Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Menjadi dekat


__ADS_3

***


Syiren mencercap cercapkan matanya beberapa kali untuk menyetabilkan cahaya yang masuk, namun saat ia membuka matanya lebar lebar, ia malah dapati Diran telah terlelap di depannya "Ahhh tuan..." Bisik Syiren seraya mulai bangun.


Tapi Diran yang tampak lelah malah terlelap dalam posisi terduduk di kursi rodanya dan terlelap di samping kepala Syiren "Apa yang terjadi, seharusnya aku merawat tuan dengan baik dan bukan malah aku yang di jaganya" bisiknya pelan.


"Kasihan sekali tuan..." sambung Syiren.


Syiren tak tega menatap Diran yang saat itu tiduran dalam posisi duduknya. Ia ingin membangunkan Diran, tapi... Syiren tak tega dan malah diam lalu menatap Diran selama mungkin.


Tuan, anda memang sangat tampan, jika saja anda seorang pria lajang, atau seorang duda aku pasti akan jatuh hati pada anda. Bathin Syiren menggumam.


Syiren mulai menyibat lembut poni yang menghalangi jidak Diran hingga menutupi matanya. Dan ketika tangannya menyentuh rambut Diran, rasanya Syiren sangat nyaman. Rambut Diran sangat lembut dan begitu wangi "Tuan... Anda memang sangat mempesona, aku tak tahu.. Kenapa nyonya Lena sampai mengacuhkan anda. Padahal anda sangatlah bertanggung jawab... Anda adalah tife pria idaman ku" Bisik Syiren tak henti mengelus poni hingga pucuk kepala Diran.


"Ehhhh" Diran mulai mendesis. Syiren kaget dan mulai kembali tidur di samping Diran. Sedangkan Diran mulai bangun dari tidurnya yang baru beberapa menit itu.


"Uhuk uhuk..." Diran terbatuk. Syiren susah payah menutup matanya yang enggan terpejam itu.


"Heh. Apaa ini... Aku malah tidur di kursi rodaku dan dia malah asik asikan tidur di matras ku. Hehehe... Istriku memang naif, sekarang siapa yang mengurus siapa? Huh Dasar merepotkan" Gumam Diran lekas membanarkan duduknya lalu ia mulai menggerakan kursi rodanya menuju ruang tengah hotel itu.


"Ayo bangun Syiren..." Bisik Syiren pada dirinya sendiri.


Syiren mulai pura pura bangun "Uuuuaaaah... Ngggh astaga kenapa aku malah ketiduran. Aaahhh aku malah tidur nyenyak di kasur empuk ini..." Gumam Syiren seraya menurunkan kakinya lalu melangkah ke arah Diran melajukan kursi rodanya.

__ADS_1


Syiren melangkah mengendap endap, ia mulai mengintip posisi Diran yang kala itu terdiam di depan kursi ruang tengah. Ia nampaknya sedang menelpon seseorang...


"Siapa yang sedang tuan Diran telpon?" tanya Syiren dalam hatinya.


"Sayang. Kamu sama sekali tak menghiraukan ku... Kamu tak mengabariku selama dua hari ini. Kemana saja kamu... Aku sungguh khawatir" Gumam Diran.


Syiren sungguh terpukul mendengar gumaman yang di lontarkan Diran pada ponselnya. Hati Syiren sungguh sakit rasanya...


Kenapa aku harus patah hati pada tuan Diran. Toh aku hanyalah pengasuhnya yang selalu saja merepotkannya. Tapi... Jika melihat posisi tuan Diran yang di abaikan istrinya seperti ini, hatiku juga sangat sakit... Nyonya Lena... Jangan buat Tuan Diran sedih dong. Karna entah kenapa... Malah hatiku yang sangat sakit. Bathin Syiren menggumam.


"Ahhhwwmmm' Syiren mengeram dan menghampiri Diran.


Diran menoleh ke arah Syiren lalu menurunkan ponselnya dan memasukan ponsel itu ke saku celananya "Kamu sudah bangun?" tanya Diran. Syiren tersenyum lalu mengangguk.


"Ya tuan. Saya minta maaf, saya ketiduran tadi"


"Tak apa..." Abai Diran.


"Eh tuan. Apakah anda lapar?" tanya Syiren berusaha membuat Diran tak marah padanya.


"Ya. Tapi, apakah kamu bisa memasak?" tanya Diran tak yakin pada Syiren.


"Tentu... Saya bisa memasak... Saya akan memasakkan makanan enak untuk anda" Jelas Syiren bergegas.

__ADS_1


Bebapa saat kemudian... Syiren berhasil memasak makanan kesukaan Diran. Rendang daging sapi "Nah tuan. Ayo makan..." pinta Syiren... Diran mulai di dorong menuju meja makan di area dapur. Ia mulai menyodorkan sepiring nasi bersama rendang yang Syiren masak tadi.


Rendang? Hemmm... Bagai mana dia tahu makanan kesukaanku. Bathin Diran mengguman.


"Tuan. Biarkan saya suapi anda" pinta Syiren bergegas menyingkup nasi di depan Diran "Tak usah aku bisa makan sendiri... Aku bukanlah seorang bayi"Jelas Diran.


Syiren pun mulai menyerah dan hanya tersenyum pahit "Ayo silahkan makan yang banyak tuan..." Pinta Syiren.


Diran mulai menyingkup makanannya lalu mamasukannya pelan ke dalam mulutnya. Dan alhasil ia malah terbelalak...


"Ahhhh..." Pekiknya...


"Tuan apakah rasanya tidak enak?" tanya Syiren.


Diran pun menggelengkan kepalanya "Tidak. Aku menyukainya... Masakan ini mengingatkan ku pada mendiang ibuku..." Jelas Diran pada Syiren. Syiren tersenyum karna senang mendengar Diran mulai memuji masakannya... Saking lahapnya, bibir Diran mulai di penuhi rempah rempah bumbu masakan rendang.


"Tuan sebentar..." Ucap Syiren seraya meraih tissue dan mengelap bercak bumbu yang menempel di bawah bibir Diran.


Diran terbelalak pada kebaikan Syiren beserta perhatiannya. Sesaat Diran terdiam dan menatap Syiren dalam dalam...


"Anda memang tampan jika sedang tersenyum..." Bisiknya nyaris tak terdengar oleh Diran.


"...Apa?" Diran pun mulai tersadar begitupun Syiren. Syiren pun mulai mencari alasan "Aahh aku akan mengambilkan air untuuk anda..." Ucap Syiren seraya pergi mencari gelas. Padahal itu hanyalah alasan untuk menutupi wjaahnya yang merah pekat itu karna sangat malu pada Diran.

__ADS_1


Bagai mana ini... Makin hari, jantungku makin tak bisa ku kendalikan... Bagai mana jika tiba tiba aku mati karna serangan jantung mendadak... Tuan Diran, kenapa makin hari aku makim tersiksa... Aku makin jatuh cinta pada tuan Diran. Aku harus bagai mana??? Bathin Syiren menggumam.


__ADS_2