Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Permintaan Maaf


__ADS_3

***


"Tuan. Maafkan saya" Syiren mengeluh dan menundukkan atensinya, dia sungguh ke hilangan rasa percaya dirinya.


Diran yang sedang menyetir mobilnya mulai menepuk pucuk kepala Syiren lalu berkata "Jangan khawatir... Aku tidak marah kok. Aku malah senang, karna kamu mengenalkanku pada ibumu" ucap Diran seraya mengelus lembut rambut Syiren yang tergerai lurus hingga punggungnya.


"Tapi tuan... Saya sungguh tidak enak hati" Syiren masih saja merendah.


" Dari pada sedih, sebaiknya kita makan di restorant ya... Aku ingin mengucapkan rasa terimakasihku pada malaikat tanpa sayap sepertimu"


"Tuan. Anda terlalu berlebihan..." Syiren makin gugup saja kala berdekatan dengan Diran.


"Jangan canggung atau gugup jika bertemu denganku. Aku sungguh suka Syiren yang dulu periang dan energik... Jadi jangan terlalu lama bersedih ya" Jelas Diran. Seketika Syiren terperanjat kala mendengar Diran berkata bahwa ia suka Syiren yang dulu.


Suka? Apa artinya itu? Apakah tuan Diran juga jadi menyukai ku? Apakah rasa sukanya sama dengan perasaanku padanya? Apakah sukanya sama dengan Cinta?Tanya Syiren dalan hatinya. Ia tak bisa bertanya langsung pada Diran, Selain karna Syiren takut di tolak.


"Tuan..." Syiren mencoba menanyakan hal hal tersebut pada Diran meski ia sangat malu.


"...Ya?" Diran menoleh sesaat ke arah Syiren.


Wajah Syiren mulai memerah padam, dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya "Aku... Ingin bertanya sesuatu..."


"Ya... Bicara apa? Tanyakan saja... Ayo lanjutkan, apa yang ingin kamu tanyakan padaku..."


Syiren ingin bicara, ia ingin bertanya apakah Diran menyukainya atau tidak. Apakah rasa sukanya pada Syiren sama dengan Cinta...


"Tuan apakah... Apakah anda..." Gagap Bibir Syires seakan beku kala melanjutkan kalimatnya dengan benar.


"Oh... Tunggu, kita sudah sampai. Ayo kita makan dulu lalu bicara di hal apa yang ingin kamu sampaikan padaku" Ujar Diran.


"Ah... Baiklah"


Untung saja, kita sudah sampai... Jika tidak aku pasti akan di benci oleh tuan Diran jika aku bilang kalau aku suka padanya. Bathin Syiren menggumam.


Diran lekas memarkirkan mobilnya dan mulai keluar dari mobilnya. Ialu ia membukakan pintu mobil Syiren "Ayo... Kita makan siang dulu" Ujar Diran.


Syiren hanya bisa mengangguk "Ah ya..." Syiren terkesima kala melihat sekeliling, ini pertama kalinya Syiren makan di restoran yang megahnya luar biasa.


"Kamu suka?" tanya Diran.


Syiren mengangguk dan malah memutar bola matanya 360°, hingga ia tak memperhatikan, jalanan di depannya.


Duk! Tak sengaja kaki Syiren menendang meja, hingga ia hampir jatuh mencium lantai. Tapi Diran meraih tangannya dan lekas memeluk Syiren yang hampir saja jatuh "Syiren. Kamu baik baik saja?" tanya Diran sedikit cemas.


Seluruh mata tertuju pada Diran yang sigap menarik Syiren ke pelukannya "Ah tuan maafkan aku..."


"Jangan khawatir, kamu pasti gugup ya... Sebaiknya atur dulu napasmu lalu keluarkan. Jika kamu sudah mulai tenang... Ayo kita cari meja" Pinta Diran.

__ADS_1


Syiren menurut dan lekas melangkah kembali, tapi kali ini Diran malah menggenggam tangan Syiren secara tiba tiba "Deg!" Jantung Diran sedikit berdegup kencang lagi dan pipinya kembali merona merah. Ia sangat malu...


"Aku akan memegangmu... Agar kamu tidak jatuh lagi oke" Ucap Hans.


Syiren hanya mengangguk diam, Sampailah di meja yang Diran pesan "Kita duduk di sini"


Syiren mulai duduk setelah Diran menarik kursi untuknya "Terimaksih tuan..."


Diran mulai menyimpulkan senyumanya yang manis dan menawan, jantung Syiren kembali terpacu kala Diran berusaha memperlakukannya sebagai seorang wanita.


"Apa yang ingin kamu pesan?"


"Apa saja... Apapun yang tuan berikan pada saya. Saya akan memakannya" Balas Syiren.


"Apakah kamu sudah pernah memakan Steak?"


Syiren menggelengkan kepalanya "Kalau begitu kita pesan itu saja"


Tak berselang lama, pelayan datang dengan pesanan yang Diran pesan tadi "Silahkan di nikmati"


Pelayan menghidangkan pesanan Diran dengan sangat profesional di meja makan "Syiren... Kamu bisa menggunakan peralatan makan itu kan? Kamu tahu cara memakan steak di restoran?" tanya Diran tak terlalu percaya jika Syiren bisa melakukannya.


Syiren menatap pelaratan makannya lalu mengerutkan alisnya "A... Aku, aku belum pernah menggunakan pisau dan garfu secara bersamaan tuan"


"Kalau begitu... Lihat ini... Ayo lakukan persis seperti apa yang ku lakukan. Pertama, pegang pisau di tangan kanan dan garfu di tangan kiri" Pinta Diran.


"Bagus. Lalu perlahan tusuk dagingnya dengan garfu lalu potong dengan pisau seprti ini" Jelas Diran. Syiren menatap Diran dengan seksama lalu mencoba mempraktikannya.


"...Bukan, bukan begitu... Biar aku bantu" Ujar Diran.


Diran mulai berdiri dan menghampiri Syiren "Pertama pegang garfu dan pisau secara bersamaan" Pinta Diran. Tanpa Diran sadari, Diran telah menggenggam kedua tangan Syiren dengan lembut.


Deg! Jantung Syiren kembali berdetak kencang saat Diran seakan mendekap tubuh Syiren dari belakang.


"Tusuk disini, lalu... Pontong seperti ini" Diran panjang lebar menjelaskan, tapi pikiran Syiren malah melayang layang ke tempat lain dan mengkhayalkan tentang kedekatan mereka berdua yang bagaikan Putri dan pangerannya.


"Ren? Syiren... Syiren... Syiren" Diran menyerunya beberapa kali. Tapi Syiren masih menatap kosong ke arah Diran dengan senyuman yang aneh.


CTIK! Akhirnya Diran menjentikan jemarinya di depan Syiren lalu Syiren pun kaget dan mulai menatap Diran kaget.


"Ah tuan!"


"Jika kamu melamun seperti itu saat aku mengajarimu makan. Nanti kamu malah tak akan pernah paham..." jelas Diran.


"Ah maafkan aku..." Syiren menunduk malu.


"Baiklah... Aku akan membantumu makan. Aku memang salah karna memilih makan yang sulit untukmu" ucap Diran.

__ADS_1


Diran kembali duduk di hadapan Syiren dan mulai membantu memotong motong steak milik Syren "Ah tuan. Biarkan saya melakukannya sendiri. Nanti makanan anda jadi dingin" Pinta Syiren.


"Bukan masalah... Aku kemari juga untuk membuatmu senang"


"...S-senang?" Syiren tak paham.


"Ini adalah ucapan rasa terimakasihku... Terimakasih atas segala kebaikanmu. Kamu adalah penyelamatku... Gadis baik yang tuhan anugrahkan padaku... Sekarang biarkan aku melayanimu" Jelas Diran semakin membuat Syiren tak paham.


Apa yang Tuan Diran inginkan. Kenapa tuan Diran membuat ku bingung... Aku, aku sangat malu... Jika tuan Diran terus saja menggodaku seperti ini. Maka aku akan benar benar mencintainya...


"Sekarang. Ayo buka mulutmu" pinta Diran.


Pandangan mereka saling terpaut satu sama lain, Syiren membuka mulutnya dan Diran menyuapi Syiren dengan sangat lembut.


"...Terimakasih" ucap Syiren malu malu.


Diran mulai meraih tissue lalu mengarahkan Tissue itu ke arah bibir Syiren dan megolesnya lembut di sana. Jantung Syiren makin tak karuan dan wajahnya makin merah merona dan ia seakan ke habisan napasnya karna ia tak bisa mengontrol emosinya.


"Kamu demam?" tanya Diran.


"T-tidak tuan. Mungkin di sini tidak ada ac jadi aku sedikit ke panasan" jelas Syiren.


Diran tak percaya dan mulai mengerutkan dahinya, Diran lekas mengarahkan pungung tangannya ke jidak Syiren "Benarkah. Aku pikir kamu demam" Seraya terus memastikan. Akhirnya Diran pun menarik tangannya lalu menyentuh jidanya sendiri.


"Suhu mu sama dengan panas tubuhku... Artinya kamu baik baik saja" sambung Diran.


Tentu saja aku baik baik saja. Yang membuat wajahku merah bukanlah demam. Melaikan perhatianmu yang terlalu ferpact tuan... Jangan buat aku salah paham atas perhatianmu ini... Bathin Syiren menggumam.


"Kalau begitu. Ayo habiskan makanmu..." Pinta Diran.


Syiren mengangguk diam... Ia benar benar di buat meleleh oleh kebaikan Diran.


Aku tak mengerti kenapa nyonya Lena membuang pria tampan dan baik seperti tuan Diran. Tidak kah nyonya lena menyesal karna telah membuangnya. Bathin Syiren menggumam.


Ponsel Diran mulai berdering "Hallo..."


Kinan menelpon tentang hal buruk "Ya kinan bicaralah..."


Kinan? Apakah Kinan adalah kekasih tuan Diran? Kenapa dia selalu saja menelpon tuan Diran di situasi yang sedang hangat hangatnya. Bathin Syiren menggumam. Syiren sungguh cemburu setiap Kinan menelpon atau datang berkunjung pada Diran.


"Kebakaran?" pekik Diran sedikit panik.


"Apa kebakaran? Kebakaran di mana?" tanya Syiren menatap diran cemas.


Diran lekas bangun dan menarik tangan Syiren lalu membawanya ke luar "Tuan! Kita belum membayar pesanan kita" Ujar Syiren.


"Bukan masalah. Restorant ini milikku... Ayo ikut ada hal penting yang tak bisa di tunda lagi" pekik Diran panik.

__ADS_1


Kira kira apa yang Diran maksud kebakaran? Jangan jangan kebakaran itu terjadi di rumah atau kantornya atau bisa juga tempat lain...


__ADS_2