Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Terdesak


__ADS_3

***


Diran mulai mengambil keputusan untuk istrinya yang kerap kali berulah dan mencacinya juga menjelekkan dirinya di muka umum. Diran meminta Kinan untuk menyewa seorang detektif untuk membuntuti istrinya, hal tersebut dilakukan Diran untuk memperkuat bukti perselingkuhan yang dilakukan Lena dengan Yuda teman pria Lena.


"Kinan... Lakukan yang terbaik, karna aku ingin segera menyelesaikan semuanya secepat mungkin' Jelas Diran. Kinan hanya bisa sigap untuk mengamban tugas yang Diran berikan.


***


"Wah, baru juga tiga minggu berlalu, tapi nampaknya struktur tulang tuan muda mulai kembali terangsang. Jari jari anda sudah bisa di gerakan hingga mungkin tak perlu melewati jalan oprasi" ucap Dr. Coules terkesima pada perkembangan Diran dan memuji Diran.


Diran tersenyum "Alhamdulilah dok..." Balas Diran mengembangkan pipinya.


"Alhamdulilah tuan... Saya ikut senang mendengar kabar gembira ini..." Syiren bertepuk tangan begitu riang kala mendengar ungkapan Dr Coules.


"Ya Syiren. Alhamdulilah, aku jadi makin semangat untuk sembuh... Aku tak ingin terus menerus duduk di kursi roda ini seumur hidupku. Aku rindu berjalan jalan dan joging pagi. Lalu... Memakai kaus kaki dan sepatu... Aku sungguh merindukan semua itu" Ujar Diran penuh semangat.


"Aminn... Semoga tuan lekas sembuh ya, agar semua cita cita tuan terlaksana... Amin.. Amin" Syiren senantiasa mendoakan Diran dengan doa doa terbaik yang tulus darinya.


Diran tak bisa berbuat apapun jika itu tentang Syiren. Jika Diran melihat Syiren tersenyum tulus begitu. Entah kenapa rasanya hatinya sungguh tenang dan tentram...


"Tuan... Apakah anda baik baik saja?" tanya Syiren menghampiri Diran dan menatap manik matanya di kejauhan.


Deg!!! Diran sesaat terenyuh, ia tak menyangka jika Syiren akan secantik itu kala tersenyum tulus. Dan hati Diran memuji sebagai pria tulen.


Astagfirullah... Apa yang aku pikirkan, Syiren hanyalah anak ingusan... Aku tak boleh punya pikiran bodoh seperti ini. Bathin Diran menggumam.


"Dokter... Apakah kami sudah boleh pulang?" Tanya Syiren.


Dokter mengangguk "Ya. Tuan Diran sudah selesai melakukan pemeriksaan, dan nampaknya kondisinya makin baik. Jadi, tuan Diran bisa pulang ke rumah dan kembali dua hari lagi"


"Baik dokter" Jawab Syireb sigap.


"Lalu... Jangan lupa makan obat dengan teratur agar tuan muda makin bugar ya" Jelas dokter.


Syiren lagi lagi mengangguk... Dokter tak menyangka jika Diran akan punya suster sepintar dan sebaik Syiren... Akhirnya Diran dan Syiren kembali pulang ke kediaman Diran.

__ADS_1


Di perjalanan menuju kediaman Diran, tiba tiba sang supir menghentikan laju mobilnya. Syiren sedikit kaget karna mobil terhenti tiba tiba hingga tubuh Syiren sedikit terhempas ke depan.


"Aduhhh!!" Pekik Syiren.


"Pa... Dion, kenapa tiba tiba menghentikan mobil?" tanya Diran.


"Entahlah pa... Di depan ada beberapa motor yang menghadang kita" Jelas Dion.


"Syiren kamu baik baik saja?" Tanya Diran sedikit cemas.


"Ya. Tak apa tuan... Lalu tuan apakah anda juga baik baik saja?" balik tanya Syiren.


"Ya. Tapi, kenapa kita di hadang? Ini sudah tidak benar..." Umpat Diran dalam hati. Diran lekas menelpon polisi dan menyerlok lokasi nya saat ini.


BRAK!!! BRAK!! BRAK!!!


Dua preman plontos berpakaian compang camping penuh tato di sekujur tubuhnya mulai menggedor kaca mobil yang Dion Kemudi.


"Bagai mana ini tuan muda?" tanya Dion panik.


Dion lekas membuka kaca mobilnya "A-ampun bang. Ampun..." Ringis Dion memelas, tangannya di angkat ke atas dan tampak pasrah.


"Buka!! Buka mobilnya cepat!!" Bentak seorang preman yang sedikit kurus. Ia mengarahkan sebuah senjata tajam ke dalam mobil tersebut.


"Apa mau kalian?" tanya Diran tegas.


"Mau kami? Kami di utus untuk membunuh Tuan Diran dan Susternya!" Bentak preman itu. Tak berselang lama, tiga pria plontos lainnya mulai berdatangan menggebrak gebrak mobil Diran.


Astagfirullah... Bahkan tak ada satu mobil pun yang lewat. Bathin Diran menggumam.


"Cepat buka! Atau supir loe gue bacok!!' Bentak Si preman.


"Baik kami akan keluar" Ucap Diran mengangkat kedua tangannya.


"tuan. Jangan, nyawa anda dalam bahaya..." Bisik Syiren khawatir.

__ADS_1


"Diamlah disini... Aku akan menyelesaikan semuanya" Jelas Diran.


Klek... Pintu mobil di buka...


"Turun!!" Teriak Preman itu.


"Jangan bang! Tuan muda tidak bisa..." Syiren tak bisa melanjutkan kalimatnya. Sebab Diran turun dengan sebelah kakinya menapak ke tanah.


"...Tidak bisa apa!!" Teriak preman itu. Tapi kondisi Diran nampak tak baik baik saja, raut wajahnya meringis tampak ke sakitan.


"... Tuan!!" Pekik Syiren.


"Tunggu apa lagi!! Kalian semua! Cepat keluar!" Teriak preman itu.


Syiren lekas keluar dari mobil dan mulai menghampiri Diran yang berdiri gemetaran... "Tuan, bersandar di bahu saya!" Pinta Syiren seraya menarik tangan diran lalu melingkarkannya di punggung mungil gadis muda itu.


"Syiren. Jangan paksakan dirimu... Aku ini sangat berat" Ucap Diran.


"Tidak apa tuan. Saya akan menahan anda... Melihat anda bisa berdiri saja membuat saya sungguh senang" imbuh Syiren tersenyum syukur.


"...Ini bukan waktunya memuji. Nyawa kita sedang di pertaruhkan disini. Seandainya saja aku bisa normal berdiri mungkin saja aku bisa menghajar mereka" Bisik diran.


"Perikasa tubuh mereka! Jangan sampai mereka membawa senjata tajam... Bos menyuruh kita untuk membunuh mereka tanpa jejak" Jelas preman itu.


"Tiarap!!" teriak Preman itu.


Syiren dan Diran juga Dion lekas berjongkok... "Tunggu, wanita muda itu... Boleh juga, hei brow... Bagai mana jika wanita itu kita gauli sebelum di bunuh. Kan syang dia terlalu manis untuk di sia siakan" ujar Preman itu.


"Benar juga. Ayo tarik dia bawa ke dalam mobil!" Salah satu preman mulai menarik Syiren dan membuat Diran terkejut.


"Lepaskan!!" teriak Syiren.


Diran tak bisa berbuat apapun. Saat para preman itu menarik Syiren dan membawanya ke dalam mobil. Tangan Diran hanya bisa mengepal erat.


"Dion!! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Diran pasrah.

__ADS_1


"...Jika kita tidak membalas mereka sekarang, maka kita yang akan tiada. Lagi pula... nona Syiren tidak pantas di lecehkan oleh para brengsek itu" Jels Dion.


__ADS_2