
***
Lena terkurung di penjara, ia belum di sidang dan masih di kurung di sel besi. Ia meratapi nasibnya yang terasa menyedihkan seraya terus saja mengumamkan nama Syien dalam hatinya. Ingin sekali ia membunuh wanita itu dan melenyapkannya untuk selama lamanya.
"Aku sudah tamat kali ini. Uang yang ku susupkan di bank luar negeri sudah habis ku pakai poya poya. Dan sekarang bahkan aku tak bisa menyewa pengacara! Ini semua salah Yuda! Kenapa dia bisa bisa nya mati hanya karna tertembak peluru! Yuda... Kau sungguh menyebalkan. Aku tak punya kaki tangan sekarang!" Gemuruh bathin Lena. Bukannya sadar atau taubat, Lena malah terus berfikir bagai mana caranya melarikan diri dari tempat menjijikan itu.
Lena terus saja uring uringan dengan menggebrak gebrak sel tahannya tampak garang. Tapi nyatanya bukan hanya dia yang ada di sel tersebut... Ada lima nara pidana lain yang ada di sel tersebut "Hei kau! Kenapa kau berisik sekali!" Marah penghuni lain sel itu.
Lena menatap garang ke arah mereka, bukannya takut Lena malah pasang dada dan menghampiri mereka "Kanapa? Apakah kau tidak suka?" Tanya Lena dengan nada menantang.
Tentu saja para preman perempuan yang telah menghuni lama sel tahan itu merasa di tantang oleh wanita kecil ramping dan kurus seperti Lena itu. Sedangkan jumlah nara pidanaa yang ada di sel tersebut berjumlah lima orang dengan tubuh gempal berisi dan beberapa diantaranya berpostur kegemukan.
"Kau berani melawanku?" Tanya salah satu wanita gempal di sebelahnya. Ia mendekati Lena, Tapi Lena terlihat baik baik saja... Lena adalah wanita garang yang bisa melakukan apapun untuk memuaskan hasrat membunuhnya. Membunuh baginya bukanlah hal yang sulit... Ia bahkan adalah bekas nara pidana sebelum di nikahi oleh Diran... Ia berani membunuh Ayahnya sendiri yang saat itu hendak menjualnya pada pria mesum. Lalu ia juga membunuh ibu Syiren dan ia juga adalah orang yang melukai Jimmy.
"Kau berani menantangku?" Amuk wanita gempal itu. Lena malah menyunginkan bibirnya... Setelah wanita itu kian marah, Wanita gempal itu segera menyerang Lena dengan tendangannya. Namun Lena berhasil menghindar... Ia memiliki sesuatu di tangannya.
Lena sudah gila kali ini, ia sudah tak punya jalan keluar lagi dari permasalahnnya ini, Lena malah menyeru petugas "Pak kemari!" Pekik Lena. Petugas itu pun menghampiri Lena, sesaat wanita gempal itu pun mudur karna ketakutan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Petugas.
"Aku punya sesuatu untukmu, ini adalah barang bukti terakhir yang aku punya" Jelas Lena berusaha meyakinkan petugas itu.
"Heh. Omong kosong" Petugas itu pun berbalik.
"Ya sudah. Jika tak di butuhkan, lagi pula... Disini ada sidik jariku... Aku yang telah melenyapkan ibu dari wanita yang bernama Syiren" di sana petugas pun mulai berbalik "Apa katamu?" teriaknya.
Lena menyungingkan bibirnya "Ini ambilah. Lagi pula aku sudah tahu tak akan salamat lagi" ujar Lena.
Lena mengulurkan racun itu ke arah petugas tapi Lena malah melakukan hal lain. Ia menarik tangan petugas itu hingga petugas itu terjepit.
"Apa! Hei apa yang kau lakukan!" teriak perugas berusaha menarik tubuhnya. Tapi Lena sangat cekatan, tangan kanan Lena malah menarik pistol yang kala itu tersembunyi di balik sarung senjata yang di ikatnya bersama sabuk celana petugas itu.
"Kau! Apa yang akan kau lakukan?!" teriak petugas ia meminta bantuan pos ke amanan lainnya.
Lena tersenyum dan mulai menarik pelatuk itu hingga ia menembaki para tawanan yang macam macam padanya tadi.
__ADS_1
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! Lima kali terdengar suara letusan, para penjaga pun panik berhamburan keluar. Separunya mereka tiarap lalu bersembunyi di balik tembok.
Bruk! Bruk! Brugghh "Aaagggh... Kau...." Brak! Para tawanan yang satu sel dengan Lena semuanya tewas bersimbah darah. Luka luka yang patal di area jantung dan kepala mereka. Membuat mereka tak bisa di selamatkan. Lena malah terkekeh dan bahagia "Ahahahahahahahahhah.... Hahahahhaah... Apapun tak bisa aku miliki di dunia ini! Hahahaha harta! Tahta hahahah... Bahkan suamiku sudah di rebut orang! Aku tak puny apapun sekarang? Hahahahah" Tawa menggema selepas kematian para tawanan yang ia bunuh.
"Hei. Jangan bergerak... Turunkan senjatamu. jika tidak, kami terpaksa akan membunuhmu!" pekik para petugas ke polisian yang tadi berhamburan lalu keluar dari tempat persembunyiannya.
"Hahahaha... Kenapa? Kenapa kalian malah bersembunyi. Apakah kalian takut mati ya? Hahahah... Aku sudah tak punya apapun lagi, selain nyawaku... Oleh karna itu, aku akan dengan senang hati mati..." Lirih Lena setelah tertawa kencang begitu puasnya.
Ia mulai menaril tuas dan mengarahkannya ke kepalanya. Ia memejamkan matanya lalu tersenyum...
"Selamat tinggal! Mas Diran! Selamat tinggal Dunia yang tak adil untukku tempati!" keluhnya seraya lekas menekan pedal dan Dor! Seketika peluru menembus tengkorak kepal bagian kanan lalu keluar di tengkorak kepala bagian kiri.
Lena lekas tumbang tergolek tak berdaya di lantai dengan penuh darah segar yang mengalir dalam tubuhnya. Apa lagi matanya terbelalak dan tak bisa terpejam meski ia telah beberapa kali di usapkan.
"Innalillahi wa innaillaihi rojiun..." bisik Para petugas sel tahanan itu. Ia mulai menghubungi rumah duka. Rencananya Lena akan di semayamkan di pemakanan umum tempat di mana Diran menyemamkan mertua serta bi mari. Setelah di autopsi, jasad Lena akan segera di serahkan ke mantan suaminya untuk di kebumikan...
Kini tak akan ada yang bisa menganggu kebahagiaan Diran dan Syiren. Karna benalu terbesar di atara mereka telah tiada secara utuh...
__ADS_1