
***
Pemakaman Lena telah usai, Jimmy... Juga Diran masih berdiri seraya menabur bunga warna warni di atas tumpukan tanah kuburan Lena. Syiren sampai serak menangis sesegukan tiada henti atas kepergian Lena yang terkesan mendadak "Nyonya Lena... Anda yang tenang di sana ya? Anda tak akan merasa tertekan lagi. Semoga anda termasuk pada golongan orang orang yang wafat dalam ke adaan khusnul khotimah..." Doa Syiren mengiringi kepergian Lena.
Diran mulai berjongkok dan mengelus pucuk kepala Syiren "Kamu yang sabar ya. Jangan larut dalam kesedihan terlalu lama. Ayo berdirilah..." Diran berusaha menenangkan hati Syiren. Syiren pun mulai berdiri dan menepis air matanya...
"Kasihan ny Lena tuan Diran"
"Jangan menangis... Kita semua juga pasti akan menghadap sang khalik. Tapi... Semua itu masihlah rahasia ilahi..."
Jimmy seakan tak senang jika Diran dekat dengan Syiren hingga ia jadi bosan sendiri "Sebaiknya kita pulang kak. Hari mulai siang" Pinta Jimmy lekas mendahului langkah sang kakak.
"Syiren. Sudah... Jangan sedih. Ayo kita pulang..." Diran mulai meraih tangan Syiren dan mengenggamnya.
Syiren sesaat tertegun menatap tangannya yang di genggam hangat oleh Diran "Syiren. Tunggu apa lagi. Ayo kita pulang..." Pinta Diran menarik tangannya ke arah di mana Diran melangkah.
Syiren pun bergeming dan mengangguk, ia mulai membalas genggaman tangan Diran dengan sangat erat. Kemudian sebuah senyuman manis khasnya yang menawan lun mulai terbit di wajah cantik gadis muda itu.
"Dasar bocah" Gumam Diran tampak senamg kala menatap wajah Syiren yang penuh kebahagiaan itu.
Kini... Diran dan Jimmy juga Syiren mulai menaiki mobil... Mobil pun melesat cepat, membelah jalanan yang sunyi di area pemakaman itu.
Trektek! Kaki jenjang yang mulus di area pemakaman mulai muncul, kaki itu tak sengaja menginjak ranting kering pepohonan di area pemakaman itu.
"Brengsek! Kenapa kamu se bahagia itu mas!" Seseorang mengepalkan tangannya tampak geram.
Ternyata, sedari tadi seseorang telah memperhatikan keadaan di pemakaman tersebut. "Mas! Tega kamu yah!" amuk Lena. Ia keluar dari tempat persembunyiannya. Rupanya sedari tadi Lena bersembunyi di balik batang pohon yang cukup besar.
Nyatanya Lena memang belum meninggal, dan jenazah yang telah di kuburkan itu bukanlah jenazah Lena. Lena berhasil menyuap penjaga lapas tempatnya di kurung untuk melakukan drama yang memakan banyak korban jiwa itu di sel tahanan itu...
"Liat aja mas. Aku akan segera kembali ke sisimu... Heh! Aku nggak akan biarkan kamu bahagia! Apa lagi, dia adalah wanita yang tak seharusnya ada di sampingmu! Mas!" Amuk Lena mengarahkan kemarahannya pada makam baru yang bertuliskan nama nya. Ia mengacak acak makam itu hingga makam tersebut sudah tak nampak lagi... Dan rata dengan tanah...
"Aaggh! Keterlaluan! Mas! Aku nggak akan tinggal diam... Aku akan segera kembali ke sisimu! Bagai mana pun caranya!" Lena mengepalkan tangannya erat. Napasnya menderu menahan amarah yang tak bisa padam begitu saja.
__ADS_1
'Aaakkhh! Huh huh huh!" Lena bersama amukannya berhasil mengundang dendam baru di hatinya.
Ia belum puas melihat hidup Diran lebih baik... Padahal sebelumnya Diran memang cacat. Tapi kali ini, Diran sungguh sehat dan tampak bugar. Lena tak bisa membiarkan hal tersebut... Bahkan saat ini, ia sangat menyesal.
"Mas. Lihatlah... Aku akan datang... Tunggulah, pembalasanku" Bisiknya seraya pergi dari pemakaman tersebut dengan hati di penuhi kebencian dan amarah.
***
"Syiren. Kamu lapar?" tanya Diran.
"Ya. Tuan... tapi, kita lebih baik kita makan di rumah saja" Pinta Syiren.
"Tidak. Hari ini aku akan mengajakmu jalan jalan lagi... Mumpung aku lagi senggang. Besok besok, bisa saja kerjaan ku menumpuk dan tak ada waktu untuk mengajakmu jalan jalan" ujar Diran tersenyum simpul ke arah Syiren yang ada di hadapannya.
Apa maksudnya ini tuan? Apakah tuan mengajakku kencan? Atau tuan hanya ingin membuatku senang? Tuan Diran... Tolong jangan membuat hati saya bingung ataupun salah paham... Aku bahkan tak tahu. Apa sebenarnya yang ada di hatimu tuan Diran... Bathin Syiren menggumam.
"Nah. Kita sudah sampai" Pekik Diran menunjuk sebuah restotant sea foods bintang 4.
"Sea? Foods? Apa itu tuan?" tanya Syiren bingung dan tampak kaku kala mengeja satu persatu hurup yang terpampang di front restorant cepat saji itu.
"Sea... Foodss..." Syiren terlihat canggung.
"Ya. Seafood" Diran kembali menjelaskan. Syiren malah tersenyum pahit dan mengangguk bingung.
"Apakah kamu pernah makan di sea food?" tanya Diran menatap Syiren dalam dalam.
Syiren menggelengkan kepalanya "Belum tuan... Ini adalah kali pertamanya saya makan disini" Jawab Syiren lugas.
"Kalau begitu. Kita makan di restorant pilihanku ini ya" Ujar Diran.
"Tapi... Sebelumnya saya tidak pernah makan sea food tuan. Apakah nantinya saya tidak akan mengalami alergi?"
"Kita coba saja dulu saja..." Ujar Diran meneguhkan hati Syiren. Syiren tak bisa menolak dan akhirnya ia pun mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu tuan saya mau makan Seafoods... Tapi tuan..." Syiren kembali risih.
"Ayolah Syiren. Jagan ragu... Aku akan mengajarimu cara makan seafood do restorant" Ucap Diran menarik tangan Syiren. Syiren pun turun dari mobil... Diran pun membangunkan Jimmy. Namun Jimmy terlelap seperri bangkai yang tak bisa bangun dengan mudah.
"Biarkan saja Jimmy di dalam mobil" Ucap Diran mengabaikan adiknya.
Diran lekas menggait tangan Syiren dan menyeretnya ke sebuah kursi kosong yang sedikit tenang. Diran memilih kursi yang sungguh estetik dan romantis... Di pinggir kursi itu terlihat kolam ikan yang jernih juga air mancur yang indah. Air mancur itu menyembur di waktu waktu tertentu dengan tarian uniknya...
"Tempatnya sangat indah" bisik Syiren.
"Kamu suka?" Tanya Diran menatap Syiren sayu. Syiren hanya bisa mengangguk "Ya tuan. Ini sangat mengesankan"
"Kita seperti sedang kencan ya?" tanya Diran menatap Syiren dalam dalam.
"...Benarkah? Wah. Ternyata, kencan itu menyenangkan ya" Pekik Syiren berdecak kagum.
Diran tersenyum seraya mulai memegang tangan Syiren lalu meremas lembutnya "Ah!" Pekik Syiren seketika menatap Diran tiba tiba.
"T-tuan..." Syiren sungguh terpekik dan tak menyangka tuan Diran akan terlihat sangat romantis.
"Syiren. Tentang ungkapan cinta mu beberapa hari yang lalu... Apakah kamu sungguh sungguh?" tanya Diran memastikan.
"T-tuan. Apa maksud anda?" Syiren sungguh gemetaran.
"...Maski usia kita terpaut sangat jauh, apakah kamu tetap serius akan pernyatanmu itu?" Sambung Diran. Pertanyaan itu sungguh membuat Syiren malu.
"Jika tuan bertanya demikian, saya akan tetap menjawab... Saya tulus menyukai tuan. Saya ingin selamanya ada di samping anda dan merawat tuan hingga mau memisahkan" tagas Syiren menghirup banyak udara untuk membludakkan perasaannya yang sudah lama ia pendam.
Diran tersenyum ia lekas berdiri lalu menghampiri Syiren, tatapan Diran kian sayu dan terlihat seperti hendak menciumnya. Syiren pun mulai memejamkan matanya seraya menahan jantungnya yang sudah berdetak lebih cepat seakan hendak meledak.
"...Kalau begitu, aku juga menyukaimu..." Bisik Diran di daun telinga Syiren. Syiren kaget hingga ia terbelalak...
Syiren tak menyangka jika Diran akan membisik dan bukan nya menciumnya. Hingga Syiren sungguh malu bukan kepalang.
__ADS_1
"T-tuan" umpat Syiren.
"Kita... Menikah ya" Tegas Diran seraya mengecup punggung tangan Syiren lembut. Syiren tak menyangka ungkapan itu akan lebih cepat di ucapkan oleh pria yang paling ia cintai... Hingga ia terdiam seakan tak percaya pada apa yang telah Diran katakan tadi.