Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Ikut bahagia


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


"Alhamdulilah! Tuan!" Syiren sungguh bahagia. Nanarnya mulai berkaca kaca ketika melihat Diran berdiri tegak dan melangkah dengan gagahnya tanpa harus mengayuh kursi roda atau pun tongkat untuk menopangnya berjalan.


"Ya Syiren. Alhamdulilah... Tak percuma ihtiarku selama ini demi kesembuhan ku" Diran sungguh bahagia begitu pun Syiren yan menangis haru.


"Kalian sungguh sudah berusaha dengan baik. Dan ternyata usaha apapun tak akan pernah menghianati hasil. Oleh karna itu, Tuan muda kini sembuh total. Hanya saja tuan muda tetap harus meminum obat anda secara rutin untuk memeliha syaraf syaraf di selaput otot anda" ujar sang Dokter.


"Baik Dok. Trimakasih atas bantuan anda selama ini... Tanpa bantuan dan motifasi dari anda, saya tak mungkin bisa seperti ini" Balas Diran menjabat tangan sang dokter begitu bahagiannya.


"Jangan sungkan. Anda adalah pasien saya... Jadi, saya akan melakukan yang terbaik untuk anda" Ucap sang dokter.


Betapa bahagianya Diran begitu pun Syiren, mulai hari ini... Syiran tak akan lagi mendorong kursi roda Diran. Begitupun Diran, ia tak akan duduk diam di kursi roda itu dan bekerja hanya di dalam rumah.


"Syiren... Ada hal yang ingin aku sampaikan" Diran mulai menghampiri Syiren. Nampaknya Diran akan bicarakan hal yang cukup penting dengannya...


"Hal penting? Tentang apa itu tuan? Jangan jangan, anda akan memecatku... Karna mulai saat ini, saya sudah tidak bisa mendorong kursi roda anda... Dan anda sudah tidak duduk di kursi roda itu lagi. Dan saya, saya sudah tidak bisa menjadi suster untuk anda lagi... dan nanti saya jadi pengangguran... Saya tidak..." Syiren nyerocos terus hingga membuat Diran kesulitan untuk menyela perkataannya.

__ADS_1


"Sssstttttt" Diran lekas membungkam bibir Syiren dengan satu jemari lentiknya. Seketika Syiren yang saat itu gundah bersama tangisannya itu mulai diam tak berkutik.


"...Jangan bicara lagi, jangan memikirkan hal hal aneh... Aku bukanlah orang yang akan membuang sesuatu tanpa sebab" jelas Diran mulai merangkup wajah Syiren lalu menepis butiran basah di pelipisnya.


"T-tuan..."


Dua pasang netra itu saling berpautan satu sama lain, Diran tersenyum manis ke arah Syiren lalu memintanya memilih sesuatu "Ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu"


"Tuan tentang apa itu? Jantungku mulai berdebar debar karna takut juga penasaran" Syiren masih menduga duga tentang hal apa yang akan Diran katakan padanya.


"Hal pertama yang harus aku sampaikan adalah, Aku ingin mengucapkan banyak terimakasih, terimakasih karna telah menolongku saat aku hampir mati dalam insident kecelakaan itu..." Tegas Diran.


"...Kamu memang sangat polos" Diran terkekeh seraya mengembangkan pipinya.


"Aku ter lihat bodoh ya?" tanya Syiren menundukkan wajahnya malu malu.


Diran kembali tersenyum "Tidak kok. Kamu cantik, baik dan sempurna" puji Diran menatap Syiren dalam dalam.

__ADS_1


Syiren menunduk malu lalu sesekali menatap Diran dan kembali menunduk "T-tuan... Saya sungguh malu" Syiren lekas menutup wajahnya dengan kelima jemari yang ada.


"Syiren, Hal kedua yang ingin aku sampaikan adalah..." Diran mulai meraih satu persatu jemari Syiren, dan menurunkan tangan itu dari wajahnya.


"...T-tuan" Bisik Syiren.


"Yang kedua adalah, aku ingin mengajakmu jalan jalan ke tempat mana pun yang ingin kamu kunjungi dan yang kamu sukai, sebagai hadiah karna kamu telah menemaniku hingga saat ini. Hingga aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri ..." jelas Diran panjanh lebar. Syiren tak penah menyangka jika Diran akan memberikan Survise yang tak pernah Syiren pikirkan sebelumnya.


"Hiks... Hikss..." Syiren malah menangis.


"Lho kok kamu malah menangis sih?" Bingung Diran, ia tak pernah menyangka jika ekspresi Syiren malah sedih.


"Hiks... Trimakasih Tuan... Selama ini, Hiks... Hanya anda yang baik pada saya selain Nyonya Lena. Meski saya baru tahu jika Ny Lena hanya memanfaatkan saya... Tapi saya juga tidak pernah membancinya. Saya juga menghormati ny Lena seperti saya menghormati anda"


"Hem... Dasar, aku pikir kamu menangis karna marah" Diran mulai meraih pucuk kepala Syiren dan menariknya ke dadanya. Ia mendekap Syiren seperti memeluk kucing kecil lalu menpuk nepuk punggung Syiren.


"Tenanglah... Aku yang akan menjagamu mulai sekarang" Diran sudah tak sungkan lagi pada Syiren. Meski perhatian Diran yang saat ini membuat Syiren sedikit canggung dan tidak nyaman.

__ADS_1


"Terimakasih tuan..."


Jantung Syiren memacu kencang, Dan Diran tak pernah menyadari itu, Kian hari... Hati Syiren sungguh di penuhi satu nama... Yakni tuan Diran. Bagai mana ini... Aku jadi makin suka pada tuan Diran. Dan jika tuan Diran sampai tahu seperti apa perasaanku pada nya... Dia pasti akan sangat marah. Bathin Syiren menggumam.


__ADS_2