Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Pernikahan yang hambar


__ADS_3

***


Usai di periksa sang suster, Syiren pun mulai sadar "Di mana ini?" tanya Syiren menatap langit langit ruangan pasien.


"Syiren. Syukurlah!" Diran lekas memeluk Syiren dan mencoba menenangkannya.


"Tuan Diran. Apa yang terjadi pada saya"


"Syiren. Kamu harus kuat ya. Jangan drop seperti ini... Kamu yang begini membuatku takut, aku sungguh sedih Syiren jika melihatmu menderita begini" Ucap Diran mendekap wanita itu.


Syiren pun mulai ingat "Ibu! Ibuku... Apakah ini mimpi tuan? Ibuku... Ibu sendirian di ruang jenasah" teriak Syiren kembali histeris.


"Syiren. Sabarlah... Kamu harus kuat"


"Tapi tuan. Aku nggak sanggup di tinggal ibuku selamanya. Aku tidak bisa membiarkannya terbaring di tanah sendiri dan kedinginan. Aku butuh ibuku... Ia bahkan belum melihatku menikah" Tangis Syiren.


"Syiren. Ibumu bahagia... Ibu mu sudah bahagia! Jangan kamu tangisi lagi kepergiannya" Pinta Diran.

__ADS_1


"Hiks. Ibu... Ibu! Aku ingin bertemu dengan ibuku. Aku sungguh menyesal... Di saat saat terakhirnya. Aku bahkan tak ada di sampingnya... Ibuku mengerang sendirian. Aku sungguh anak yang durhaka... Maafkan aku ibu, karna aku telah mengabaikan mu di rumah sakit ini" Racau Syiren tanpa henti. Mata Syiren bahkan sudah sembab karna tak henti menangis.


Diran sudah tak bisa lakukan apapun lagi untuk Syiren. Ia tak bisa membuat tangisan Syiren berhenti... Juga ia tak bisa menghibur kepedihan wanita itu. Diran putuskan untuk melepas Syiren dari pelukannya "Syiren. Ada hal yang ingin aku sampaikan padamu" Ujar Diran.


Syiren masih menangis pilu dan tak menghiraukan perkataan Diran "Ini adalah peninggalan ibumu" Ujar Diran.


"..." Syiren lantas menghantikan tangisannya. Ia mendelik ke arah Diran yang kala itu menyerahkan buku besar pemberian suster tadi.


"Apa itu?" tanya Syiren.


"Ini adalah peninggalan terakhir dari ibumu" Ucap Diran menyerahkan dengan pelan ke hadapan Syiren. Syiren lekas menarik buku itu dan menatapnya lama "Ibumu menulis pesan sebelum ke pergiannya" Ucap Diran.


Syiren kembali membuka lembaran berikutnya. Dan di sana ada nama Diran tersematkan... Ibu Syiren sangat berharap jika Syiren nantinya akan menikah dengan pria baik seperti Diran. Sejauh itu, Syiren pun kembali menjatuhkan air matanya "Ibu. Kenapa kamu pergi. Padahal aku sudah menemukan pria seperti yang kamu mau... Bu. Tuan Diran sudah melamarku dan besok kami akan menikah. Tapi, bagai mana aku bisa menikah jika ibu tak ada di sampingku..." Tangis Syiren kembali pecah. Syiren tak bisa menahan kesedihannya, setiap lembar tulisan ibunya selalu menyayat hatinya. Hingga ia tak mampu membaca lagi ke bab berikutnya.


"Syiren. Pesan terakhir yang ibumu sampaikan adalah, jika umurnya pendek.... Ia ingin melihatmu di pinang pria baik hati di hadapan jasadnya. Lalu solatkan ia dan makam kan ia dengan layak. Itu adalah hal terakhir yang dia minta. Biasakah kamu mengabulkannya?" tanya Diran.


Syiren tak bisa melakukan hal itu, ia akan menikah. Tapi nantinya pernikahannya di penuhi air mata. Apa lagi, di hadapannya tergeletak jasad ibunya yang sudah tak berdaya.

__ADS_1


"Ini adalah permintaan yang terakhir dari ibumu. Jika kamu tak bisa membahagiakan dia di sepanjang hidupnya. Bisakah kamu mengabulkan permintaan terakhirnya?" tanya Diran dengan bibir bergetar menahan tangisannya. Ia harus berusaha kuat di hadapan Syiren agar ia tak tumbang dalam kepedihannya.


Setelah lama berfikir... Akhirnya Syiren pun mengangguk. Jenasah ibu Syiren mulai di mandikan dan di kain kapani... Jenasah tersebut di bawa ke rumah duka kediaman Diran. Diran yang sudah tak berdaya lekas menelpon Kinan untuk menjemput penghulu datang ke kediamannya.


Kinan sedikit Syok karna pernikahan yang harusnya di adakan besok hari. Nyatanya malah di percepat satu hari lebih awal... Apa lagi... Pemandangan yang tak biasa tampak di altar pernikahan itu.


"Ya allah... Betapa menyedihkannya nasib pengantin wanita itu. Ia harus menyaksikan ibunya terbaring di hadapannya. Bahkan saat pesta pernikahannya di gelar" para tamu undangan pun malah menangis haru. Mereka tak bisa menahan emosi dalam hati mereka... Tangisan mengiringi pernikahan Syiren dan Diran.


Penghulu pun sedikit gemetaran, tangannya terasa dingin dan suaranya sedikit bergemetar. Bahkan penghulu itu pun ikut menangis haru... Apa lagi Syiren, Riasan pengantin Syiren terlibat berantakan karna beberapa deraian air mata yang tak kunjung henti.


"Bagai mana para saksi? Sah?" tanya penghulu mengakhiri ijab kobul pernikahan Diran dan Syiren.


"Sah!'


Setelah Syiren dan Diran halal... Acara di akhiri dengan solat jenasah. Syiren dan Diran membawa jenasah sang ibu ke mesjid terdekat dan menyolatkannya di sana. Kemudian di kebumikan di pemakanan umum tempat bi Mari juga Lena di semayamkan.


Yang tampak aneh dalam acara pemakanan itu, para pengantar jenasah masih mengenakan pakaian pengantin begitu pun para tamu undangan yang hadir. Mereka ikut berduka cita setelah pernikahan Syiren di laksanankan...

__ADS_1


Lena masih memantau situasi! Ia pun marah besar, meski ia telah berhasil membunuh ibu Syiren. Tapi nyatanya Diran tetap menikahi Syiren dan kini mereka pun menjadi pasangan yang halal.


Sial! Apa lagi yang harus aku perbuat untuk menghalangi Syiren agar ia tak begitu dekat dengan Diran suamiku! Amuk Lena. Akankah Lena menyerah? Ataukah ia malah makin menggila untuk menggoda rumah tangga Diran dan Syiren.


__ADS_2