
''Apa ibunya Sraya lahiran. Sraya punya adik?'' Akram terus saja menerka-nerka yang apa yang terjadi dalam otaknya.
''Mas, maaf saya tidak bisa menemani Mas Akram makan. E-eem anu adik saya lahiran, jadi saya harus pulang ke Bandung malam ini juga.''
Bertepatan Sraya pamit makanan yang tadi di pesan mereka datang. Akram memandang makanan itu dan Sraya bergantian lalu mengehela nafas.
''Malam-malam begini, Dik Sraya?''
''Iya, Mas. Saya tidak bisa menunggu besok!''
''Baik-baik, apa mau Mas temani?''
''Ti--tidak perlu, Mas. Saya tidak mau merepotkan Mas. Ehm makasi sebelum nya.''
Akram tidak bisa melarang Sraya, tetapi ia juga merasa khawatir. Sraya memesan travel dengan jam keberangkatan yang paling cepat ke kota Bandung setelah diberi alamat rumah sakit oleh ibunya.
Dirumah sakit Mitra Keluarga Nastiti di rawat diruang VIP yang di pesan Rei, ia tengah menyusui anaknya yang baru saja lahir tiga jam yang lalu. Rei menjelaskan kepada Nastiti perihal kesepakatan nya dengan Nattasya.
''Ja--jadi kita harus pergi dari negara ini Mas?''
"Iya, Nas. Tidak ada pilihan, kalau kamu tetap disini maka Natt akan terus mencelakaimu. Kamu tentu masih ingat usaha Natt untuk melenyapkan mu dengan cara membakar rumah kita?''
Tubuh Nastiti bergetar saat Rei mencoba mengingatkan tragedi malam itu.
''A--apa kita tidak bisa melawan, Mas?'' tanya Nastiti penuh harap.
''Kamu sudah melihat dan merasakan bagaimana seorang Maxwell! Dia menculikmu padahal kamu tidak bersalah, apalagi kita membohongi nya kalau bayi yang kamu kandung saat itu telah tiada. Bagaimana kalau sekarang dia tahu kamu malah melahirkan nya? Kamu juga tau kejam nya Nattasya. Dia tega mencoba untuk membunuhmu Nastiti.''
Rei sampai menangis membayangkan penderitaan Nastiti, ia merasa tidak bisa melindungi Nastiti saat itu. Rei tidak mau mengulangi kesalahan nya.
''Kita bisa melaporkan masalah ini kepada pihak berwajib Mas!''
''Nastiti. Maxwell dan Nattasya adalah orang yang tidak mudah kita sentuh, mereka memiliki uang dan kekuasaan untuk melancarkan keinginannya, termasuk mengendalikan orang-orang.''
''Ta-tapi bagaimana dengan anak ini Mas?''
''Dengar, Nas. Aku hanya ingin melindungi kamu dan bayi ini. Untuk sementara waktu kita tidak bisa membawa nya, kita akan pergi ke Australia malam ini juga!''
Jantung Nastiti seperti berhenti berdetak dan aliran darah nya serasa tidak mengalir saat mendengar kata kata dokter Rei. Tangis nya sedari tadi tidak bisa dibendung, bagaimana ia tega meninggalkan bayi yang baru saja ia lahirkan bahkan belum sampai dua puluh empat jam.
__ADS_1
''Apa kita tidak bisa membawanya, Mas?''
''Dia baru lahir, Nas. Kita tidak bisa membawanya naik pesawat. Selain itu kalau kita tetap bersamanya akan lebih membahayakan bayi kamu, kita harus menitipkan bayi ini dengan orang yang bisa menjaga dan kita percaya.''
''Orang yang bisa aku percaya saat ini adalah mba Sraya, Mas. Tidak ada lagi.''
''Dia memang bisa kita percaya tapi dia dan ibunya? Aku tidak yakin bisa menjaganya. Butuh seorang pria Nas, yang bukan saja menjaga bayi ini tapi mereka bertiga nantinya!''
''Mas Akram.''
Nastiti teringat kakak angkatnya Akram. Yang selama ini selalu menjaga dirinya, menyayangi, dan juga mempercayai Nastiti.
''Apa dia kakak angkat yang kamu ceritakan?''
tanya Rei memastikan.
''Iya Mas Rei. Aku akan menghubungi nya dan akan meminta nya kesini sekarang juga."
Nastiti menghubungi Akram kakaknya. Tadi setelah makan malam solonya Akram langsung menuju hotel, saat ini ia sedang menatap pada layar laptop untuk memeriksa beberapa pesanan kebun kopi paman nya.
Handphone nya berdering, tertera nama Nastiti, Dengan perasaan bahagia ia langsung mengangkan telepon dari Nastiti.
''Walaikumsalam mas Akram, Nas juga kangen banget sama mas. Nas pingin ketemu mas Akram.''
''Kamu kapan liburnya, Nas? Apa mas perlu datang ke malaysia?"
''Mas engga perlu datang ke Malaysia karena sekarang, Nas ada di Bandung.''
''Apa? Kamu di Bandung, Nas. Kenapa engga bilang sama mas kalo kamu pulang ke Indo? Mas bisa pesenin kamu tiket pesawat.''
"Apa mas bisa datang sekarang juga ke Bandung? Ada hal yang yang sangat penting. Nanti Nastiti akan ceritakan semua nya sama mas,'' pinta Nastiti.
''Kebetulan mas baru sampai Jakarta, ada hal penting apa Nas? Apa kamu dalam kesulitan?''
''I--iya mas, mas Akram tolong bantu Nas. Nas sangat membutuhkan bantuan mas." Nastiti mulai menangis di sambungan telpon.
Saat itu juga Akram langsung memesan mobil untuk ke Bandung, sesuai permintaan Nastiti. Ia sangat khawatir keadaan adiknya.
Sraya sampai dirumah sakit dimana Nastiti dirawat. Ibu Emah dan mbok Darmi pulang kerumah untuk mengambil keperluan Nastiti, mereka berdua belum tau rencana Nastiti dan juga Rei.
__ADS_1
''Nastiti …''
Sraya segera memeluk Nastiti, ia sangat bahagia mendapat kabar ini, lalu fokusnya pada Nastiti segera teralihkan dengan keberadaan dokter Rei. ini pertemuan pertama dengan Rei, lelaki yang mau menerima Nastiti dan melindungi nya.
Tidak mau membuang waktu, Rei dan Nastiti menceritakan segala yang terjadi kepada Sraya. Perasaan bahagia yang sempat tadi ia rasakan berganti dengan perasaan cemas.
Bagaimana tidak ? Nastiti meminta dia mengurus anaknya yang baru lahir, sebuah tanggung jawab yang sangat besar.
Sraya sangat tulus menyayangi Nastiti walaupun mereka baru kenal. Sraya yang seorang anak tunggal merasa memiliki saudara, tapi untuk dimintai bantuan sebesar ini.
Jujur Sraya masih gamang dan belum sanggup. Tadi Nastiti sudah cerita kalau dia sudah menghubungi kakak nya, tanpa Sraya tau kalau dia adalah Akram.
Ditengah pembicaraan mereka. Rei mendapatkan telepon dari orang kepercayaan nya bahwa Natt sudah mengetahui kelahiran putra Nastiti, dan saat ini dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Entah apa yang ingin dilakukan Natt. Tetapi mereka harus waspada, Natt adalah orang yang susah ditebak dan pikiran nya sering berubah-ubah.
''Ba--bagaimana ini?'' tanya Sraya panik.
Rei masih mencoba tenang, kalau dia ikut panik maka dia tidak dapat berpikir jernih dan mendapat solusi. Rei meminta Nastiti menulis sebuah surat untuk Akram.
Karena kalau mereka menunggu Akram pasti akan membutuhkan waktu, sedangkan di pesawat nanti dia tidak bisa menghubungi Akram sampai pesawat mendarat nanti.
Rei teringat dokter Farhan, dengan menemuinya secara langsung Rei meminta dokter farhan untuk menghapus data persalinan Nastiti, ia juga meminta Sraya untuk menunggu Akram diruangan dokter Farhan.
Malam itu menjadi malam yang penuh haru. Ibu yang baru saja melahirkan anaknya terpaksa harus meninggalkan nya untuk keselamatan mereka berdua.
Untuk pertama kalinya Nastiti memberitahu keluarga nya Akram, dan Sraya adalah satu satunya orang yang bisa dipercaya.
Setelah menitipkan surat untuk Akram, dan memeluk anaknya begitu lama Nastiti berpamitan. Tidak berselang lama dari kepergian Nastiti dan Rei, Natt datang ke Rumah Sakit Mitra Keluarga.
Tetapi tidak mendapatkan hasil apapun karena persiapan yang sudah dilakukan Rei secara mendadak untuk melindungi mereka semua.
Akram sampai dirumah sakit itu setelah tiga jam perjalanan. Sesampai nya disana ia disambut dokter Farhan dan diantar ke ruangannya. Dimana sudah ada Sraya dan anak dari Nastiti.
Pintu dibuka dokter Farhan. Sraya duduk membelakangi. Saat Sraya membalikan tubuhnya ia terkejut melihat kedatangan Akram
'Ma-mas … A-Akram,'' ucapnya lirih.
''Sraya?"
__ADS_1
Mereka saling tatap dalam keterkejutan.