Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Namanya Syiren


__ADS_3

***


Malam itu, Diran sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Tapi ia juga harus mendatangi pihak ke polisian untuk memberikan keterangan terkait kejadian malam itu.


Diran di antar oleh Kinan ke kantor polisi tersebut, Para aparat kepolisian berhasil menangkap Yuda dalang dari perampokan tersebut beserta anak buahnya, juga Lena yang saat ini tengah tak sadarkan diri di rumah sakit metro jaya.


"Terimakasih atas laporan anda, para tersangka akan kami proses secepat mungkin" Jelas pihak kepolisian sembari berjabat tangan Diran.


"Sama sama pak... Apakah barang-barang yang mereka ambil bisa saya bawa pulang sekarang?" tanya Diran.


"Maaf pak Diran, terkait hal tersebut... Kami belum bisa memberikannya, karna barang jarahan tersebut akan kami jadikan barang bukti di persidangan nanti. Jika sidang selesai maka... Kami akan segera memberikannya pada anda" Jelas Pihak berwajib.


"Begitu ya... Baik, trimamasih atas kinerjanya pak. Saya akan pamit sekarang" Balas Diran.


Pak polisi mulai mempersilahkan Diran bersama Kinan dan mereka pun keluar dari Kantor polisi menuju mobil pribadi Diran.


Dalam mobil...


"Tuan... Apakah anda baik baik saja?" tanya Kinan cemas.


"Engh... Aku baik baik saja" Balas Diran tampak lelah.


"...Heh baik baik saja? Benarkah?" Kinan menyungingkan bibirnya seakan tak percaya.


"...Anda selalu seperti itu, Meski anda sudah lelah, anda tetap saja berkata demikian, padahal dua kali dalam sehari ini anda telah mendapatkan dua kali teror... Anda sungguh hebat. Bisa tetap tegar dan merasa tak pernah terjadi apapun" Tambah Kinan sedikit salut pada pria di sampingnya itu.


"Kamu memang benar. Tapi tak ada gunanya mengeluh... Toh hidup itu harus tetap berjalan" Jawabnya ringan.

__ADS_1


"Anda sungguh hebat tuan..."


"Tak ada yang ku cemaskan selain anak itu..." Bisik Diran seraya memijat jidaknya yang terasa tegang itu.


"...Gadis itu?" Tanya Kinan menatap Diran yang tak sadar jika telah berkata demikian.


"Eh?" Diran menoleh ke arah Kinan.


"Apakah gadis yang ada di rumah sakit itu?" Tanya Kinan menatap Diran penuh senyuman.


"Apaan sih Kinan... jangan menggodaku begitu, aku sadar diri... Dia hanyalah anak bau kencur, apa gunanya jika di banding dengan aku yang sudah berumur ini" Racau Diran.


"Tapi... Kenapa tuan terlihat sembringah saat kita menyinggung soal gadis bernama Syiren itu" Seleksek Kinan.


"...Jangan goda aku Kinan. Aku ingin istirat sebentar... Aku hanya kagum saja padanya. Karna dia sungguh berani dan rela mengorbankan nyawanya demi aku yang cacat ini..." Balasnya tak sadar.


Diran yang menutup mata dan bersembunyi di lekuk sikut tangannya pun mulai bergeming "Emmhh... Pertanyaan yang konyol Kinan. Kita bicarakan nanti saja, aku sedang ingin tidur karna sangat lelah..." Bisik Diran. Kinan pun tak bisa mendesak Diran. Dan pada akhirnya, Kinan pun tak jadi melanjutkan pembicaraannya terkait dengan keberanian Syiren atas aksi penyelamatannya tempo hari yang lalu.


Untuk saat ini aku hanya menduga duga saja... seandainya itu benar. Maka, tuan muda.. Kamu sungguh sangat beruntung bertemu dengan gadis bernama Syiren ini. Karna dia bukan gadis yang serakah seperti mantan istrimu tuan... Jika kalian di pertemukan kembali setelah sekian lama. Ku pikir kalian memang jodoh..


Flasback...


"Sayang... Aku ada urusan mendadak nih, kamu bisa pulang sendiri tidak?" pinta Lena langsung berdiri setelah mendapatkan telpon mendadak.


"Tapi sayang, kamu mau kemana? Dinner kita kan baru saja di mulai..." Pinta Diran kecewa.


"...Tapi ini lebih penting. Maaf ya lain kali saja kita melakukannya... Toh kita bisa makan di rumah setiap hari bersama kan?" Tanya Lena seraya meneteng tasnya lalu mengaitkannya di bahunya.

__ADS_1


"Sayang... Tunggu kita belum selesai makan" Diran hendak mengejar Lena tapi... Lena tetap bersikeras melarang Diran imut bersamanya. Lena yang bersikap keras kepala selalu saja membuat Diran kalah.


Akhirnya diran duduk di meja makan lalu minum dua teguk jus jeruk di depannya "Sungguh tak habis pikir... Dia sendiri yang ingin makan di restorant. Dia sendiri yang pergi... Andai saja, dia bukan istriku... Sudah ku kirim ke segitiga bermuda" umpat Diran Kesal.


Diran lekas berdiri dari duduknya lalu membayar pesanan yang belum ia habiskan. Ia pun keluar restorant dan menaiki mobilnya... Jalanan yang biasa ia lalu macet total dan ia pun memaksakan diri memutar jalan pintas ke area pegunungan.


Pandangannya sudah mulai kabur, entah karna minuman yang ia teguk atau malah karna kelelahan setalah bekerja bantung tulang seharian.


Jalanan menanjak dan berkelok juga sangat hening makin membuatnya ngantuk... Tapi, ketika jalanan mulai menurun tajam dan berkelok, Diranbl sangat panik karna Rem yang ia injak tiba tiba blong "Apa!!" Bisik Diran, Diran tak bisa menguasai laju mobilnya. Lalu ia banting stir ke kiri yang hanyalah tanah basah. Tapi itu tidak berpengaruh, dan mobil nya tetap saja menurun tajam "Astagfirullah... Ya allah tolong lindungilah aku..." Diran hanya bisa berdoa. Dan akhirnya Diran pun terjedok stir dan membuatnya kehilangan penglihatannya.


BRAAAK!!


Tahu tahu mobilnya sudah menabrak pembatas jalan dan ia di ujung kematian "Astagfirullah... Astagfirullah... Astagfirullah. Ya allah jika, nyawaku tinggal hitungan menit saja. Maka, ampunilah dosa dosaku... Aku ikhlas jika engkau memang menginginkan nya hari ini. Tapi, jika aku masih di ijinkan bernapas dan tetap berada di jalanmu... Maka berikan aku sebuah ke selamatan ya rabb..." Bisik Diran dalam doanya bersama tangisanya. Ketika ia berdoa demikian, ia mulai ingin menoleh ke arah di mana batang pohon besar memberikan rantingnya ke arah kaca mobil Diran. Hingga Diran menurunkan kaca mobilnya lalu menarik ranting itu.


Ia akhirnya selamat meski kakinya yang hanya cacat... Selanjutnya yang ia lihat adalah kegelapan hingga matanya di buka kan kembali di dalam situasi yang berbeda. Langit langit bercat putih itu melaju mundur dengan kencang mengitari kepala Diran.


"Tuan bertahanlah!" Pekikan suara itu yang ia ingat.


Namun wajahnya sangat buram karna penglihatan Diran yang belum bisa menyetabilkan cahaya yang masuk keretina matanya.


Siapa... Siapa dia? Apakah dia yang menyelamatkanku... Atau kah dia yang akan mengambil nyawaku? Tanya Diran dalam diamnya.


Diran mulai meraih wajah wanita itu yang tak bisa ia lihat. Dan yang ia dapatkan hanyalah ikat rambut wanita itu yang hampir jatuh. Diran menariknya hingga rambut wanita itu pun mulai terurai...


Terimakasih... Bathin Diran. Diran pun kembali tak sadarkan diri...


Jika bisa di pertemukan lagi dengan wanita itu.. Maka aku akan sangat beruntung. Aku ingin berterimakasih sebanyak banyaknya... Karna atas kehendak yang kuasa, dia dikirimkan untuk menolong nyawaku. Bathin Diran menggumam...

__ADS_1


__ADS_2