
"Apa kau tidak bisa membawa Hyun pulang Pak tua?"
"Sadarlah, Ron bahkan jalan mu saja dibantu dengan tongkat."
"Kau sangat lama dalam bekerja, Kim. Sudah sepuluh tahun tapi kau tidak bisa membawa anak itu pulang."
"Bocah itu mirip dengan ayah nya kalau kau lupa Ron, tujuh belas tahun dia menghabiskan waktunya di desa itu."
Aaron mendengus kesal mendengarkan alasan sahabatnya ini, mereka tengah duduk di ruang kerja yang cukup luas. Asap mengepul ke udara saat mereka menghembuskan cerutu mahalnya.
"Satu tahun Kim! Kalau kau tidak bisa membawa pulang Hyun, maka anak ku Damian yang akan menjemputnya."
"Kau Pria tua yang cerewet," sindir Kim.
…………
Tiga hari Sraya dan Akram menghabisi waktu mereka berbulan madu, dan malam ini adalah malam terakhir mereka di Bali.
Sraya merapikan baju-baju yang dia dan suaminya bawa kedalam koper, tidak lupa mereka membeli beberapa buah tangan untuk semua keluarganya.
"Ah selesai juga aku beresin barang-barang yang sebanyak ini." Sraya meregangkan badan nya.
Akram yang baru saja balik ke kamar mereka setelah dari membeli cemilan untuk Sraya, melihat istrinya itu sedang memijit kaki nya sendiri.
Akram memberikan semua cemilan itu pada Sraya yang disambut dengan antusias, kemudian ikut duduk dengan gadis itu di sofa kamar mereka.
"Apa kamu Tidak takut gemuk, Dik? tanya Akram.
"Hmm … enggak, Mas. Kenapa aku takut gemuk kalau sudah punya Suami," jawab Sraya santai.
"Tapi Suami ini tampan dan kaya, apa kamu engga takut dilirik wanita lain?"
Sraya menghentikan kegiatan makannya itu dan menatap dengan serius wajah Akram, ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan saat mendengar perkataan seperti itu.
Akram sendiri tertawa, karena melihat pipi Sraya yang menggembung karena makanan yang belum di telan.
Sraya yang melihat suaminya tertawa, melirik tajam pada Akram dan menelan makanan nya. Wajah nya ditekuk sehingga semakin meng-gemaskan di mata Akram.
__ADS_1
"Aku tahu pernikahan kita ini terjadi karena sebuah keadaan, tapi kalau, Mas. Waktu itu tidak setuju dengan lamaran ibu dan bapak. Kenapa Mas mau menikahiku?" tanya Sraya dengan matanya memerah menahan tangis.
Akram bingung apakah dia sudah salah bicara ? Padahal tadi ia hanya bercanda. Dengan cepat ia menarik istrinya itu kedalam pelukan nya untuk ditenangkan.
"Maaf kalau Mas sudah salah bicara sama kamu. Bukan itu maksud, Mas."
Sraya melepaskan pelukan Akram dan menghapus asal airmata nya, ia tidak tahu kenapa bisa sampai menangis saat Akram hanya bercanda.
"Mas, engga ada niatan sekecil apapun untuk melirik wanita lain, buat apa? Istri Mas ini sudah dengan tulus menjaga Nastiti walau belum lama kenal, sudah menyayangi dan mau mengurus Sagara meski bukan anaknya, bisa membuat orangtua Mas tenang saat Mas bingung menghadapi mereka."
Akram membelai mebut rambut panjang bergelombang Sraya yang tergerai, lalu membawa lagi kedalam pelukan nya.
"Lagipula Istri Mas ini sangat cantik, pintar masak, dan juga baik hati. Rasanya bukan hanya Mas saja yang sayang, tetapi anak kita juga, Sagara."
Akram mengelus punggung istrinya, tetapi Sraya masih bergeming. Selang beberapa menit Sraya melepaskan lagi peluka Akram dan menatap wajahnya.
"Aku enggak marah, Mas. Dilirik wanita lain, aku marah karena Mas Akram sudah pernah mencium aku tetapi masih ngomongin peluang tetang wanita lain!" jawab Sraya gengsi.
Akram mengernyitkan dahi nya, mencium? Bahkan ia hanya sekali, itupun hanya di pipi. Istrinya ini sangat menggemaskan saat sedang merajuk.
Tiga hal yang sudah ia pelajari tentang sang istri. Sraya tidak tahan dingin dan akan langsung flu, Sraya sangat suka makanan dan cemilan, Sraya ternyata pecemburu.
CUUUUPPP.
Belum sempat Sraya menyelesaikan kata-katanya, Akram sudah mencium bibir Sraya dengan lembut. Jantung Sraya berdebar kencang dan hanya terdiam.
Akram tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk tidak mencium Sraya, hening. Saat Akram membuka matanya, ia melihat Sraya tengah memejamkan matanya.
Akram tidak melepaskan tautan bibirnya pada Sraya, ia merengkuh tubuh Sraya lebih dekat lagi dan memeluknya erat.
Keduanya tenggelam dalam hasrat mereka, Sraya mulai berani membalas ciuman lembut yang diberikan suaminya.
Manis, itu yang dirasakan Akram saat menyecap bibir Sraya. Bagai sebuah candu baru untuk Akram.
"Mas sayang kamu, Sraya," Akram menempelkan dahinya pada dahi Sraya.
Jam delapan pagi Akram dan Sraya pulang ke Jawa Tengah, setalah transit di Jakarta selama dua jam. Akhirnya mereka sampai di desa Akram saat memasuki siang hari.
__ADS_1
Masayu dan Permana sangat antusias menyambut kedatangan putra dan menantunya itu, begitupun dengan Sagara yang tampaknya merindukan ibu sambung nya.
"Pak apa Akram dan Sraya kira-kira sudah melakukan nya apa belum?" tanya Masayu penasaran.
"Hust … Ibu ndak boleh ngomong kayak gitu, ingat Akram berjanji enggak akan maksakan itu pada Sraya. Lagian Sagara aja baru umur sebulan, kalo mereka ada anak lagi gimana tanggapan orang-orang."
Masayu hanya membalas perkataan Permana dengan mencebikkan bibirnya.
……………
Singapura,
"Jadi bagaimana hasilnya, Liam ?"
"Maaf, Max. Hasilnya masih sama dengan bulan kemarin."
"Apa kau bercanda Liam? Bahkan hasil test Sperm chromatin structure menunjukan hasil yang sama dengan test bulan lalu?" tanya Maxwell kesal.
"Aku bukan Tuhan, Max. Yang bisa menentukan kesahatan mu. Maaf Max aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk dirimu," ucap dokter Liam.
"Lakukan apa pun juga Liam, aku akan membayar mu mahal atas jasamu."
"Bulan depan aku akan melakukan test single cell gel electrophoresis assay. Ini merupakan metode di mana membran sel ****** diluruhkan, DNA spermma yang terfragmentasi akan membentuk ‘ekor’, menunjukkan derajat kerusakan DNA yang terjadi," jelas Liam.
"Lakukan yang terbaik," jawab Maxwell arogan.
Maxwell kembali ke apartement nya yang berada di Singapura. Setelah menjalani terapi dan berbagai test beberapa bulan ini, ia belum bisa menerima hasil baik.
Ia kembali mengingat Nastiti, gadis itu? Seandainya tidak sombong dan bersikap lembut. Maxwell tidak akan menolak meski belum jelas siapa dia.
Nyata nya Nastiti dengan berani memukul Max sampai terluka, Max bukan orang yang lemah. Tetapi atas perbuatan gadis itu yang hanya berniat melindungi dirinya, berhasil membuka trauma pria arogan itu.
Pasti anaknya sudah terlahir dan berusia satu bulan, sama dengan bayi yang ia temui beberapa minggu yang lalu saat di mall dan pesta Willem.
Maxwell merasa aneh saat melihat bayi itu, entah karena perasaan nya saja ? Atau fakta nya demikian, orang tua bayi itu sama sekali tidak memiliki kemiripan.
Meskipun baru bertemu dua kali. Max menyadari kalau wajah ayah dari bayi itu sangat khas wajah Asia, meskipun wanita yang ia kira sebagai ibunya berwajah Indo.
__ADS_1
Matanya seperti mata Max, yang berwarna sedikit abu-abu kebiruan dan raut wajahnya seperti seorang yang pernah ia kenal.