
***
Di kantor polisi Diran menjelaskan segala hal yang terjadi dari masalah kecil hingga hal hal yang besar. Polisi yang sudah mendapat laporan mulai sigap mencari pelaku sesungguhnya dari penyerangan tersebut.
"Terimakasih atas informasi yang telah anda berikan, informasi anda akan sangat bermanfaat dalam proses penyelidikan kami" Ucap kepala kepolisian. Diran berjabat tangan dan mulai keluar dari kantor polisi tersebut dengan menaiki kursi roda.
"Tuan. Kenapa anda tidak berusaha berjalan kaki saja? Agar anda bisa secepatnya pulih seperti yang di katakan dokter" Ujar Syiren menyarankan.
"...Sebaiknya. Aku duduk saja di kursi roda ini untuk beberapa waktu ke depan. Agar aku tahu, siapa orang yang ada di balik penyerangan ini. Aku tak yakin jika orang luar yang melakukan aksi pembunuhan tersebut. Mau bagai mana pun juga, aku tak pernah memiliki musuh..." Jelas Diran. Ia mulai memutar otaknya dan berfikir sekeras mungkin. Bukan kali ini Diran hampir mati, sebelum ia kecelakaan pun... Seseorang dengan sengaja hampir membunuhnya dengan racun sianida. Tapi untung saja kala itu, seekor kucing liar masuk ruangannya dan memakan camilan yang di berikan Bi mari padanya. Hingga kucing itupun mati seketika itu... Jika bukan karna kucing liar itu, mungkin saja Diran tak akan pernah bisa duduk di kursi roda itu.
"Tuan... Tuan!" ucap Syiren menegur Diran.
"Ya..." Diran sungguh terperanjat.
"Kita akan segera masuk mobil. Bisakah anda naik sendiri? Saya akan membantu anda" ujar Syiren.
Diran lekas berdiri perlahan sembari memegang pintu mobil untuk mengangkat tubuhnya, kakinya gemetaran dan terasa mati rasa "Tuan pelan pelan, ayo lingkarkan tangan anda di pundak saya" Pinta Syiren. Diran tak ingin jatuh karna menolak ke baikan Syiren. Akhirnya tanpa berkomentar, Diran pun mulai melingkarkan sebelah tangannya di pundak Syiren yang mungil itu.
Smeriwing wangi kasturi mulai tercium lagi, Diran sesaat mengendus rambut hitam Syiren yang lurus itu. Dan ia pun mulai hanyut oleh wangi yang menggodanya itu. Diran sungguh tenang jika ia dekat dengan Syiren.
"Silahkan tuan..." Ucap Syiren. Diran yang sedari tadi terhanyut dalam ketenangan pun mulai bangun dan menatap Syiren membelakak "Ya tuan. Apaakah ada yang ingin anda tanyakan?" tanya Syiren.
Diran yang tak bisa berkutik hanya bisa menggelangkan kepalanya seraya bungkam. Ia pun mulai duduk di jok mobil lalu Syiren membantu Diran mengangkat kakinya.
"Saya akan menutup pintunya ya tuan..." ujar Syiren. Syiren lekas meenutup pintu tersebut lalu berjalan mengelilingi mobil itu untuk masuk ke pintu sebelahnya lagi
Mobil mulai tancap gas menuju kediaman Diran...
__ADS_1
***
Di kediaman Diran... Lena tampak panik, ia mondar mandir di ruang tengah. Beberapa kali ia terlihat gemas seakan tak puas. Ia menghempas hempaskan tangannya yang sedari tadi ia gigiti itu "Sial! Kenapa mereka nggak becus!!" Umpatnya kesal sendiri. Bi mari tak bisa bicara apapun. Ia hanya menatap ke gusaran Lena di kejauhan.
Klek! Pintu depan terbuka, Lena lekas menatap ke arah tersebut. Saat suara kursi roda terdengar terseret, Lena lekas menghampiri Diran "Mas! Kamu nggak apa apa?" Tanya Lena menatap intrents. Ia menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala Diran.
Sial. Kenapa dia baik baik saja... Kenapa para preman itu nggak becus! Udah di bayar mahal mahal juga!! Bentak Lena dalam hatinya.
Diran diam saja dan tak mau berkomentar pada apa yang Lena tanyakan padanya "Mas. kenapa kalian terlihat kotor? Apakah kalian bekas jatuh? Ya ampun mas... Apakah ada yang luka... Coba ku lihat?" Tanya Lena mulai meraba raba seluruh tubuh Diran.
"Hentikan Lena! Apa yang kau lakukan?" tanya Diran menyelot Lena.
"...Mas. Kamu jatuh? Katanya kamu di serang di jalan? Tapi kamu baik baik saja kan?" tanya Lena ke ceplosan.
Di serang? Kenapa dia tahu... Padahal aku tak memberitahukan hal ini pada siapapun. Bathin Diran menggumam.
Lho. Kenapa nyonya lena tahu jika kami di serang. Apakah ada yang bilang padanya? Bahkan dia terlihat panik begitu. Bathin Syiren berkecamuk.
Lena seketika terdiam kala Diran tak mau di sentuh oleh nya lagi "Mas. Kamu kenapa sih?" tanya lena naik pitam.
"Aku lelah, aku ingin istirahat... Lagi pula aku bisa membersihkan diriku sendiri" Jelas Diran mengayuh kursi rodanya sendiri.
Sedangkan Syiren yang canggung hanya biaa membiarkan Diran pergi atas kemauannya sendiri "Heh. Keterlaluan kamu mas!" Bentak Lena.
"Kamu sendirikan yang bilang, lalukan tugas istri dengan baik... Sekarang kamu sendiri yang menolak. Memang mau kamu apa sih Mas!!' Bentak Lena tak habis pikir pada kelakuan Diran yang berbalik dingin.
Diran enggan berkelit ia hanya diam dan tak mau berkomentar "Kamu itu egois! Udah cacat! Egois pula... Memang siapa wanita yang mau jadi istrimu selain aku mas... Dasar pria cacat dan penyakitan!!" amuk Lena memaki Diran tak terkendali.
__ADS_1
"Hentikan Lena!!!" Bentak Diran membalas teriakan Lena. Diran leks memutar kursi rodaya dan menghampiri Lena.
"Apa kamu mas! Mamangnya kamu mau apa hah?!' Gertak Lena. Syiren tak tahan kala melihat Diran di cemooh abis abisan oleh Lena.
"Kamu memang tidak pernah bersyukur!' Ucap Diran menunjuk Lena.
"Heh! Bersyukur kata mu mas? Apakah aku harus bersyukur karana punya suami yang cacat sepertimu! Heh memuakan! Bahkan karna menikah denganmu aku sama sekali tidak bisa hamil karna kamu mandul mas!!" Bentak Lena menjelek jelekan Diran habis habisan.
"Kamu keterlaluan Lena.... Aku akan talak kamu sekarang juga! Aku cerai kamu! Aku cerai kamu! Aku cerai kamu Lena!!'Bentak Diran sekuat tenaganya menalak Lena istri durkaha yang telah menemaninya selama enam tahu kurang pernikahan mereka.
Lena terbelalak dan menatap Diran gemas "Apa kamu bilang mas? Aku di cerai?" tanya Lana tertawa lepas.
Bi mari menghampiri Diran dan melerai Diran menalak tiga istrinya "Astagfirullah tuan muda... Jangan bicara begitu. Anda sedang marah jadi anda tak boleh berkata kalimat itu tuan. Pamali.." ujar Bi mari.
"Kenapa emang. Diran berhak menceraikan ku bi... Dan aku minta harta gono gini darimu mas" Lena menantang.
"Tak ada sepesepun harta yang akan kamu dapatkan dari ku!" Tegas Diran.
"Apa maksudmu mas! Heh... Akan ku tuntun kamu mas! Nggak mau bertanggung jawab dan malah menalak tigaku... Kita akan buktikan siapa yang akan menyesal!" Lena membuang wajahnya kesal dan hendak minggat.
"Apakah kau ingin pergi ke rumah laki laki itu kan?" Ucap Diran sembari terkekeh, padahal hati Diran seakan terkoyak kala tahu penghianatan istrinya yang sudah lama di lakukannya.
"Apa makasudmu mas?" Tanya Lena membelalakan matanya.
"Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu semuanya... Dan aku akan membuktikan perselingkuhan mu di meja sidang nanti!' Jelas Diran.
Selingkuh? Apakah dia tahu bahwa selama ini aku sudah berselingkuh? Bathin Lena menggumam.
__ADS_1
"Kamu diam saja sudah membuktikan bahwa kamu memang salah... Jika terbukti apa yang ku katakan ini. Maka sepeserpun harta yang ada pada ku... Tak akan pernah aku berikan padamu!" Tegas Diran seraya pergi berlalu begitu saja dari dapan Lena.
Deg! Lena sungguh terkejut mendengar Diran yang begitu tegas....