
Lena terlihat menarik kopernya dengan satu tangan kirinya. Lalu Diran mengejar istrinya dengan kursi rodanya, Syiren yang saat itu ada di ruang tengah menoleh ke arah Lena "Syiren kemari" pinta Lena.
Syiren melangkah lebar ke arah Lena Ny-nyonya... Anda mau ke mana?" Tanya Syiren bingung.
"Syiren. Aku mau pergi untuk beberapa minggu. Jadi jagalah suamiku dengan baik" jelas Lena menunjuk Diran yang berkutat di belakang Lena tampak sibuk mengayuh kursi rodanya.
"Tidak sayang. Kamu jangan begini! Aku tidak mau seseorang mengurusku! Aku tidak mau!" Tolak Diran memperjelas ke inginannya untuk tidak menerima Syiren sebagia suster untuknya.
"Jangan menolak atau mengeluh. Karna itu tidak akan mengubah apapun! Aku sudah jelas sampai di sini. Syiren, kerjakan tugasmu dengan baik. Kau tahu kan? Harga mu sudah sangat mahal... Jadi belerjalah dengan benar!" Jelas Lena melangkah maju ke luar ruangan tersebut.
Diran menyusul Lena dari belakang, di lihatnya dengan mata kepala nya sendiri "Yuda?"Tanya Diran.
Benar saja, Lena pergi bersama Yuda. Malah Yuda yang menjemput Lena keluar dari rumah besar itu untuk pergi Tour sesuai ucapannya.
Dia sungguh ke terlaluan... Bathin Diran menggumam. Diran hanya belum tahu saja apa hubungan Lena dan Yuda. Jika dia tahu jika selama ia cacat, dirinya pasti akan marah besar.
"Tuan. Apakah anda ingin membersihkan diri? Biar saya bantu?" tanya Syiren menghampiri Diran seraya bicara demikian.
"Cih. Jangan bicara hal yang bodoh... Sebaiknya menjauh dariku, karna aku tak biasa jika ada orang luar ada di kediaman ku" Bentak Diran menjauhi Syiren.
Syiren sedikit sedih mendengar cecahan Diran, ia hanya menunduk lesu dan enggan bergerak. Lalu bi Mari mendekat "Syiren. Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Bi Mari ramah.
"Tidak bi. Hanya sedikit sedih, ke hadiran ku di sini hanya menambah beban saja, apa lagi tuan Diran sangat benci padaku" balas Syiren menunduk.
"Lho kok nyerah sampai di sini? Sebaiknya tolong tuan Diran... Apakah kamu nggak kasihan liat tuan Diran berkutat dengan kursi rodanya begitu? Sebaiknya... Dorong kursi roda itu... Dan bantu lah Tuan Diran"Jelas Bi Mari.
Mendengar dukungan bi Mari, hati Syiren pun mulai tergugah hingga ia pun perlahan melangkah dan mulai berani menyentuh gagang dorong kursi roda itu.
Kursi roda Diran mulai melaju tanpa sepengetahuannya, Diran pun menoleh ke belakang "Kau lagi..." gumam Diran kesal.
"Maafkan saya tuan. Tapi saya tidak ingin anda kelelahan... Biarkan saya membantu..." ucap Syiren memohon.
Tanpa banyak bicara, Diran pun mulai diam "Jika anda diam, belarti anda setuju?" tanya Syiren.
__ADS_1
Diran masih enggan berkomentar, Syiren mengantarnya naik tangga. Ia cukup bingung untuk mendorong kursi roda itu ke lantai atas. Syiren mulai berfikir dan diam sesaat "Mustahil jika kau bisa menarikku ke atas, sebaiknya pakai lift saja" jelas Diran. Syiren pun mulai sadar lalu menatap ke arah Lift, rupanya di sana ada Bi Mari yang tengah melambai lambaikan tangannya seakan bicara "Pakailah ini..." Syiren pun tersenyum.
"Baiklah... Saya akan membawa anda naik dengan itu" Syiren melangkah ke arah Lift seraya mendorong kursi roda Diran.
"Tuan... Jika anda tidak menolak saya, saya sangat merasa beruntung"Bisik Syiren saraya cengengesan sendiri.
"...Hentikan, kamu terlihat bodoh jika ketawa hanya untuk hal sepele begitu" Umpat Diran ke tus.
Mereka mulai menaiki Lift. Syiren begitu canggung ketika ada di belakang punggung Diran. Pipinya merona dan jantungnya berdetak cepat, ini kali pertamanya ia merasakan sebuah getaran hangat di dadanya. Meski Syiren berulang kali menolak tapi, perasaan itu sama dengan rasa ketertarikan atau semacamnya.
"Kenapa rasanya sedikit panas..." Bisik Diran menggumam.
"A-apakah anda ke panasan? Saya akan mengipasi anda" ucap Syiren mulai memakai kedua tangannya untuk mengipasi wajah Diran. Diran mendelik dingin "Dasar bodoh..." ucapnya lugas.
Syiren pun tercengang dan sedikit patah hati "Maaf jika anda menjadi terganggu..." Syiren mulai mundur ke belakang.
Pintu Lift mulai terbuka "Tink..."
Syiren kembali mendorong kursi Diran ke tempat seharusnya yakni kamar Diran.
"Bisakah aku menta satu hal?" Tanya Diran tampak canggung. Syiren paham dengan atansinya yang terlihat malu-malu.
"Ya tuan... Apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya Syiren.
"Bagiku inu sedikit canggung. Tapi... Aku hanya akan menyuruhmu kali ini saja.." Ucap Diran tak di mengerti Syiren.
"...Apa yang ingin tuan lalukan? Jangan jangan tuan Diran..." halusinasi Syiren mulai maju ke area mesum.
"...Tolong siapkan air hangat di Bathroom, biasanya Bi Mari yang lakukan itu... Tapi Bi Mari sedang ada di bawah, jadi maaf jika aku menyuruhmu" Cerocos Diran.
Syiren sangat senang mendengar Diran sedikit terbuka dan tidak menolak pertolongannya "Baik akan saya lakukan..." Syiren lekas pergi ke kamar Diran dan masuk kamar mandi Diran lalu ia siapkan air hangat dan sebagainya.
Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
Syiren keluar dari bathroom dan lekas memberitahukannya pada Diran "Tuan Diran... Air yang anda minta sudah siap" jelas Syiren. Diran pun mengangguk 'Terimakasih..." Ucap Diran masih menunduk.
"Biar saya antar" Syiren kembali mendorong Diran menuju Bathroom.
"Sampai di sini saja... Aku bisa merangkak hingga ke kamar mandi" Jelas Diran. Syiren sedikit canggung dan ia pun mulai mengangguk.
"Baiklah tuan... Saya akan tunggu anda di luar" ucap Syiren segera keluar kamar Diran.
Baru saja ia menutup pintu kamar pribadi Diran. Telinganya sudah terkejut karna mendengar seseorang yang jatuh.
BRAK!!!
Syiren lekas masuk kembali ke kamar itu dan mulai mendobrak kamar mandi. Dan benar saja, Diran sudah tergeletak di lantai dengan ke adaan tengkurab "Apa yang kau lakukan kenapa kamu malah masuk?" tanya Diran marah.
Syiren abai dan ia tetap masuk "Anda jatuh tuan... Nanti anda bisa terluka" jelas Syiren seraya meraih tubuh Diran.
"Hentikan. Aku sudah terbiasa dengan ini..." umpat Diran kesal.
"Jangan begitu tuan. Kebiasaan ini sangat buruk, jika anda terus terjatuh, kapan anda bisa sembuh?" tanya Syiren seraya mengangkat tubuh Diran.
"...Aku tak paham denganmu. Kenapa kau sangat sulit ku singkirkan' Bentak Diran pada Syiren.
"...Saya sangat suka menolong, jadi... Jangan cegah saya menolong anda, sekali pun saya tidak di gajih. Asalkan itu untuk menolong seseorang, saya pasti akan melakukannya..." Jelas Syiren seraya tersenyum ringan ke arah Diran. Mendengar ke tulusan Syiren, Diran pun menunduk malu. Ia malu pada dirinya sendiri.
"...Seharusnya, malam itu aku mati saja..." gumam Diran sedikit membisik.
"Apa maksud anda?" Tanya Syiren menunggu ulangan kalimat Diran.
"Sudahlah... Tak apa..." Balasnya ketus.
"Baiklah... Saya akan membantu anda masuk Bathtub. Apakah saya perlu membatu melepas pakaian anda?" tanya Syiren dengan suara bergetar seakan malu canggung dan takut.
"Aku bisa membuka pakaianku sendiri, biarkan aku mencebur ke bathtubnya saja. Aku akan melepaskan seluruh pakaianku di sana sendiri" jelas Diran.
__ADS_1
Syiren mengangguk lagi dan mendudukan Diran di Bathtab sesuai keinginnannya.