
***
Ke esokan harinya, Diran datang mengunjungi Syiren di rumah sakit. Belum saja ia masuk suster mulai keluar dari ruangan tersebut "Pagi tuan..." Sapa suster yang saat itu selesai memeriksa ke adaan Syiren.
"Pagi sus. Apakah pasien atas nama Syiren sudah siuman?" tanya Diran di bantu Kinan untuk mendorong kursi rodanya.
"...Pasien sudah sembuh, ia hanya syok berat dan saat ini masih terguncang. Jika anda ingin menengok, silahkan masuk... Karna pasien sedang duduk menyender di matrasnya. Mungkin dengan kedatangan anda berdua, akan sedikit menghibur hati nona tersebut" saran Suster panjang lebar.
Kinan dan Diran pun mulai masuk ke dalam ruangan Syiren "KLEK!"
Pintu di buka, Diran pun mulai di dorong masuk ke dalam ruangan tersebut. Diran yang saat itu memang sangat cemas pada Syiren malah sedikit tertegun di kursi rodanya.
Di lihatnya, Syiren tengah duduk menyender di kepala ranjang. Tatapan kosong terlihat di raut wajahnya... Mata yang sembab dan di penuhi butiran basah yang tak kunjung reda itu sungguh membuat hati Diran terkoyak...
Wajah Syiren terlihat pucat pasi, gadis yang biasanya periang itu sungguh tampak seperti mayat hidup... Diran tak tega melihat keadaan Syiren yang sangat memperihatinkan itu.
"Hikss... Hikss... Aku, aku adalah pembunuh..." tangis Syiren sesegukan.
"Tuan... Apakah anda tetap akan menemui gadis ini? Tampaknya dia sedang tidak baik baik saja..." Bisik Kinan.
Diran tetap memaksakan diri untuk menghampiri Syiren. Diran menatap Syiren yang terpuruk itu dalam dalam, lalu ia perlahan menekan siku kursi rodanya susah payah... Nampaknya Diran hendak bangun dari kursi rodanya dan berdiri menghampiri Syiren dengan langkah tertatih tatih seakan kesakitan. Kinan kaget ketika melihat Diran hendak berjalan.
"T-tu-tuan! An-anda bisa berjalan?" tanya Kinan kaget. Ia membelalakan matanya lebar lebar, seakan tak percaya pada penglihatannya itu...
__ADS_1
"Masyallah tuan muda? Rupanya anda bisa berjalan..." Mata Kinan berkaca kaca karna sedih juga takjub pada apa yang sedang ia lihat saat ini.
Diran melangkah menghampiri Syiren, hingga ia mulai sempoyongan dan duduk begitu saja di samping Syiren "Aahhh!" pekik Diran ke sakitan, kakinya mulai terasa mati lagi.
"...Tuan! Hati hati..." Kinan menghampiri, Syiren yang mulai bergeming dari lamuannya, ia mulai menoleh pelan ke arah dimana Diran duduk "Syiren... Kamu baik baik saja?" Tanya Diran sembari membenahi duduknya dan menatap Syiren sayu.
"..." Syiren terdiam membatu kala menatap dua manik mata Diran yang berwarna sedikit hijau itu. Ketika mereka saling terpaut satu sama lain, entah kenapa... Bulir basah di pelupuk mata Syiren kembali terjun dan membasahi pelipisnya.
"Hikss... Tuan, saya adalah penyebabnya" Tangis Syiren. Diran yang merasa semua memang bukan salah Syiren sangat ternyuh kala melihat tangisan Syiren yang begitu menyayat hatinya.
Tanpa sadar Diran malah meraih tubuh Syiren lalu memeluknya erat "Jangan takut... Aku ada di sini, jangan sedih... Ini juga bukan salahmu. Ini bukan salahmu... Syiren" Sembari menepuk nepuki punggung kurus anak itu, Diran terus saja berkata demikian untuk membesarkan hati Syiren.
Ini semua bukanlah salahmu... Semua ini adalah salah mantan istriku. Jika saja dia tidak seserakah ini... Tak akan mungkin ada yang jadi korban. Bahkan bi Mari pun tak akan mungkin tewas karna kecelakaan ini... Bathin Diran mengguman seraya menepuki punggung wanita itu.
Kinan melihat adegan tersebut di samping daun pintu. Ia sedikit terharu atas apa yang Diran lakukan untuk gadis itu. Kinan juga menitikan air matanya karna tak tahan melihat ke dekatan mereka.
Beberapa menit kemudian...
"Syiren... Apakah itu namamu?" Tanya Kinan. Syiren lekas melepas pelukan Diran dan menoleh ke arah Kinan "Ya. Itu adalah nama saya... Apakah saya mengenal anda?" Jawab Syiren seraya menepis bulir bulir basah di pelipisnya.
Kinan menghampiri Syiren "Apakah kamu masih mengenalku?" tanya Kinan tersenyum ramah pada Syiren.
Diran sedikit heran pada Kinan "Kinan. Apakah kamu mengenal Syiren?" Diran mengerutkan Alisnya tampak heran.
__ADS_1
"Ya. Aku baru saja ingat pada gadis ini..." Kinan tersenyum menatap Syiren yang masih kebingungan saat perkenalan pagi itu.
"...Maaf, tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Syiren mencercidakan matanya seraya berusaha mengingat sesuatu.
"Baiklah... Akan ku buat kamu ingat padaku" Imbuh Kinan seraya membuka dompetnya lalu menyerahkan sebuah kertas yang mirip kartu nama.
"...apa ini?" Syiren menatap kartu itu secara seksama lalu ia mulai mengingatnya.
"Diran...?" Bisik Syiren menatap Kinan.
"Kita berjumpa lagi ya Syiren, Trimakasih atas pertolonganmu tempo hari... Orang yang kamu selamatkan ada di sampingmu sekarang" Jelas Kinan mengarahkan telapak tangannya ke arah Diran.
Syiren membelalakan matanya lebar lebar "A-apa?" Pekik Syiren membungkam mulutnya rapat rapat.
Begitupun Diran yang tak percaya kala Kinan menjelaskan hal tersebut "Apakah sungguh? Apakah yang telah menolong ku itu adalah kamu Syiren?" Tanya Diran tak habis pikir.
"Gluk!"
Susah payah Syiren menelan salivanya sendiri "Jangan jangan, orang yang dulu saya selamatkan adalah tuan Diran? Oh astaga... dunia sangat sempit sekali hingga saya di pertemukan lagi dengan anda..." Ucap Syiren
Diran tersenyum lebar, pipinya mengembang dan ia mengelengkan kepalanya "Kamu memang orangnya. Aku sungguh harus berterimakasih pada mu... Kamu sudah berjasa, kamulah penyelamat hidupku..." Diran kembali menyimpulkan senyumnya dan menpuk kepala Syiren lalu mengusap usapkannya lembut.
"Tuan... Dia sungguh orang baik yang tak meminta balas jasa. Bahkan saat aku memberikan nomor telponmu... Dia sama sekali tak mengabariku atau meminta sesuatu..." Ucap Kinan membesarkan hati Syiren.
__ADS_1
Syukurlah... Syukurlah... Bathin Syiren menggumam senang.
Diran hanya bisa tersenyum pada penyelamat nyawanya itu... Ia ingin memberikan hadiah terindah untuk Syiren atas pertolongannya. Tapi ia tak tahu apa yang bisa membuat Syiren bahagia.