Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Terciduk


__ADS_3

"Ini sudah keterlaluan!! Sampai sampai bibi pun meninggal gara gara ke serakahan Lena... Aku sudah tak bisa memaafkannya lagi!" Geram Diran mengepalkan tangannya. Diran pun mengayuh kursi rodanya menuju pintu keluar... Namun belum sampai di tempat tujuannya. Pintu kantor Diran malah kembali terbuka... Dan seseorang masuk bersama ke tiga pria plontos sebayanya.


"Ternyata kalian ada di sini" Lugas Yuda menggondol karung putih di belakang punggungnya.


Diran terbelalak dan mendonggakan wajahnya kearah Yuda "Kalian... untuk apa kalian datang ke kediamanku?" Geram Diran dengan nada sedikit gemetaran. Yuda terkekeh seraya menyungingkan bibirnya "Untuk apa? Hehehehe... Tentu saja menjalankan tugasku. Lagi pula, istri bodohmu itu sudah mempersilahkan kami merampok dan merencanakan untuk membunuhmu... Tapi lihat itu, dia malah mampus duluan... Hahahaha, artinya... Semua harta yang ku dapat. Akan ku habiskan sendiri" Yuda sungguh bangga kala rencananya berjalan lancar.


Diran marah karna Lena di manfaatkan oleh pria payah di hadapannya itu "Beraninya kau mempermainkan istriku" Bentak Diran.


"Jangan naif, kau pasti tahu kan hubungan kami seperti apa... Kau sendiri telah di hianati oleh istri payahmu itu... Sekarang, aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Jadi, matilah kalian sekarang juga" Imbuh Yuda meraih pistol di saku celananya dan mengarahkan pistol itu ke area kepala Diran. Syiren terbelalak...


Tuan Diran dalam bahaya... Bathin Syiren.


"Akan ku hitung sisa hidupmu hingga hitungan ke tiga... Satu, Klek! Platuk pistol di tarik. Dua... Trak, suara mesin terkunci... Satu... Yuda mulai menarik pelan pedal yang ada di jari telunjuknya. Syiren membelalakan matanya...

__ADS_1


DOR!! Dor!!! Dorr!! **Suara letusan pistol mulai menggema... Sesaat telinga Syiren terasa tuli kala memejamkan matanya...


"Uhuk..." Yuda malah terbatuk**.


Senjata yang ia genggam mulai jatuh dan tangannya gemetaran "...K-kau..." Yuda menoleh pelan dengan gemetaran, ia muntah darah beberapa teguk dan mulai menjatuhkan dirinya di lantai "Bos..." Pekik para pria ploontos itu.


"Menyingkir!! Jika tidak... Akan ku buat kalian merasakan tembakan yang sama dengannya!" Bentak Syiren memegang pistol bekas Lena yang tergeletak di depannya.


"Hikss.. Aku membunuhnya... Aku membunuhnya... Hikss.. Tanganku membunuh orang" Syiren gemetaran.


"Jangan ladeni dia. Kita pergi saja sebelum rencana kita berantakan... Kau bawa karung itu! Aku akan membopong bosmu... Lalu bawa rekan kita keluar" pinta salah satu pria plontos pada Rekannya.


Mereka mulai menyingkir, dan membawa serta hasil jarahannya "Awas kau wanita ******! Akan ku buat perhitungan denganmu!" Bentak pria plontos itu seraya membopong temannya. Mereka mulai menghilang di balik daun pintu.

__ADS_1


Blam!!


'Syiren kau baik baik saja?" tanya Diran. Syiren mengangguk dengan wajh pucat dan tubuh bergetar.


Diran menghampiri Syiren, tangan Syiren masih mengarah sigap ke area pintu keluar kantor Diran bersama senjata yang ia pungut tadi. Diran khawatir pada Syiren hingga ia mulai perlahan menurunkan pistol di genggamannya dan melepaskan pistol itu dari tangan mungil Syiren.


"Jangan takut... Aku ada di sini" Mata Syiren yang sembab dan berkaca kaca itu mulai perlahan mendelik ke arah Diran.


Dari tatapan tersebut, Diran sungguh tak tega menatap nanar wanita tersebut. Hingga ia pun turun dari kursi rodanya dan meraih tubuh mungil wanita itu lalu memeluknya erat "Jangan takut... Aku baik baik saja, jangan khawatir... Semua akan baik baik saja" Mendengar ucapan Diran yang mencoba menenangkan hati Syiren malah membuatnya ingin menangis.


"Hiks... tuan! Aku sudah membunuh... Aku seorang pembunuh..." Tangis Syiren tak kunjung henti.


Diran berusaha keras menenangkan wanita itu meski hasilanya adalah nol besar Syiren masih saja mengis hingga sesegukan...

__ADS_1


__ADS_2