
***
Diran selesai mendapatkan hasil Diagnosa adiknya. Hari ini Diran sungguh di pukul beberapa kali hingga ia sedikit drop atas kejadian yang menimpa keluarganya secara berturut turut itu "Tuan. Anda yang sabar ya" ujar Kinan berusaha menenangkan presdir yang hampir mangkir beberapa kali dari kantornya itu akibat musibah yang terus muncul lalu menelornya setiap waktu.
"Terimakasih Kinan" Balas Diran merengutkan wajahnya.
"Jika anda lelah, aku dan suamiku akan berjaga. Jadi anda beritirahatlah" Pinta Kinan.
"Tidak Kinan. Aku akan menjaga Syiren dan Jimmy secara bersamaan. Kamu boleh pergi, aku ucapkan banyak terimakasih karna kamu selalu memprioritaskan aku dan kluargaku"
"Jangan khawatir tuan... Aku sudah menganggap anda sebagai saudaraku sendiri" Kinan memang ingin pulang. Tapi ia putuskan untuk tetap berjaga dan menemani Diran di ruang tunggu pasien.
Tanpa sadar, Mungkin karna lelah Diran pun terlelap dan menyender ke dinding dingin bercat putih itu "Kasihan sekali tuan ku" Bisik Kinan menggelengkan kepalanya sedikit takjub pada pria itu.
Kinan tak ingin sendirian menunggu dan ia pun putuskan untuk menelpon suaminya, akhirnya tak berselang lama... Radit pun datang bersama anak sulung mereka.
"Mama" Pekik Aluna anak Kinan dan Radit, Aluna bisa masuk ke rumah sakit karna umurnya sudah memenuhi syarat.
"Ah. Aluna! Kenapa kamu ikut nak?" tanya Kinan senang hingga ia menyambut Aluna dengan tangan hangatnya yang lebar itu. Aluna seketika menggelayuti tubuh ibunya.
"Sayang. Kamu baik baik saja?" Peluk Radit mesra, ia memeluk Kinan penuh cinta dengan nanar yang di penuhi rasa cemas... Ia mulai mengecup pucuk kepala istrinya.
"Sayang aku baik baik saja..." Balas Kinan seraya mengembangkan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Syukurlah. Aku sungguh khawatir, sebab malam malam kamu gelagapan seperti orang kesurupan. Aku jadi khawatir padamu sayang"
"Tenanglah sayang. Tuan Diran adalah prioritas utama ku... Begitu pun kalian. Jadi, jika tuan Diran kesusahan mau tak mau kita harus membantunya. Dia pun tak pernah perhitungan dengan kluarga kita. Bahkan pengorbanannya sangat besar... Ya kan sayang?" tanya Kinan seraya menjelaskan.
"Ya. Diran sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, tapi sungguh di sayangkan... Nasibnya tak semujur kisah asmara kita ya sayang?"
"Benar. Lihatlah, wajah lelahnya sungguh tampak mengenaskan"
"Oh ia. Katanya ada insident di ruangan Syiren" Tanya Radit.
"Ya. Semalam Syiren hendak di bunuh oleh Lena... Tapi beruntung, Tuan Diran segera datang dan mengkondisikan segala situasi yang ada... Jika Tuan Diran tidak menemani Syiren malam ini. Mungkin Syiren sudah tewad di tangan Lena'
"Kejam sekali mantan istri Tuan Diran, bukannya tempo hari... Ia sudah wafat dalam insiden kebakaran di lapas? Tapi Kenapa dia malah kembali dan menelor hidup baru tuan Diran"
"Janggal. Apa maksudmu sayang?" tanya Radit pada istrinya.
"Jimmy dan Syiren sama sama hampir mati malam ini. Aku curiga, hal ini ada kaitannya dengan dendam Lena pada Diran..."Lirih Kinan bertukar pendapat dengan suaminya.
"Jika ini ada hubungannya dengan Lena. Pasti akan ada sebuah bukti... Misalnya CCTV yang merekam kejadian dimana Lena melakukan aksinya" Imbuh Radit seraya mencercidkan alisnya.
"Sebaiknya kita berusaha menemukan pelaku utama dari segala teror ini. Aku tak mau tuan Diran terus saja di hantui rasa ketakutan... Jika pelaku nya sudah tertangkap. Kita bisa mulai lega" ujar Kinan.
"Baiklah. Aku akan mencari barang bukti semoga saja ada CCTV yang jelas. Agar kasus ini bisa kita selesaikan...Dan tuan Diran bisa bernapas lega" Ujar Radit.
__ADS_1
"Baiklah. Hati hati lah sayang..."
"Ya..." Radit lekas menghilang dan menuju tempat di mana Jimmy di temukan tergolek lemah tak berdaya.
"...Ibu. Ayah mau kemana?" tanya Aluna.
"Ayah akan keluar sebentar. Aluna tunggu disini dan jaga Oncle Diran ya. Ibu akan segera kembali"
Aluna mengangguk diam dan dudum di samping Diran. Aluna menurut saja, hingga ibunya pun pergi dari ruang tunggu pasien itu.
"Oncle Diran... Aku akan menjaga anda di sini" Bisik Aluna seraya ikut menyenderkan kepalanya di dinding persis seperti apa yang di lakukan Diran.
***
"Ya dokter saya sudah menyelesaikan administrasinya" ujar Kinan.
"Kalau begitu, Tuan Jimmy akan di pindahkan ke ruang observasi..." Ujar sang dokter.
"Baik dokter... Tolong lakukan yang terbaik untuk Jimmy" Pinta Kinan.
Dokter hanya bisa mengangguk diam...Akhirnya yang bisa Kinan dan Radit lakukan adalah menunggu hasil dari dokter terkait kesadaran Jimmy.
Mungkin Radit juga sudah menemukan dalang di balik penyerangan Jimmy tadi malam. Sebab, langkah dan gerak gerik Lena telah terpantau sangat jelas di dalam rekaman CCTV.
__ADS_1