
"Sraya dan Mas Akram gak beli duren bu," jawab Sraya polos.
Akram yang paham arah omongan sang ibu mengambil alih pembicaraan.
"Halo, Bu. Duren nya masih belum matang, jadi belum bisa dibelah."
Terdengar helaan nafas dari Masayu, mereka mengobrol ringan lewat panggilan video yang menampilkan wajah lucu Sagara. Bayi itu seperti merespon ucapan Sraya dengan tersenyum.
Mereka mengawali hari itu dengan sarapan di restaurant yang ada di villa, berbagai macam makanan dihidangkan dengan menu yang beragam.
Sraya membuka daftar menu dan menawarkan beberapa rekomendasi menu pada Akram. Setelah memilih mereka menunggu dengan tenang di meja yang mereka tempati.
"Restautant ini interior nya bagus sekali, Mas." Ia mengedarkan pandangan nya ke semua sisi restaurant.
"Iya, Dik. Kamu benar, Mas dengar furniture nya ini dibeli dari anak perusahan Sedayu Buana Grup. Mereka benar-benar perusahan real estate yang memiliki kualitas tinggi," ucap Akram melirik Sraya.
Sraya tahu perusahan itu adalah milik keluarga Maxwell, Akram menangkap raut wajah Sraya yang tadinya berbinar berubah menjadi datar.
"Aku juga dengar dari mister Willem kalo masakan di restaurant ini sangat enak dan terkenal, Mas." Sraya mengalihkan pembicaraan.
"Benarkah? Mas baru pertama kesini dengan kamu, nanti kita nilai sendiri bagaimana rasanya."
Tidak lama beberapa pelayan mengantarkan pesanan Akram dan Sraya, kemudian menata nya di meja. Dengan sopan para pelayan mempersilahkan untuk mereka menikmati menu yang disajikan.
"Wahh appetizer nya saja termasuk Hors d’oeuvre royale," ucap Sraya antusias.
"Apa itu maksudnya, Dik?"
"Hors d’oeuvre royale dibuat dengan menggunakan bahan-bahan premium alias harganya lebih mahal," jelas Sraya
Akram manggut-manggut mendengarkan penjelasan Sraya, istrinya itu terlihat sangat lahap dan tidak malu-malu menyantap makanan nya.
Sesekali Sraya menceritakan masakan chef Rio dan Andrean yang sama-sama enak, dan Sraya belajar banyak dari mereka. Bahkan Sraya memuji kedua teman kerjanya itu.
"Kalau begitu Mas sepertinya harus belajar masak juga deh, gimana menurutmu?" tanya Akram.
Sraya mengernyitkan dahi nya mendengar pertanyaan dari Akram.
"Boleh saja, tapi kenapa, Mas. Mau belajar masak?"
"Biar kamu bilang keren, tampan, dan berbakat seperti chef Andrean."
"Mas sudah ganteng, sudah keren, baik, dan kaya. Jadi tidak perlu mengikuti chef Andrean, apa, Mas. Cemburu?" goda Sraya.
"Iya, Mas. Cemburu, kamu ndak boleh muji lelaki lain di depan, Mas."
__ADS_1
"Ah ternyata Suami Sraya ini orang yang posesif." Sraya terkekeh melihat Akram.
Setelah mereka selesai sarapan. Sraya mengajak Akram untuk jalan-jalan di pantai, mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua saja.
Akram terlihat menggandeng tangan Sraya yang lebih kecil dari telapak suaminya, senyum Sraya selalu terbit menikmati suasana di Bali. Ini ada pengalaman pertama bagi Sraya.
"Dik, kamu duduklah dulu, Mas. Akan membelikan kamu kelapa muda disana."
"Baik … hmm apa, Mas. Bisa membelikan beberapa cemilan," pinta Sraya.
Akram hanya tertawa dan mengiyakan permintaan kecil Sraya, tubuh istrinya ini langsing tetapi nafsu makan nya besar. Satu fakta yang baru Akram tau.
Akram meninggalkan Sraya, tetapi bukan untuk membeli kelapa muda seperti yang tadi dia bilang ke istrinya. Mata Akram menangkap sosok pria.
Pria itu Akram sadari telah mengikutinya sejak mereka tiba di bandara Bali, dia hanya membiarkan nya saja. Karena nyatanya lelaki itu hanya memantau Akram, bukan menggangu.
"Apa kabar, paman Levie?"
Lelaki itu terkejut mendapati kehadiran Akram yang sudah ada di disamping dan menepuk bahunya.
Tadi dia sempat kehilangan sosok Akram, hanya Sraya saja yang ia lihat. Lelaki yang dipanggil Akram dengan nama Levie itu membungkuk kan sedikit badan nya pada Akram.
"Maaf mengganggu waktu anda, Tuan pertama."
"Santai saja Paman. Orang-orang akan mengira aku seseorang yang berkuasa karena penampilan mu yang terlihat formal, membungkuk pada seorang petani seperti diriku."
"Anda terlalu merendah, Tuan," ucap Levie datar.
"Baiklah Paman, katakan apa dia yang menyuruh Paman untuk menguntitku?" tanya Akram.
"Beliau hanya ingin memastikan keadaan, Tuan pertama."
"Rupanya dia penasaran dengan istriku, kerjakan apa yang menjadi perintah Paman. Tapi tolong jangan membuat curiga istriku Paman."
"Tuan pertama bisa melanjutkan bulan madu Tuan."
Lelaki paruh baya dengan berwajah dingin dan tanpa ekspresi, namun masih terlihat gagah dan tampan. Memandang Akram pergi
begitu saja meninggalkan dirinya.
"Mas, kenapa lama sekali?" tanya Sraya.
"Maaf Mas tadi sempat antri di toilet, apa cacing-cacing diperutmu itu sudah protes?" tanya Akram menggoda.
"Ya mereka sudah mengadakan demo sekitar sepuluh menit yang lalu."
__ADS_1
Mereka berdua tertawa dan menikmati suasana yang sudah menjelang sore.
……………
Brisbane,
"Aku masih bisa mengurus kamu, Nas. Jadi kumohon tetaplah dirumah saja," bujuk Rei.
"Aku sangat percaya dengan kemapuan, Mas. Tapi Nas gak mau diam saja dan selalu bergantung sama, Mas Rei."
"Tapi kamu masih baru di kota ini, Nas. Lalu kamu mau melamar kerja di perusahaan mana?" tanya Rei.
"Kemarin Nas lihat ada lowongan di salah satu perusahaan, dan hari ini sudah batas waktunya, Mas. Nas ingin mencoba."
Rei tidak bisa menolak permintaan Nastiti. Hari ini ia mengantarkan wanita itu kesebuah perusahaan menengah di kota Brisbane.
Nastiti mengatur nafas, merapikan pakaian yang tadi dibelikan Rei, dan memantapkan langkah saat nama nya dipanggil untuk langsung wawancara.
Sebuah keberuntungan untuk Nastiti, biasanya butuh waktu setidaknya dia harus melewati analisa berkas lamaran.
Ada seorang pria muda berusia tiga puluhan yang menjabat sebagai HRD, pria itu memeriksa CV nastiti dan memulai wawancaranya dengan lancar.
Nastiti dengan percaya diri menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan padanya. Nastiti juga menjelaskan tentang dirinya serta pengalaman kerja serta keaktifan nya saat dulu menjadi mahasiswi.
Benar-benar hari keberuntungan untuk gadis itu, Nastiti tidak menyangka akan segera langsung diterima di perusahaan yang ia lamar.
Dengan langkah ringan ia menuju parkiran tempat dimana mobil Rei di parkirkan, sedari tadi lelaki itu dengan setia menunggu Nastiti.
Nastiti memeluk Rei saat sudah di dalam mobil.
"Kamu tampak bahagia? Tetapi mengapa lama sekali mengantarkan CV nya?" tanya Rei.
"Mas, Nastiti sudah diterima kerja!"
"Bagaimana mungkin? Bukan nya hanya mengantar berkas saja?"
Nastiti menceritakan kalau tadi dia langsung ke sesi wawancara, dan diterima. Rei tentunya sangat senang Nastiti berhasil di usaha pertama nya.
Tapi Rei juga merasa curiga, ia tidak ingin Nastiti sedih kalau dirinya menyatakan kecurigaan nya. Mereka berdua akhirnya pulang.
"Katakan hasilnya Brian!"
"Sesuai rencana, Tuan. Nastiti memasukan berkas lamaran nya hari ini, dan kami langsung menerima dia setelah melakukan interview."
"Kerja bagus Brian, terus awasi gadis kecil itu."
__ADS_1
"Perintah Tuan akan saya laksanakan dengan baik."
Lelaki paruh baya, dengan rambut yang memutih itu memutuskan panggilan nya dengan pria bernama Brian secara sepihak.