bernapas.
BRAK! Diran lekas masuk dengan mendobrak pintu ruangan pasien yang di kunci Lena.
"SYIREN!!" pekik Diran menyiapkan satu kaki panjangnya untuk menendang Lena.
__ADS_1
Buak! Apa yang terjadi selanjutnya...