Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Titik terendah


__ADS_3

***


Diran terbangun, tapi ia terganggu oleh sesuatu. Hingga ia pun menatap ke arah pahanya dan ia pun terkejut di buatnya "Anak siapa ini?" bisik Diran kegat. Di lihatnya oleh Diran Aluna sedang terlelap begitu nyenyak dan nyamannya. Padahal ia ingin beranjak karna kakinya mulai keram karna terlalu lama kedinginan. Tapi nampaknya Diran tak mau bergerak karna takut membangunkan Aluna yang terlihat menikmati paha Diran yang empuk itu.


"Oh astaga... Kaki ku keram..."Bisik Diran berusaha keras agar tak bergerak.


Diran mulai menatap perlahan anak perempuan dengan usia 8 tahunan itu, ia cukup suka pada anak tersebut, apa lagi... Diran belum pernah memiliki seorang anak dan ia berharap kelak akan do anugrahi anak cantik seperti Aluna. Diran tak pernah tahu jika Kinan sudah memiliki anak sebesar dan secantik Aluna... Hingga saat pertemuan pertama Diran dengan Aluna, Diran pun sungguh tak mengenali atau menyadarinya... Bahkan seharusnya Diran tahu Jika Aluna sangatlah mirip dengan Kinan.


"Anak yang cantik..." lama menatap Aluna, Akhirnya Diran pun tergoda dan ingin membelai rambut panjang Aluna yang berwarna ke merahan itu.


"Jika aku beruntung... Aku juga ingin memiliki malaikat kecil seperti ini. Aku sungguh menantikannya..." Diran masih mengelus rambut Aluna yang tergerai lurus itu.


Hingga tak lama kemudian Radit pun datang ke tempat di mana Diran menunggu istrinya "Tuan Diran!" Seru Radit membawa sebuah tab ukuran besar. Diran pun mulai melempar senyuman ke arahnya "Radit. Kapan kamu datang" Tanya Diran ramah.


"Semalam" Napas Radit terengah engah ketika ia sampai di hadapan Diran.


"Lho.. Radit, apa yang terjadi? Kenapa kamu terengah engah begitu? Apakah ada hal yang terjadi?" tanya Diran heran.


"Tuan. Anda harus melihat ini, jika anda melihatnya... Anda pasti akan terkejut!" ujar Radit seraya menyerahkan tab di genggamannya ke arah Diran.

__ADS_1


"Terkejut? Apa maksudmu?" Diran jadi ketakutan kala mendengar penjelasan Radit yang tiba tiba.


"Lihatlah. Apa yang sudah aku temukan" Ujar Radit. Diran pun mulai membuka tab itu lalu melihat sebuah File yang baru di upload "Bukalah File itu..." Pinta Radit.


Diran pun mulai mengangguk dan ia pun lekas menekannya "Pip! Sekatika itu, sebuah Vidio mulai berputar dan mulai memampangkan sebuah adegan yang sungguh mencekam. Adengan di mana Jimmy di lukai berkali kali oleh seorang suster yang menyamar. Hanya saja, wajah suster itu tak terlalu jelas karna ia mengenakan masker juga kacamata.


"Astagfirullah!" Pekik Diran mulai lemas.


"Ini adalah vidio yang saya dapat dari CCTV yang di sematkan di sebelah selatan rumah sakit ini. Hingga gambar yang di ambil pun tak terlalu jelas" Ujar Radit.


"...Terimakasih Radit... Vidio ini sudah sangat jelas untuk menjadi bukti di persidangan. Lena harus menerima hukuman yang berat! Tak akan ku biarkan dia tenang ketika menghirup napas segar di penjara. Akan ku pastikan dia menderita! Bahkan hidup susah matipun tak mau!" Umpat Diran dalam hatinya.


Radit lekas mendekat ke arah gadis kecil di pangkuan Diran "Wah. Aluna sungguh membuat anda kerepotan ya?" tanya Radit seraya meraih tubuh gadis mungil itu.


"Oh... Tuan, ini adalah anakku..." Balasnya singkat.


"Apa? Anak? Anak kalian? Tidak tidak, maksudku... Anak Kinan dan kamu?" tanya Diran.


"Ya. Tentu saja, bukankah tuan juga datang saat syukuran aqiqqah Aluna 9tahun yang lalu?" Tanya Radit. Diran sungguh sungguh lupa pada moment itu karna ia terlalu sibuk bekerja "Astagfirullah... Ternyata sudah selama itu aku tak berjumpa dengan anak mu yang dulu se ukuran ini" ujar Diran memperaktikan tangannya dan mengukur tubuh Aluna kecil.

__ADS_1


"Ternyata waktu sungguh cepat berlalu, ya kan tuan?" tanya Radit. Diran hanya bisa membalas senyumanan pada Radit. Ia sungguh tertarik dan ingin segera menimang bayi... Tapi, dulu saat ia bersama Lena ia bahkan tak bisa membuat Lena mengandumg anaknya. Diran juga tak mau memeriksa ke suburannya karna ia sangat takut jika nantinya dirinya akan di nyatakan mandul oleh dokter.


"Tuan Diran" Kinan menghampiri Diran yang kala itu larut dalam lamunannya.


"Sayang. Kamu dari mana?" tanya Radit yang masih menggendong Aluna.


"Aku habis dari ruangan Jimmy. Dan hari ini Jimmy di pindahkan ke ruangan Observasi... Kita doakan semoga Jimmy bisa melewati pase kritisnya ya... Jika ia masih koma dalam waktu 2x Dua puluh empat jam... Maka, dokter tak bisa melakukan hal lain selain menyatakan tanggal kepergiannya' Jelas Kinan menahan sebuah tangisan. Radit bisa membaca nanar Kinan yang nyaris menangis.


"Astagfirullah..." Pekik Diran mulai membuyarkan lamunanya.


"Sayang. Sayang... Kamu harus berdoa. Kita doakan agar Jimmy bisa melewati semua ini... Aku tahu, dari kecil Jimmy adalah anak yang kuat" ujar Radit memeluk istrinya yang terlihat larut dalam kesedihan.


"Hiks... Astagfirullah. Ya allah, cobaan apa lagi ini. Kenapa hidupku berantakan sekali setelah bertemu dengan wanita kejam itu!" Bentak Diran tak kausa menahan amarahnya. Ia menggebrak kursi yang kala itu ia duduki hingga terdengar bunyi yang cukup keras dan membuat siapapun kegat.


Brak!!!


"Dia sudah menghancurkan ku sehancur hancurnya! Kenapa dia begitu membenciku! Padahal aku tak pernah menghianatinya secuil pun! Aku selalu menghargai keputusannya meski itu menyakitiku... Tapi kenapa? Balasan yang dia berikan sungguh sangat berat untuk ku terima ya allah... Ya allah! Aku mohon... Aku mohon berikanlah aku kesabaran! Kesabaran untuk menghadapi kenyataan pedih ini" Diran tak kuasa dengan apa yang terjadi padanya atas ulah Lena.


Diran merasa hidupnya hancur sehancur hancurnya. Radit mulai memindahkan tubuh Aluna yang mulai bangun karna gertakan Diran yang keras. Radit duduk di samping Diran dan memberinya pelukan "Tuan... Bersabarkah. Semua ini akan indah pada waktunya kelak..." Jelas Radit berusaha menenangkan Diran.

__ADS_1


"Hiks...cobaan ini sungguh berat Dit! Aku nggak bisa menerimanya... Aku sungguh menderita, baru saja mertua ku meninggal. Lalu istriku hampir celaka... Dan sekarang adikku kritis. Siapa yang mampu melewati beban berat ini.. Aku sungguh tak sanggup menghadapinya Dit. Aku tak bisa... Hik huhuhuh" Diran tak bisa lakukan apapun. Dia sudah berada di titik terendah dalam hidupnya...


Diran, berjuanglah...


__ADS_2