Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Nyaris saja


__ADS_3

"BUAK!" Diran menendang pintu kamar pasien dengan kakinya. Dan ketika ia sampai dalam kamar pasien yang di pakai Syiren untuk merawat penyakitnya. Netra Diran malah di kejutkan dengan keadaan yang sangat buruk "Syiren!" Pekik Diran. Lena yang sedang berkutat menekan bantal di wajah Syiren pun mulai menoleh ke arah Diran yang kala itu berdiri seraya membelalakan matanya.


Mas Diran? Celaka... Aku harus kabur! Bathin Lena.


Diran refleks memutar kakinya dan menendang Lena kuat kuat "Buak!"


UGGHHH! Lena terpental seraya memuntahkan cairan basah. Brak! Tubuh lena yang terhempas itu mulai tergeletak di sudut ruangan dengan posisi meringkuk. Lena sampai pingsan karna tendangan Diran sangatlah kuat.


"Dokter! Dokter!' Teriak Diran seakan menggila, ia menghampiri Syiren lalu melepas bantal yang kala itu di pakai Lena untuk menindih wajah Syiren.


"Syiren!" Pekik Diran menatap Syiren yang lemas dan tak sadarkan diri.


"Tidak! Syiren bangunlah! Dokter! Dokter!' Teriakan Diran pun berhasil membawa dokter bersama ke enam suster juga satu asistennya untuk sampai ke kamar pasien "Apa yang terjadi tuan?" panik sang dokter.


"Tolong periksa istriku! Dia hampir mati di bunuh suster gadungan itu!" Tunjuk Diran pada Lena.

__ADS_1


"Biarkan kami memeriksanya' Ujar para dokter itu sigap.


"Tuan Sialahkan tunggu di luar" pinta Suster.


Diran pun mengangguk "Dokter lalukukan yang terbaik untuk istriku! Ku mohon... Sebab dialah harta ku satu satunya yang paling berharga" Cerocos Diran seraya tangisan tak berhenti berderai di matanya.


"Kami akan lakukan yang terbaik untuk istri anda. Jadi, tolng bersabar dan berdoa ya" pinta sang dokter. Diran mengangguk dan lekas melangkah ke arah Lena lalu mengendongnya keluar.


BLAM! Pintupun tertutup. Diran seketika ada di luar ruangan Syiren, Dira sungguh kesal pada perempuan di gendongannya itu. Diran lekas menurunkan Lena di kursi ruang tunggu "Teganya kau Lena! Kau sudah mati dan kembali hidup untuk membunuh Syiren! Kenapa kau bersandiwara! Aku sudah muak denganmu dan segala kebohonganmu ini Lena! Akan ku tuntun kau dengan hukuman yang lebih berat lagi!" Bathin Diran menggumam. Tangannya di kepal erat seakan menahan amarah dan kebencian.


Lama menunggu akhirnya, Kinan pun datang berbarengan dengan pihak kepolisian...


"Aahh! Tidak mungkin! Bukannya Lena sudah tewas dalam kebarakaran?" pekik Kinan tak percaya kala netranya di suguhkan pemandangan tersebut. Pemandangan dimana Kinan menyaksikan sendiri bahwa Lena benar benar belum mati "Wanita ini hendak membunuh Syiren. Untung saja Syiren teriak... Jika tidak ia akan benar benar tewas" Jelas Diran menandang dingin ke arah Lena.


"Pak tangkap dia! Dia hendak melakukan percobaan pembunuhan pada pasien dalam kamar nomor 123" Ujar Kinan.

__ADS_1


"Baik. Kami akan menangkapnya, untuk mempermudah proses penahanan. Keterangan anda akan sangat kami butuhkan. Oleh karna itu, tuan Diran silahkan datang ke kantor polisi untuk memberikan beberapa bukti" Ucap para pihak berwajib.


Klek!


Pintu kamar pasien terbuka...


"Dokter!" Pekik Kinan menghampiri.


"Dokter bagai mana keadaan Syiren" Dokter tampak sedikit sedih. Ia mulai melepas maskernya...


"Untung tuan Diran datang di waktu yang tepat, telat sedikit saja... Sianida cair ini bisa masuk kedalam infusan pasien lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. Beruntung nyawa pasien masih bisa di selamatkan' Dokter memberikan jarum suntik berisikan Sianida yang belum di tekan Lena tadi.


"Ini akan membantu proses penyelidikan" Ucap sang petugas.


Tak lupa, para petugas pun membawa serta bantal dan segala macam yang Lena sentuh agar menjadi bukti yang kuat, hingga Lena mampu di jatuhi hukuman yang maksimal sesuai kejahatan yang ia lakukan. Diran turut serta untuk ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait aksi percobaan pembunuhan Lena.

__ADS_1


Sedangkan kinan di tugaskan menunggu Syiren hingga ia sadar. Lantas apa yang terjadi pada Jimmy? Apakah ia tewas karna ke habisan darah?


__ADS_2