
***
"Syiren!! Syiren kamu di mana?" tanya Lena seraya mencari Syiren dengan teriakan nya yang tak jelas itu.
Bi Mari berlari menghampiri Lena "Nyonya... Ada apa?" tanya Bi Mari panik.
"Bi... Mana Syiren?" tanya Lena dengan suara tinggi.
"Syiren? Oh... Tadi dia baru saja pergi bersama tuan Diran" Jelas Bi Mari.
"Apa? Pergi?" tanya Lena.
"Ya Nyonya, Syren pergi beberapa jam yang lalu di antar Dion supir pribadi tuan Diran" jawab Bi Mari polos.
"Keterlaluan! Kenapa mereka pergi bersama dan tak mengabariku... Ini udah nggak bisa di biarkan!" Amuk Lena lekas menyambar tasnya dan melangkah kembali ke arah pintu keluar.
"Nyonya! Tapi Syiren berangkat bersama tuan muda ke rumah sakit!" Seru Bi Mari memperjelas ke adaan.
__ADS_1
Lena mulai menghentikan langkahnya "Rumah sakit?" bisiknya ke heranan mengerutkan alisnya.
"Tuan Diran sudah beberapa hari ini sakit, jadi.. Syiren mengantarnya berobat jalan tiga kali seminggu" Jelas Bi Mari. Lena mulai membalikan tubuhnya dan melangkah ke arah Bi Mari "Memang suamiku sakit apa bi?" Tanya Lena tampak tersenyum menyungingkan bibirnya.
Lho kok... Denger suaminya sakit Nyonya Lena malah tersenyum... Bukannya khawatir, si mbok aja lemes kalau denger tuan muda sakit begitu" Bathin Bi Mari menggumam kesal.
"Bi... Di tanya kok malah melamun' Bentak Lena membuat Bi Mari terperanjat dari lamunannya.
"Ahhh anu Nyonya... Si mbok nggak tahu tuan muda sakit apa, yang jelas... Kondisi tuan muda memang tidak stabil. Itu juga Syiren selalu jagain tiap waktu agar tuan muda lekas sembuh" Jelas Bi Mari memancing rasa simpatik Lena.
"Ya bagus, jika Syiren yang urus... Lagian, aku juga bayar dia nggak murah kok. Jadi sewajarnya aja dia urusin suamiku yang cacat itu... Lagian, mau berobat kemanapun... Jika suamiku sudah cacat ya cacat... Apa lagi penyakitan. Iiiuuuhhh nggak deh, kalau sampai temen temen sosiallita aku tahu keadaan suamiku kayak begini... Mau di taruh di mana muka aku biiii" Cerocos Lena mencemooh Diran di belakangnya.
"Apa maksudmu..." Pekik Diran di kejauhan.
Syiren hanya bisa menunduk di belakang kursi roda Diran kala Lena menghina suaminya di depan pembantu seenaknya.
"Apa maksud hinaanmu itu?" tanya Diran lagi.
__ADS_1
Lena yang menyungingkan bibirnya mulai membalikan badan ke arah Diran lalu melangkah menghampiri Diran "Apa mas... Memangnya kamu mau ngomong apa? Apa yang aku katakan tadi memang benar kok. Kamu itu cacat!" Tegas Lena membuat hati Diran makin sakit.
"CUKUP!!" bentak Diran. Lena mulai bungkam, Syiren kaget dan mulai melangkah mundur lalu pamit "Maaf... Saya akan masuk ke dalam untuk menyiapkan makan malam" Ucap Syiren menjauhi perseteruan dua lawan jenis yang terikat pernikahan itu.
"...Aku memang cacat, Lalu kenapa jika aku cacat? Bukankah aku masih bisa menghasilkan uang untukmu dan segala ke borosanmu itu??" Bentak Diran sudah tak tahan. Sudah lama ia ingin memaki Lena karna dia selalu menjelek jelekan Diran di belakangnya.
"Apa sih Mas! Kamu itu seharusnya tahu diri Mas!! Kamu itu cacat! Kamu nggak bisa perlakukan ku dengan baik gara gara kamu cacat!! Heh... Kamu nggak bisa jadi suami yang sempurna ya mas..."Kelit Lena membuang wajah nya dan menjauh dari pertikaian itu.
Diran yang kesal pada Lena mulai bertanya serius "Lalu apa maumu" Tanya Diran membuat Lena menghentikan langkahnya.
"Jika kau sudah tak mau tinggal bersama ku. Silahkan keluar dari rumahku... Dan jangan pernah kembali menginjakan kakimu di tempat ini!" Tegas Diran memberi Lena pilihan.
Lena terbelalak dan mulai membalikan tubuhnya lalu menarik napas panjang dan kembali memaki Diran "Apa apaan kamu mas! Kamu mau mengusirku! Heh... Jangan harap! Kamu sudah janji pada mendiang ibuku... Dan lagi, kita pernah melakukan perjanjian pra nikah mas" Lena sungguh tak ingin kalah oleh gertakan Diran.
"...Aku akan merobek surat perjanjian bodoh mu itu dan melupakan soal pernikahaan yang tak berfaedah ini... Jika kamu sudah tak ingin hidup bersama pria cacat sepertiku. Silahkan pergi dari rumah ini!" Bentak Diran menggebrak kursi rodanya.
"Ssshhh!" Dengus kesal Lena menatap Diran tajam.
__ADS_1
"Aku sudah tak bisa mentolelir segala kesalahanmu lagi. Jadi, pilihlah... Bercerai denganku dan pergi dari rumahku, atau perbaiki dirimu... Bersikaplah baik selayaknya seorang istri" Jelas Diran seraya melajukan kursi rodanya mengacuhkan Lena yang menatap Diran penuh nafsu membunuh.
Sial! Berani beraninya dia bilang begitu... Heh, kenapa dia tidak mati saja saat kecelakaan itu... Sial, dia malah panjang umur dan cacat. Jika saja semua sesuai rencanaku, seluruh harta miliknya pasti sudah jatuh ke tanganku. Baiklah mas... Akan ku buat kamu menyesal telah berkata seperti itu padaku. Lihat saja nanti. Bathin Lena menggumam.