Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Tak ada ujungnya


__ADS_3

"Lena... Mulai hari ini, aku tak perduli lagi padamu!" Ucap Diran seraya mengabaikan istrinya lalu mengayuh kursi rodanya menuju ruang lain di kediaman itu.


Sementara Lena yang skakmatt itu hanya bisa diam dengan tangan di kepalnya erat erat. Giginya pun mendecit gemas karna menahan amarah yang tak bisa ia keluarkan.


"Aku nggak terima kamu perlakukan aku seperti ini mas. Lagi pula, kamu sendiri yang sudah janji... Bahwa seumur hidupmu. Kamu tak akan menceraikan ku..." Bisik Lena dengan nanar yang kacau.


"...Lihat saja nanti. Akan ku buat kamu menyesal karna telah menghinaku seperti ini mas!" Tegas Lena masih mengumpulkan unek unek di kepalanya.


Sementara rumah besar penuh pertikaian itu tengah memanas... Bi Mari dan Syiren hanya bisa menunduk di ruang makan dengan wajah sedih mereka...


"Kalau nyonya Lena sedang marah pada tuan Diran. Aku nggak berani keluar bi..." ujar Syiren.


"Sama ndok bibi juga... Tapi bibi selalu kasihan sama tuan Diran" balas Bi Mari mendesas desus.


"Ya sudah bi... Dari pada nanti kita yang kena. Sebaiknya aku buatkan bubur hangat untuk tuan Diran" Syiren mulai berkutat di dapur.


"Ya ide bagus tuh... Lagi pula tuan Diran harus makan malam lalu meminum obatnya" ujar Bi Mari...


"...Ya bi. Agar tuan lekas sembuh..." Syiren selesai mengemas bubur di mangkuknya. Ia pun menaruh beberapa keperluan lain berupa sendok dan air putih, juga beberapa pil pemberian Dr Coules untuk kesembuhsn Diran.


Jam segini biasanya tuan Diran sedang ada di dalam ruangan kerja pribadinya. Bathin Syiren. Ia mulai melangkah ke arah tersebut.

__ADS_1


Tok Tok! Dua kali ketukan pintu Diran tak menyahutnya "Kenapa tidak di balas? Apakah tuan Diran tak ada di dalam ya?" Tanya Syiren Ia penasaran lalu masuk ke dalam untuk memastikan.


Klek! Pintu terbuka dan Syiren pun masuk ke dalamnya. Ia mulai perlahan menapaki lantai ruangan Diran.


"Tuan muda... Waktunya makan lalu minum obat" Ujar Syiren seraya mencari sekeliling. Syiren lekas menaruh tatakannya dan mencari nya ke toilet.


"Kemana tuan Diran pergi?" tanya Syiren.


Baru saja kakinya melangkah beberapa hentakan, Syiren di kejutksn dengan suara tangisan seorang pria yang terasa menyayat hatinya.


"Hiks... Hikss" Suara napas yang seakan sesak itu membuat hati Syiren tergugah. Syiren menghampiri pusat suara itu lalu membuka Toilet tersebut. Dan benar saja, disana Diran sedang berdiri dengan tubuh menyender di dinding toilet. Wajahnya pucat dan basah oleh air matanya.


"Tuan..." Seru Syiren. Diran menoleh sesaat lalu menatap Syiren di ke jauhan "kenapa kamu kemari?" Pekik Diran menurunkan nada bicaranya. Diran pun membuang wajahnya dan membungkam mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Tuan... Waktunya minun obat" Ujar Syiren manghampiri Diran.


"Nanti saja..." balas Diran enggan merespon Syiren.


"...Tapi tuan. Dr Coules bilang bahwa anda harus rutin minum obat jika anda ingin sembuh" Syiren menarik kursi rodanya lalu meminta Diran duduk. Saat Diran di tarik duduk oleh Syiren. Beberapa lembar poho yang telah di cetak pun berserakan di lantai. Sementara Diran mulai duduk pasrah di kursi rodanya dengan mata yang sembab.


"Apa ini?" tanya Syiren menatap front photo yang ia pungut.

__ADS_1


"...Jangan sentuh itu!" Pekik Diran. Tapi terlambat, Syiren sudah melihatnya dan malah ia memunguti potret yang lain dengan perasaan yang hancur.


"T-tuan ini..." Syiren mulai menoleh Diran dengan sorot mata yang berkaca kaca.


"Sudah ku bilang jangan sentuh dan ligat barang barang pribadiku" bisik Diran menutup wajahnya. Syiren mulai berdiri dengan hati yang hancur...


"Tuan..." Syiren menghampiri Diran lalu menyerahkan hasil jepretan kamera manual itu ke tangan Diran.


"Maaf tuan. Aku tak bermaksud masuk ke dalam privasi anda..." lenguh Syiren sedikit menyesal telah tahu kebiasaan buruk Lena.


Bagai mana hati Syiren tidak tersayat. Baru saja Syiren tanpa sengaja menatap potret kemesraan Lena dengan Yuda yang begitu fulgar di area hotel tempat Lena selalu menghabiskan malam berdua saja.


"Aku ingin sembuh!' Bentak Diran memukul pahanya.


"Aku ingin bisa berjalan lagi! Aku ingin membuat istriku menyesal karna telah membuang ku!!" sambung Diran terus memukul mukul pahanya.


Syiren berlari ke arah Diran lalu tanpa ia sadar ia pun memeluk Diran "Hentikan tuan. Jangan sakiti diri anda... Ini bukan salah anda. Nyonya Lena hanya sedang gelap mata... Tuan jangan menyalahkan diri tuan lagi..." pinta Syiren seraya memeluk Dirab erat.


Diran terdiam sesaat sebelum ia ingat bahwa wanita yang paling ia cintai itu berbuat serong di belakangnya. Mau di sembunyikan berapa dalam lagi pun hasilnya tetap sama karna akan tercium juga. Dan akibat ulah Lena, Diran harus menerima ke pahitan dalam hidupnya karna telah di hianati sang istri tercinta.


Diran pecah dalam tangisan... Syiren hanya bisa memeluk Diran agar ia tahu bahwa dalam keterpurukannya. Diran tidaklah sendiri, karna masih banyak yang perduli padanya...

__ADS_1


__ADS_2