Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Sungguh Lega


__ADS_3

***


Syiren telah keluar dari rumah sakit, ia sungguh sehat dan tampak bugar. Diran bahagia melihat istrinya kembali ceria "Tuan... Terimakasih karna telah menjaga saya selama ini. Saya sungguh bersyukur punya suami seperti anda" Ucap Syiren tiba tiba memeluk Diran.


"Hehehe... Sama sama sayang. Aku juga bahagia bisa melihatmu kembali sembuh... Aku jadi mulai kembali memiliki semangat hidup" Balas Diran mengecup pucuk kepala istrinya.


Tok! Tok! Suara ketukan pintu mulai membuyarkan keromantisan yang baru saja tercipta di ruang pasien nomor 123 "Ah. Maafkan saya" Syiren menjauh. Tapi Diran malah menarik tangan Syiren dan kembali memeluk Syiren begitu eratnya "Diamlah' Pinta Diran.


"Tapi tuan. Kita ke datangan tamu" Lenguh Syiren tak bisa lakukan apapun pada suaminya yang masih melepas kangen dengannya itu.


"...Biarkan saja. Paling juga Kinan dan Radit" Umpat Diran masih terus saja menempel pada tubuh Arumi yang mulai gemoy karna nutrisi dari selang infus.


"Kami masuk..." Kinan, Radit dan Aluna pun masuk. Kinan terbelalak ketika melihat pasangan baru itu sedang berpelukan di hadapan mereka tanpa mengindahkan ketukan pintu.


"Apa yang sedang mereka lakukan bu?" tanya Aluna menunjuk Diran dan Syiren lalu mendonggakan wajahnya ke arah ibunya.


Seketika, Radit menutup mata anaknya dengan kelima jemari yang ada "Jangan lihat Aluna. Mereka sedang berbincang bincang" Radit mencari alasan... Ternyata Aluna pintar hingga ia mengira alasan Radit sangatlah konyol "Ayah. Kenapa orang dewasa berbincang bincang dengan cara aneh seperti itu?" tanya Aluna.


Syiren sungguh tak nyaman karna pertanyaan Aluna sungguh membuat nya malu. Ia pun lekas mendorong dada kekar suaminya dan segera membenahi pakaiannya.


"Hahahaha... Hai, Kinan, ah tuan Radit..." Syiren tertawa bodoh seraya melambaikan tangannya ke arah mereka bertiga.

__ADS_1


"Hai tante selamat siang... Tente sudah sembuh?" Tanya Aluna melambaikan tangannya ke arah Syiren. Syiren sedikit terbelalak ke arah Aluna lalu berjalan menggampiri Aluna "Hai gadis kecil yang cantik... Siapa namamu, bagai mana kamu tahu namaku?" Tanya Syiren mengarahkan tangannya ke Aluna.


Aluna tersenyum seraya mencondongkan kepalanya ke arah kanan "Tante juga cantik... Itu sebabnya, Om yang di sana sangat menyukai tante" ujar Aluna memuji Syiren.


"Oh astaga... Kau imut sekali nak" Syirn gemas. Rasanya ia ingin memeluk Aluna dan mencubiti pipinya yang gembung.


"Aluna sayang. Kenapa kamu malah bicara ke arah sana... Kak Syiren kan hanya tanya. Siapa namamu... Sayang" Komen sang ibu. Aluna pun lekas meraih tangan Syiren dan menjabatnya "Tante Syiren, perkanalkan nama Saya adalah Aluna Syahib... Salam kenal"


Aluna dan Syiren sangat akrab, sedangkan Diran hanya terdiam tanpa berkomentar, Diran seakan tahu apa yang ingin Kinan dan Radit sampaikan padanya.


"Aluna dan Tante Syiren tunggu di luar ya... Ibu akan membantu Om Diran mengemas pakaian Tante Syiren" Pinta Kinan.


"Ya ibu... Aluna akan main sama tante Syiren" Aluna sungguh senang, ia lekas menarik tangan Syiren dan mengajaknya keluar ruangan itu.


"Tuan Diran ini tentang..." Kinan berusaha memulai percakapan yang sungguh canggung menurutnya.


"...Aku sudah tahu. Aku tak mau mendatangi tempat pemakaman wanita itu" Jelas Diran.


"Tapi tuan. Anda harus mau datang ke tempat pemakan itu... Anda harus mau memaafkannya. Nanti, dia akan menderita di alam sana" jelas Kinan membujuk.


"Tapi aku tidak mau. Aku tidak mau berhubungan lagi dengan wanita busuk itu" Jelas Diran berlalu pergi.

__ADS_1


"Jika anda terus bersikeras seperti ini, anda akan sama saja dengan Mendiang. Tolong maafkan dia tuan..."Pinta Kinan.


"Istriku benar, Lena sudah mendapat hukumannya... Ia memilih tiada di tangannya sendiri. Apa gunanya terus mendendam... Memelihara dendam sama saja memelihara kebencian. Kalah menang, sama sama menjadi abu" jelas Radit.


"...Aku sudah memaafkanya. Bukan belarti aku mau melihatnya lagi, apa lagi harus melihatnya di semayamkan... Aku tidak mau, sudah cukup satu kali dia menipuku dengan pemakaman dustanya itu" Tegas Diran. Tanpa berfikir lagi, Diran lekas menarik pakaian Syiren lalu pergi ke luar ruangan itu.


Klek! Saat pintu terbuka, Diran begitu kaget kala Syiren berdiri tegak di depannya dengan tatapan meratap "Ada apa Syiren?" Tanya Diran membuang wajahnya. Ia seakan sudah tahu apa yang akan Syiren katakan padanya.


"...Tuan. Kita berangkat ke pemakaman terakhir nona Lena" pinta Syiren memberikan wajah memelasnya.


"Syiren. Tolong jangan paksa aku!" Diran lekas mengabaikan Syiren.


"Tapi tuan, Meski anda sangat membencinya. Anda tetap harus memaafkanya" Ujar Syiren.


Diran hanya menoleh sekilas ke arah Syiren lalu kemudian, Diran mulai membuang wajahnya dan ia pun pergi dari tempat tersebut.


"Tuan..." Pekik Syiren. Tapi Diran tak mau mengindahkan teriakan Syiren yang meminta kelapangan hatinya.


Kinan melangkah memdekati Syiren, ia pun memeluk sikut Syiren dan menyender di bahu Syiren "Syiren. Biarkan tuan Diran pergi... Ia mungkin butuh waktu untuk sendirian" ujar Kinan. Syiren pun mengangguk meski dengan nanar berkaca kaca.


Tuan... Ku mohon, maafkan lah Ny Lena... Aku juga sangat marah padanya setelah tahu hal apa yang telah dia lakukan pada ibuku. Tapi... Nempaknya dia sudah mendapatkan hukumannya.

__ADS_1


Syiren yang baru sembuh pun mulai berangkat bersama Kinan juga Radit ke pemakaman tempat Lena di semayamkan. Kali ini Lena benar benar mati. Hingga tak akan ada teror juga ke onaran yang ia lakukan...


__ADS_2