Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Jimmy kritiss


__ADS_3

***


Diran pergi bersama para pihak berwajib, setelah itu.. Kinan yang cemas hanya bisa bolak balik di depan kamar Syiren karna Dokter melarang siapapun masuk, sebelum Syiren di pindahkan ke ruang rawat inap.."Ya allah, selamatkan Syiren. Buatlah dia kuat melewati segala musibah ini ya allah..." Kinan cemas seraya terus saja berdoa. Bahkan Kinan tak bisa menjauh dari kamar Syiren karna ia sangat takut jika Syiren kembali di teror seseorang yang tak menyukainya lagi.


"Kasihan Syiren. Ku mohon Syiren kamu harus kuat!" Bisik Kinan cemas.


Pajar mulai menyingsing, malam pun kinu berganti terang. Kinan ada rasa kantuk di benak Kinan... Tapi ia sangat berusaha keras untuk membuka matanya.


"Astagfirullah... Aku mulai ngantuk" bisik Kinan. Saat netranya mulai tertutup, suara gaduh pun terdengar... Kinan mendengar suara seseorang mengerang "Tuan! Sadarlah! Tuan!" pekik seseorang. Kinan yang hendak terlelap pun terganggu, Kinan lekas menoleh ke arah di mana kegaduhan itu muncul.


Saat ia menoleh, sebuah Brankar di dorong para petugas kesehatan. Disana ada seorang dokter dan tiga suster... Lalu Kinan pun mulai berdiri untuk menyimak "Kasihan sekali..." bisik Kinan menatap darah di kepala pria muda itu di kejauhan. Namun ketika brankar itu mendekat, Kinan pun kembali terbelalak "Apa? Jimmy?" pekik Kinan. Langkah Kinan pun mulai refleks ke arah Jimmy yang terlihat menakutkan.


"Jimmy! Jimmy!" pekik Kinan mengikuti para petugas medis itu. Kinan berlari mengikuti laju brankar yang telah masuk ke dalam ruangan emmergency.


Para petugas rumah sakit masuk, kecuali seseorang dengan pakaian petugas kebersihan "Nona! Apakah anda mengenal pasien itu?" Tanya Petugas kebersihan.


"Ah ia... Kenapa dia? Kenapa dengannya?" tanya Kinan cemas.


"Entahlah nona. Yang jelas saat saya masuk ke ruang kebersihan. Tuan itu sudah tak sadarkan diri, bahkan darah di kepalanya tak kunjung henti. Saya panik dan lekas menghungi pihak kepolisian juga pihak rumah sakit" jelas si office boy itu.


"Astagfirullah... Ya allah rencana apa lagi ini? Kenapa engkau membuat keluarga Tuan Diran terus menerus di timpa musibah"


"Nona. Sebaiknya anda selesaikan administrasinya di ruang sebelah... Lalu nantinya pihak kepolisian akan datang.... Silahkan anda ikut memberi kesaksian, karna saya dan anda pasti akan di panggil" jelas sang Office boy. Kinan mulai mengagguk diam...


"Sebentar saya akan menelpon bos saya dulu"Ujar Kinan.

__ADS_1


"Silahkan" Office boy itu mulai pergi dari sana.


"Hallo Tuan Diran" Sapa Kinan.


"Ya. Ada apa Kinan?" Balas Diran.


"Tuan apakah introgasi anda sudah selesai?" tanya Kinan.


"Ya. Aku dalam perjalanan ke rumah sakit"


"Begitu ya... Kalau begitu, lekas lah kemari... Ada hal yang ingin aku sampaikan" Ujar Kinan.


"Begitu ya. Apakah ini tentang Syiren?"


"Bagitu ya. Baiklah aku akan segera datang ke sana" jawab Diran. Nampaknya Diran memacu kendaraan nya dengan cepat karna ia tak sabar tentang hal apa yang akan Kinan katakan padanya.


"Apa dokter?" Pekik Kinan tak menerima kala sang dokter memponis Jimmy dengan kalimat koma.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin" Ujar snag dokter.


"Tapi kenapa dokter? Kemarin dia baik baik sja!" pekik Kinan cemas.


"Trauma di kepalanya menyebabkan pendarahan internal. Jadi, pasien harus di rawat intensif... jika dalam 24 jam pasien tidak sadarkan diri. Maka kami terpaksa harus melakukan tidak oprasi agar nyawa Pasien bisa terselamatkan" Jelas sang dokter.


"Astagfirullah... Bagai mana ini?" bisik Kinan kian pucat.

__ADS_1


"...Jika jawaban saya membuat anda paham dan puas. Biasakah saya permisi" ujar sang dokter.


Kinan pun mengangguk "Nona. Anda bisa ikut ke ruang dokter untuk mengambil hasil laboraturium" jelas suster.


Kinan pun mengangguk "Kinan!" seru Diran di kejuahan.


"Tuan. Anda datang tepat waktu..."


"kenapa? Kenapa kamu panik begitu?"


"Jimmy tuan. Jimmy masuk Ruang Emmergency" jelas Kinan.


"Apa?" Diran pun panik.


"Kenapa? Kenapa dia bisa masuk ruang Emmergency?"


"Dia di serang, kepalanya mengalami pendarahan hebat... dan yang lebih parahnya lagi. Dia di kurung di gudang peralatan kebersihan"


"Kurang ajar! Siapa lagi yang ada di balik semua ini. Jika aku menemukan orang itu... Aku tak akan tinggal diam!" bathin Diran menggumam.


"Tuan. Kita harus segera ke ruangan dokter untuk mengambil hasil laboraturium... Jika di butuhkan, maka Jimmy harus di oprasi'


"Kasihan sekali dia... Dia sungguh malang, jika sampai aku menemukan siapa dalang di balik penyerangan adikku. Maka aku tak akan tinggal diam..." Diran mengepalkan tangannya dan berucap sumpah serapahnya.


Mereka pun mulai pergi dari tempat tersebut menuju ruang dokter.

__ADS_1


__ADS_2