Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Hanya pelayan


__ADS_3

***


Beberapa hari kemudian...


"Syiren kemari" Pinta Lena.


"Ya Nyonya... Ada apa?" Syiren menghampiri Lena.


"Syiren. Mulai besok, kirim ibumu ke rumah sakit kluarga Diran ya..." Pintanya.


"Ke rumah sakit, tapi kenapa bu?" tanya Syiren sedikit takut.


"Kamu akan sangat sibuk nanti karna merawat suamiku. Jadi kamu harus mengirim ibumu ke rumah sakit agar dia cepat sembuh" Jelas Lena.


Syiren menunduk "Tapi bu. Biaya rumah sakit itu mahal... Dan saya tak ingin membebankan masalah ini pada anda" Balas Syiren ragu ragu.


"Hentikan. Jangan hitung hitungan denganku... Aku adalah orang kaya, jadi uang tidak belarti untukku... Jadi lekas berikan dokumen tentang penyakit ibumu lalu berikan padaku" Jelas Lena.


Syiren masih belum mau mengambil keputusan "Sayang. Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Diran menghampiri Lena yang sedang mengobrol dengan Syiren.


"Ah mas... Kamu toh. Ada apa? Apakah kamu lapar? Kenapa keluyuran di jam kerja begini?" Tanya Lena acuh.

__ADS_1


"Jangan alihkan pembicaraan. Jawab saja pertanyaanku..."Pinta Diran tegas.


"Heh. Ini bukan urusanmu..." Balas Lena seraya pergi mengabaikan Diran.


"Ah Nyonya... Tapi..." Syiren berusaha menghentikan langkah Lena.


"Lakukan seperti apa yang aku jelaskan tadi" Jelas Lena di kejauhan. Diran terlihat murung ketika menatap Lena yang kala itu mengacuhkannya.


"Tuan Diran. Apakah anda baik baik saja?" tanya Syiren seraya menghampiri Diran. Diran menatap Syiren sekilas dan mulai membuang wajahnya.


"Jangan perdulikan aku. Aku tak butuh belas kasihanmu..." Balas Diran cuek.


Tuan Diran malah makin dingin saja... Apa gunanya aku tetap ada di rumah ini? Lagi pula... Nyonya Lena melarangku mengerjakan pekerjaan lain... Lalu bagai mana nasibku. Bathin Syiren menggumam.


Syiren mulai mengikuti arahan Lena dan lekas pergi ke rumah yang di berika Lena. Ia ingin bertanya pada ibunya tentang rencana Lena yang akan membawa ibunya berobat dan di rawat di rumah sakit...


"Ibu..." Seru Syiren mengetuk rumah tersebut.


"Assalamualaikum bu..." Syiren lakas masuk dan mulai menemui ibunya.


"Bu... Ibu sudah makan?" tanya Syiren...

__ADS_1


Sang ibu hanya terlelap dan tak bisa bicara apapun. Syiren tampak sedih dengan ke adaan ibunya itu. Dan ia pun mulai menyiapkan berkas tentang riwayat kesehatan ibunya....


"Bu. Mulai besok, ibu akan di rawat di rumah sakit... Aku akan menengok ibu setiap hari libur ya bu. Jadi ibu harus berusaha untuk tetap sehat..." Syiren memengang tangan ibunya dan mengecup punggung tangan ibunya.


Bagi Syiren, brtemu dengan Lena adalah sebuah anugrah terindah yang di kirim tuhan untuk menyelamatkan kluarganya. Tanpa tersyirat hal buruk meski Lena lah yang hampir saja membunuh Syiren malam itu.


......................


Akhirnya, ibu Syiren mendapatkan ruangan VIP dan perawatannya bagus dan terjaga... Hingga Syiren tak perlu khawatir lagi.


"Syiren...!!" Teriak Lena memanggil manggil namanya. Syiren pun lekas menjemput Lena dari mobil yang di kemudikan Yudha.


"Anda mabuk lagi Nyonya" Ucap Syiren seraya membopong Lena.


"Aaahhh tidak. Hanya minum sedikit..." Bisiknya saraya tertawa cengengesan... Diran ada di sana dan menatap kelakuan istrinya yang selalu saja poya poya dan selalu pulang dalam keadaan mabuk.


"Heh. Apa dia bilang, Suster itu untuk merawatku? Tapi nyatanya... Suster tersebut hanya datang untuk merawatnya saja" Desis Diran sedikit kesal.


"Sabar tuan... Nanti juga Nyonya Lena akan insyaf sendiri" jelas Bi Mari.


Syiren yang mendengarkan hal itu cukup malu karna keberadaanya di sana sungguh tak efektif dan hanya menambah beban pengeluaran Diran saja. Apa lagi, Diran selalu menolak di rawat dan malah Lena yang selalu minta dirawat setiap kali mabuk berat.

__ADS_1


__ADS_2