
"Kamu baik baik saja?" tanya Bi mari mengompres memar di pipi Syiren.
"Sakit bi... Kenapa nyonya Lena menamparku tadi. Aku sungguh sakit hati bi..." lenguh Syiren tak habis pikir.
"Nyonya Lena tak tahu apapun mungkin dia hanya salah paham padamu, dia pikir kamu menumpahkan kopi itu di tubuh tuan Diran" Ujar Bi Mari.
"Mungkin juga bi... Soalnya tadi juga ia berkata demikian" Jelas Syiren mengeluh.
"Kamu akan lekas baikan" Ucap Bi Mari.
"...Makasih bi. Aku akan segera menjenguk tuan Diran... Siapa tahu, aku di butuhkan disana..." ujar Syiren.
"Ya pergilah. tolong sampaikan rasa khawtir bibi pada tuan Diran..." Pinta Bi Mari.
"Siap bii..." Syiren pun mulai pergi ke arah dimana Dokter Coules memeriksa Diran.
"Oh itu... Tuan Diran di periksa di ruang tamu" bisik Syiren menghampiri Diran.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Dr Coules.
Dari alur percakapan yang tak sengaja Syiren dengar, rupa rupanya Diran menceritakan tentang Lena yang telah berselingkuh di belakangnya.
"Dr. Apakah aku bisa kembali normal lagi? Mungkin istriku berselingkuh karna aku cacat..." keluh Diran.
"...Kenapa dulu kamu menolak di rawat? Padahal jika kamu rutin melakukan cek up dan terapi, mungkin saja peluang besar pada kesembuhanmu akan sangat besar" Jelas sang dokter.
"...Kalau begitu, meski terlambat aku ingin sembuh dan bisa berjalan lagi... Setelah aku sembuh, aku akan menalak istriku. Aku sudah tak perduli lagi padanya!" Marah Diran.
Mendengar curahan hati Diran pada Dr Cuoles membuat Syiren tak bisa menahan air matanya. Syiren menangis sesegukan dan merasa tak percaya pada apa yang ia dengar.
"Siapa di sana? Ayo perlihatkan dirimu" ucap sang dokter.
Syiren yang tak bisa menahan tangisannya itu pun mulai keluar dari persembunyian dirinya dan lekas menatap Diran dengan nanar yang sembab.
Gadis itu? Apa dia menguping pembicaraan ku? Lalu untuk apa dia menangis? Tanya Diran dalam hatinya.
__ADS_1
"Kamarilah nona..." Pinta Dr.
Syiren lekas mengahampiri Dokter dan Diran "Maafkan saya. Saya tak bermaksud menguping" Ucap Syiren penuh penyesalan.
"Jangan khawatir... Tuan Diran tak akan marah padamu" Jelas sang dokter.
"...Kamu mendengar semua pembicaraan kami?" tanya Diran dingin.
"Maafkan saya tuan" Lenguh Stiren menunduk.
"...Dasar penguntit" celetuk Diran.
"Hiks... Tuan, jika anda ingin sembuh... Saya akan membantu anda, dokter... Jika tuan Diran bisa kembali berjalan lagi, saya akan mengantarnya terapi setiap hari jika di perlukan..." Tangis Syiren tampak cengeng. Dokter tersenyum "Tuan muda bisa sembuh... Tapi, dia harus rutin cek up kesehatannya lalu terapi berjalan, kelak Tuan muda tidak boleh memakai kursi roda agar staraf halusnya bisa terangsang kembali" jelas sang dokter.
"Hiks... Benarkah? Hiks hikss.. Syukurlah jika tuan Diran bisa sembuh. Aku sungguh ikut senang, tuan Diran berhak bahagia... Tuan Diran juga berhak sembuh... Saya akan senantiasa membatu tuan Diran sebisa mungkin" Jelas Syiren panjang lebar.
"Kamu sungguh perawat yang baik... Tuan muda pasti sangat beruntung punya suster penuh perhatian sepertimu"
__ADS_1
Apa artinya itu? Apakah benar dia khawatir padaku? Sampai sampai dia menangis untukku... Bahkan dari raut wajahnya saja sudah jelas jika dalam tangisannya ada sebuah ketulusan besar untukku... benarkah? Sejak kapan... ada seseorang yang perduli padaku dan mau menangis untukku. Bahkan istriku sendiri saja tak bisa meneteskan setitik air matanya untuk ke adaanku yang memprihatinkan ini. Bathin Diran menggumam.
Mulai saat ini, Diran akan sangat bersemangat untuk berjuang menempuh jalan medis untuk kesembuhannya. Ia ingin membuktikan pada istrinya bahwa dia bukanlah pria cacat tak berguna seperti yang Lena katakan.