
''Selamat datang di Cordy Caffe, ada yang bisa dibantu, kak?''
Sulis dan Rara tanpa di komando menyambut Akram dengan antusias, senyum termanis sudah terbit sedari tadi saat melihat kedatangan Akram.
''Terima kasih.''
Jawab Akram, tangan nya dimasukan kedalam saku celana pandangan nya mulai menyusuri sudut caffe untuk mencari keberadaan Sraya.
''Apa Kakak ingin pesan sesuatu?'' tanya Rara.
''Hmmm saya kesini untuk bertemu dengan sraya, apa dia ada?'' tanya Akram to the point.
''Mba Sraya?'' tanya Sulis memastikan.
''Sraya Lituhayu Nirbita Rumi, benar dia bekerja disini?''
''Oh iya mba Sraya kerja disini, itu ada disana.''
Rara menunjuk ke meja yang ada Sraya, Andrean, Willem, Ferdi, Hendi dan Rio. Willem dan Rio yang sudah bertemu dengan Akram sebelumnya melambaikan tangan mereka pada Akram.
Akram tersenyum dan mebalas lambaian tangan mereka, kemudian berjalan menuju meja yang mereka duduki. Sulis dan Rara mengikuti langkah Akram dari belakang.
''Akram … selamat datang di caffe ku, kamu tidak mengabari akan datang kemari?''
Willem memberi pelukan selamat datang ala laki-laki, lalu menggeser sebuah kursi untuk Akram.
''Ah maaf Mister kalau kedatangan saya sangat mendadak, saya kesini untuk menjemput Sraya.'' Arkam melirik pada Sraya, Membuat gadis itu mendapatkan pandangan dari teman-teman nya.
''Halo Mas Akram, apa kabar? lama engga bertemu,'' sapa Rio.
''Oh, Mas Rio … kabar baik, bagaimana kabar Mas Rio sendiri?''
''Sangat baik ... tadi, Mas. Akram bilang ingin menjemput Sraya?'' tanya Rio memastikan.
''Ya. Saya kesini untuk menjemput Sraya pulang.''
''Ah, yang lain pasti belum kenal AKram. Kenalkan dia Akram, pemilik perkebunan kopi yang bekerja sama dengan caffe kita. Akram juga tidak lain adalah kakak dari Nastiti, salah satu langganan kita dan teman baik Sraya.''
Willem mengenalkan Akram pada karyawan nya yang lain agar tidak penasaran. Mereka pun berkenalan satu persatu
''Aku engga percaya kalo Mas Akram ini petani,'' celetuk Rara.
''Benar! Dia lebih mirip artis Korea,'' ucap Sulis menambahkan.
''Yaaa, aku sudah bilang pada Rio dan Sraya waktu itu. Tapi mereka tidak percaya … Hendi buatkan minuman untuk Akram.''
Hendi yang mendapatkan perintah dari Willem segera menuju meja barista dan membuat minuman untuk Akram.
Mereka yang menganut tradisi 'pucat' alias 'pulang cepat' saat waktu bekerja telah habis.
__ADS_1
Mendadak tidak jadi pulang karena masih penasaran dengan sosok Akram. Sraya hanya memperhatikan mereka dari meja barista.
Akram terlihat sesekali tertawa saat mendapat gombalan dari Sulis dan Rara. Sedangkan Hendi dan Ferdi sudah pulang lebih dulu.
''You're not coming home with me?'' tanya Andrean.
''Oh, sorry Chef. I don't know if I will be picked up with him,'' tunjuk Sraya dengan dagu nya ke arah Akram.
''Yes, I understand. do you know Sraya? I'm happy to be able to go back and forth to the caffe with you. So tomorrow, don't hesitate if you want to go together.''
Andrean menepuk pundak Sraya dengan lembut dan tersenyum.
''Okay. I think now I have a personal driver, how much should I pay in a month?''
Canda Sraya yang membuat Andrean tertawa lepas, memamerkan deretan gigi nya yang rapi dan putih.
''I can even be more than your driver.''
Andrean membalikan candaan Sraya padanya. Mereka berdua saling tertawa lepas tanpa mereka sadari Akram telah menghampiri mereka di meja barista.
''Sorry to interrupt, do you want to go home already? Sraya?'' tanya Akram.
Akram memotong percakapan mereka. dan menatap Sraya lalu Andrean bergantian.
''Tentu aku sudah siap, Mas. Mas sudah selesai mengobrol dengan yang lain?''
''Oke chef, thanks for today and see you tomorrow''
Sraya berpamitan pada Andrean dan yang lainnya. Mereka berjalan keluar caffe, Sraya sempat bingung pulang naik bersama Akram.
Saat ia ingin memesan taxi online Akram mencegahnya dan menunjuk pada sebuah mobil.
Akram ternyata telah membeli sebuah mobil honda-HRV keluaran terbaru berwarna putih yang sangat terlihat mulus. Sraya sempat kesusahan meneguk ludah nya sendiri, Akram sangat cepat dalam menjalankan perintah ayahnya.
Sraya mampir ke kosan nya untuk mengganti pakaian nya dan membawa baju ganti untuk menginap. Lalu melanjutkan perjalanan ke apartment milik Akram, Masayu menyambut kedatangan Akram dan Sraya dengan wajah cerianya begitu juga dengan Permana.
Rencananya malam ini Masayu berniat mengajak Sraya untuk makan malam diluar bersama mereka.
Sampai lah mereka pada sebuah mall di Jakarta Selatan dan memilih salah satu tempat makan.
''Nak, Sraya. Terima kasih sudah mau menemani Ibu makan diluar.''
''Sama-sama, Bu. Seharusnya saya yang mentraktir Ibu,'' jawab Sraya tulus.
''Tenang, Dik Sraya. Uang Ibu masih banyak. Di desa Ibu tidak bisa makan ke mall jadi kita harus memanfaatkan momen ini.''
Canda Akram membisiki Sraya, tetapi Masayu masih bisa mendengar.
''Kamu jangan mempengaruhi Sraya yang macam-macam, Akram!'' kesal Masayu.
__ADS_1
Permana hanya terkekeh melihat istrinya, dari tadi ia sibuk dengan cucu laki lakinya.
''Gimana rencana kita untuk kerumah Sraya? Apa besok jadi?''
''Bapak benar, Ibu hampir lupa. Gimana, Nak. Apa kamu besok jadi libur?''
Sraya menghentikan kegiatan makan nya lalu memandangi pasangan suami-istri yang terlihat penuh harap, kemudian ia mengangguk dan tersenyum.
''Besok Sraya libur, Bu. Kalo memang Ibu ingin main kerumah saya. Besok kita bisa langsung kesana.''
''Yoo tentu nya jadi toh! Ibu tidak sabar mau ketemu ibu kamu,'' jawab Masayu antusias.
Setelah acara makan malam, mereka tidak langsung pulang. Masayu mengajak Sraya berbelanja untuk oleh-oleh yang akan di bawa kerumah ibu Sraya.
Sraya sudah menolak dengan halus. Tetapi Masayu tetap memaksa, Sraya hanya bisa pasrah saat di ajak berkeliling di mall dan memasuki satu demi satu toko yang ada disana.
Pagi itu setelah memasukan semua bawaan kedalam mobil, mereka berempat ditambah Sagara bertolak kerumah ibu Emah yang ada di kota Bandung.
Sebelum berangkat Sraya telah lebih dulu menceritakan kepada ibunya, dan meminta sang ibu untuk tidak membahas Maxwell maupun Natt di depan orang tua Akram.
Sraya juga meminta sang ibu untuk memanipulasi surat dari Nastiti, termasuk mengatakan mbo Darmi adalah kerabat ibunya. Semua ia lakukan bukan bermaksud apa-apa, hanya ingin membantu Akram dan Nastiti untuk saat ini.
Memasuki jam makan siang, mereka tiba di rumah Sraya. Ibu Emah dan mbo Darmi sebelum nya telah menyiapkan makan siang untuk mereka. Kemudian mereka makan bersama.
''Makasi Ibu Emah sudah mau menyambut kami dengan sangat baik, maaf kalo kami merepotkan, Ibu,'' ucap Masayu tulus.
Mereka tengah duduk diruang tamu. Mbok Darmi yang sangat merindukan Nastiti, sekarang hanya bisa menggendong bayinya sejak mereka sampai di desa.
''Hanya makanan orang desa, Bu Sama sekali tidak merepotkan. Malah saya dan Sraya yang merepotkan Ibu dan Bapak serta Nak Akram. Kalian sudah bawain kami oleh oleh yang banyak.''
''Bu Emah kami sudah tau dari Sraya kalau anak kami Nastiti, selama dia hamil sempat tinggal bersama Ibu. maaf kalau kami menyusahkan keluarga Ibu, jujur saya juga terpukul mendapati kabar ini.''
Pak Permana mengawali obrolan serius siang itu. Membawa ingatan Sraya, bu Emah, dan mbok Darmi ke masa saat Nastiti tinggal bersama mereka.
''Jujur sebagai orang tua saya merasa malu karena gagal melindungi putri semata wayang kami. Entah apa yang menjadi alasan Nastiti? tetapi dari surat yang telah kami baca, saya yakin anak kami memiliki alasan yang belum bisa ia sampaikan.''
''Untuk urusan Nastiti sebaiknya kita banyak berdoa saja untuk dia, tugas kita sekarang adalah untuk menjaga anak nya dengan baik. Karena anak ini membutuhkan kasih sayang dari keluarganya.''
Bu Emah mengalihkan pembicaraan setelah melihat raut Akram, Masayu, dan Permana yang berubah sendu.
''Ibu benar, menyangkut masalah Sagara. Untuk hal ini kami sengaja datang kemari, sebenarnya kami ada maksud lain.''
Masayu menggenggam tangan bu Emah dengan lembut.
''Ma--maksud lain yang bagaimana, Bu?'' tanya bu Emah penasaran.
''Kunjungan kami kemari selain untuk meminta maaf dan berterima kasih, kami juga ingin melamar anak ibu, Sraya. Untuk menjadi istri dari anak kami Akram,'' jawab pak Permana mantap.
Sraya yang sedari tadi diam dan tak berkomentar apapun saat orang tua sedang bicara sangat terkejut bukan main. Ia dan ibunya saling pandang, sedangkan Akram yang tidak tahu apa apa? Mendadak panas dingin.
__ADS_1