Mencintai Suamimu

Mencintai Suamimu
Acuh


__ADS_3

***


Beberapa hari berlalu, Lena mulai kembali setalah Diran memergokinya telah bermesraan di Cafe langganan Diran...


"Mas aku pulang" Ucap Lena menarik kopernya masuk ke dalam rumah besar Diran. Diran yang biasanya menyambut Lena tiba tiba saja acuh padanya.


Heh, kenapa dengan nya? Tidak biasanya dia diam begitu seperti orang bodoh saja? Tapi, sudahlah... Lagi pula aku tak butuh saapan darinya. Bathin Lena menggumam.


"Heeehhh aku capek" Lenguh Lena seraya mulai menjatuhkan dirinya di sofa lalu menyenderkan tubuhnya yang letih setelah berpoya poya itu di kulit sofa ruang tengah. Meski Lena terlihat letih, Diran sama sekali tak perduli padanya dan malah terus saja membaca majalah lama.


Ada apa dengannya? Apakah dia marah karna aku pergi terlalu lama? Aaah tapi mana mungkin, lagi pula... Dia adalah tife pria perhatian, kenapa dia malah acuh kan aku begini? Ini Cukup mengherankan... Tapi untuk apa aku perduli? Bathin Lena bertanya tanya. Ia sedikit heran pada kelakuan Diran yang tak biasanya.


"Nyonya... Selamat datang" Sapa Syiren lekas meraih tangan Lena dan mencium punggung tangannya.


"Ya. Haaah aku capek, siapkan air hangat lalu bawa kopeku ke atas..." Jelas Lena, Syiren lekas menarik koper itu lalu masuk ke kamar Utama. Syiren menyiapkan air dan segala keperluan Lena...


Syiren lekas kembali dan mulai memberitahukan Lena bahwa air yang ia inginkan sudah siap "Nyonya, airnya sudah siap..." Jelas Syiren.


Lena lekas berdiri lalu melangkah ke arah kamar utama untuk berendam dan semacamnya, sesaat ekor mata Lena memperhatikan kelakuan Diran yang dingin dingin saja padanya.


"Syiren. Tolong buatkan aku kopi..." pinta Diran. Permintaan Diran terdengar jelas oleh Lena dan membuatnya sedikit tak nyaman.


Cih... Apakah aneh? Kenapa dia acuh padaku bahkan dia tak berkata apapun meski itu hanyalah sapaan atau basa basi semata... Baiklah mas, seberapa lama kamu bisa bertahan dengan sikapmu yang acuh padaku begitu. Bathin Lena menggumam.

__ADS_1


Syiren membuatkan coffe hitam untuk Diran siang itu "Tuan. Coffe anda sudah siap..." Ucap Syiren.


"Trimakasih..." balas Diran.


Syiren hanya bisa mengangguk diam lalu ia pun pergi menjauhi Diran. Pikiran Syiren sedikit tak nyaman pada Diran, sejak kepulangan Diran beberapa hari yang lalu... Diran menjadi lebih dingin dari biasanya, itu sebabnya sikap Diran membuat Syiren sedikit menjaga jarak dengannya...


Syiren mulai mencuci piring... "Kenapa cemberut?" tanya Bi Mari.


"Eh... Ini, akhir akhir ini tuan Diran sangat pendiam sekali ya..." balas Syiren mengeluh.


"...Jangan khawatir, tuan Diran adalah orang yang baik. Biasanya jika tuan Diran sedang ada masalah, tuan Diran selalu bersikap dingin dan lebih pendiam dari biasanya" Jelas Bi Mari. Syiren pun mulai sadar...


"Oh begitu... Lantas saja, aku merasa... Akhir akhir ini tuan Diran sungguh menakutkan. Bicarapun jarang dan tak pernah menatapku dengan sorot yang lembut"


"Sebaiknya jaga jarak dulu, nanti juga jika tuan sudah baikan tuan pasti akan menyeru mu... Bibi sih sudah biasa dengan sikap dingin tuan Diran itu" Jelas Bi Mari.


"Kalau begitu, ini waktunya tuan Diran makan siang... Jadi aku akan menyeru Nyonya Lena dan tuan Diran untuk makan bersama" Ucap Syiren.


"Ya. Bibi juga hampir selesai memasak... jadi Syiren tolong ya" Pinta Bi Mari.


"Baik bi... Serahkan saja semuanya padaku..." Syiren lekas keluar dari dapur kotor dan bergegas naik ke lantai satu kamar utama.


Ia mengetuk pintu kamar itu dan menyeru Lena "Nyonya, waktunya makan siang..."

__ADS_1


"...Ya. Nanti aku akan kebawah setelah berpakaian" Balas Lena dari dalam kamar utama itu.


Syiren kembali turun setelah mengabari Lena... Ia mulai bergegas menuju kursi roda Diran di ruang tamu "Tuan. Waktunya makan siang" ucap Syiren.


"Ya. Aku akan segera ke sana" Bals Diran seraya meneguk kopi panas buatan Syiren beberapa menit yang lalu.


"Baik saya akan membantu anda untuk mendorong kursi roda itu" Syiren mendekati Diran. Namun entah kenapa, tangan Diran malah gemetaran dan membuat coffe di tangannya tumpah ke tubuhnya.


PYAAANGG! Gelas jatuh dan pecah sementara Diran merintih kepanasan karna coffe itu menyiram tubuhnya hingga terasa membakar. Syiren panik ia lekas menghampiri Diran penuh kekhawatiran.


"Aah tuan! Anda baik baik saja??" tanya Syiren lekas menarik celemeknya lalu mengusap usap area tumpahan kopi itu. Dada Diran merah karna terbakar kulitnya sedikit melepuh...


"Hiksss... Tuan, hiksss... Jangan khawatir saya akan menelpon dokter" Syiren bangun dan segera menoleh ke arah telpon rumah hendak menghampiri telpon itu. Tapi, Lena tiba tiba ada di hadapan Syiren dan malah menamparnya.


PLAKKK!! Wajah Syiren terhempas hingga membuatnya menunduk "Kurang ajar! Inikah caramu berterimakasih!! Beraninya kau menumpahkan coffe panas di tubuh suamiku!" amuk Lena tak tahu asal usul kecalekaan itu.


"Lena! Hentikan! Apa yang kau lakukan?" Teriak Diran. Lena mulai tersentak kala mendengar Diran menyeru namanya tanpa ada kalimat sayang terlebih dahulu.


Lena menoleh pelan ke arah Diran "Apa mas? Apa katamu? Lena? Sejak kapan kamu memanggil namaku dengan se arogan itu?" tanya Lena tak terima kala suaminya bersikap menjengkelkan dari sebelumnya.


"...Ini bukan waktu yang tepat untuk menbahasnya. Syiren, panggilkan dokter Coules" pinta Diran. Syiren yang merasa kebas di pipinya pun mulai mengabaikan Lena dan mulai berlari ke arah telpon rumah lalu menelpon dokter Coules.


"Heh. Kamu memang menyebalkan dan makin menjangkelkan mas... Dasar! Pria cacat tak berguna!" amuk Lena seraya membuang wajahnya dan lekas naik kamar lalu tak lama kembali dengan membawa tas berisikan baju baju barunya.

__ADS_1


Aku sudah tahu... Kemana kau akan pergi. Jadi, aku tak akan perduli lagi pada mu mulai hari ini. Bathin Diran menggumam.


"Mas... Aku akan pergi dari rumah yang menjengkelkan ini. Lagi pula, pria cacat sepertimu mana bisa membuatku betah" Imbuh Lena seraya keluar rumah untuk keluyuran.


__ADS_2