Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
pernyataan cinta


__ADS_3

***


Pihak berwajib mulai mengkonfirmasikan terkait para korban tewas dalam insiden kebakaran yang terjadi di lapas tersebut.


"...Apa?" Pekik Diran tak begitu percaya jika mantan istrinya tewas.


"...Menurut hasil autopsi, Dna Nya Lena sama dengan Dna salah satu korba yang tewas. Kemarin malam... Jadi, silahkan ambil jasad Ny Lena di rumah sakit tersebut" Jelas Pihak berwajib.


"Ini sungguh terjadi. Ya allah, matikan lah istriku dalam ke adaan baik... Jauhkan ia dari aib kubur dan azab kubur" Doa Diran mengiringi ke pergian mantan istrinya.


Syiren hanya menangis di pojokan kursi ruang tunggu kamar jenasah. Jasad Lena sudah tak bisa di kenali. Tubuhnya gosong dan tak bersisa apapun...


"Syiren..." ucap Diran di kejauhan.

__ADS_1


"Hiks. Tuan... Ny Lena, Hiks... Ny Lena sudah tiada" Tangis Syiren sesegukan. Meski Syiren telah di jahati wanita itu, tetap saja ada rasa sakit di hati Syiren ketika tahu bahwa Lena tewas menyusul Bi Mari.


Diran mendekat dan memeluk Syiren lalu berusaha menenangkannya "Jangan menangis... Aku ada di sini. Kamu harus sabar ya" ucap Diran memeluk Syiren seraya mengelus elus rambutnya.


"Hiks. Tuan, aku tak pernah menyangka jika Ny Lena akan meninggal dalam ke adaan seperti ini"


"Itulah yang manusia tidak pernah ketahui. Kita tidak pernah tahu akan mati di usia berapa, di mana kematian kita kelak dan seperti apa caranya. Kita tidak pernah tahu tentang rahasia tuhan. Yang harus kita ketahui adalah berdoalah agar kita bisa meninggal dalam ke adaan baik" ujar Diran menenangkan Syien.


Mata Syiren sudah sangat sembab, Diran pun mulai menangkup wajah nya dan menepis bulir basah di pelipis Syiren "Kamu cantik jika tidak menangis" Ucap Diran.


Diran terdiam seraya menatap Syiren dengan mata membulat "A-apa... Apa maksudmu tadi Syiren"


"Aku... Aku, aku sangat menyukai anda tuan. Saya sangat menginginkan anda, saya ingin anda selalu dekat dengan saya. Karna saya sangat menyukai anda... Saya mencintai anda tuan" Mendengar Ucapan Syiren yang jelas dan tegas. Membuat Diran sedikit berbeda...

__ADS_1


"...Hemmm. Syiren, ini bukan waktu yang tepat untuk memiliki perasaan seperti itu. Aku baru saja berkabung atas kepergian mantan istriku. Lagi pula, usia kita terpaut sangat jauh... Aku tak mau membuatmu malu, karna menyukai pria tua sepertiku... Aku bisa mengenalkanmu pada pria yang lebih muda. Aku punya rekan kerja yang masih muda dan mapan... Mungkin dia akan lebih cocok untukmu..." Cerocos Diran.


"Tidak tuan. Anda tidak mengerti... perasaan itu tidak bisa di lempar ke sembarangan orang. Apa lagi pria asing yang tak aku kenal"


"Tapi aku juga pria asing Syiren..."


Syiren tak ingin mendengarkan penolakan dari Diran lagi, Syiren lekas menarik kedua bahu Diran dan mendekatkan wajahnya ke wajah Syiren. Syiren terpaksa mencium Diran dan mencuri sebuah ciuman darinya. Diran terbelalak dan tak habis pikir.


Diran menjuhkan Syiren dari wajahnya. Syiren mulai mengusap bibirnya dan berdiri "Tuan tidak mengerti!" Pekiknya seraya pergi meninggalkan Diran yang masih duduk di kursi Tunggu kamar jenasah.


"Syiren tunggu!" Diran berdiri dan lekas mengejar wanita itu.


Seseorang mulai keluar dari balik ruangan pasien, ia berpakaian seperti seorang suster... Lalu ia menatap punggung Diran di kejauhan. Tangannya mengepal erat dan bernapas cepat seakan menahan emosinya "Hosh! Hosh! Senang sekali Mas kamu mendengar kabar kematian ku. Heh... Tak semudah itu menyingkirkanku. Aku akan tetap ada di sampingmu, sebelum hartamu benar benar jadi milikku" imbuh seseorang yang kala itu menyamar menjadi seorang suster.

__ADS_1


Apalagi rencananya kali ini. Kenapa dia tak membiarkan Diran bahagia, padahal Syiren sudah mengungkapkan isi hatinya pada Diran. Apakah Diran akan membalas perasaan Syiren yang terkesan tergesa gesa itu....


__ADS_2