
Sraya
Aku mengatakan kepada Amel untuk belajar tinggal sendiri, sengaja aku berbicara seperti itu karena sudah melihat gelagat Amel yang hendak ikut bersama aku dan mas Akram.
Aku tidak mau acara belanjaku diwarnai dengan drama-drama dari Amel. Sudah cukup dengan bingkai foto yang pecah dan tragedi high heels saat makan malam di Caffe waktu itu.
Aku harus memberikan hadiah kepada kak Hendi yang telah membuka mataku lebar-lebar karena telah menunjukan siapa gadis kecil yang sedang menumpang di unit apartement mas Akram.
Mas Akram mendorong stroller Sagara ke area parkir dan aku menggandeng tangan nya. Dua bulan sudah kami telah menikah, perasaan sayang mulai tumbuh setiap harinya.
Kami tiba di area parkir khusus penghuni apartement, aku segera menggendong Sagara setelah mas Akram membuka kan pintu mobil untukku. Kemudian ia melipat stroller Sagara dan memasukan nya ke dalam bagasi.
"Anak Ayah yang ganteng ini mau jalan-jalan ya, Sagara mau beli apa nanti di mall?" tanya mas Akram pada anak angkat kami sambil memasangkan seatbelt.
"Saga mau beli susu, pampers, minyak telon, sama bedak, Yah," jawabku menggantikan bayi kami.
"Hahaha, terus kalo Ibunya mau beli apa ke mall?" kini mas Akram menanyaiku apa saja yang hendak aku beli nanti.
"Hmm ... Ibu Saga mau beli bahan makanan, kue, kebutuhan rumah. Apa lagi ya, Nak. Mumpung kita dikasih kartu sakti dari kakek Kim," aku menjawab pertanyaan mas Akram sambil berpikir.
Mas Akram tersenyum dan mengusap rambutku dengan lembut, ia menghentikan mobilnya karena lampu merah. Kesempatan itu mas Akram gunakan untuk mengeluarkan kartu debit dan memberikan nya kepadaku.
"Kalau untuk belanja bulanan kamu bisa make kartu ini, Dik. Didalam nya ada saldo untuk kamu pakai buat belanja sehari-hari. Kartu dari kakek itu khusus kamu belanjakan untuk keperluan pribadi kamu karena itu hadiah. Sedangkan kebutuhan rumah itu tanggung jawab Mas."
Aku menatap mas Akram dengan perasaan haru, lalu mas Akram membalas dengan senyum dan mengecup punggung tangan kanan ku sambil menjalankan mobilnya kembali.
"Mas akan mentransfer ke kartu itu tiap bulannya untuk kamu belanja kebutuhan dapur dan kebutuhan Sagara, untuk uang jajan kamu. Nanti mas transfer ke rekening pribadi kamu."
"Makasi banyak, Mas," aku memajukan badanku dan mencium pipi mas Akram, membuat rona merah di wajah suamiku ini.
Kami tiba di sebuah mall yang besar di kota Jakarta, mas Akram kembali membuka kan pintu, kali ini sengaja kami tidak menggunakan stroller. Mas Akram sendiri yang menggendong Sagara. Setelahnya kami masuk untuk berbelanja.
Tempat pertama yang aku datangi adalah lantai yang khusus menjual berbagai macam kebutuhan dapur, makanan, sayur, dan buah.
__ADS_1
Aku memilih beberapa bahan yang diperlukan dengan lengkap dan juga keperluan Sagara.
Kini kami bergantian, aku menggendong Sagara dan mas Akram mendorong keranjang belanjaan. Setelah membayar di kasir kami melanjutkan ke toko bayi yang menjual baju-baju lucu.
Aku memilihkan beberapa potong baju untuk bayi kami, Sagara. Anak tampan itu makin hari makin bertambah berat badannya. Mungkin karena susu formula yang kami berikan cocok dan harga nya mahal.
"Mas, ini baju-baju anak perempuan. Baju Sagara ada di rak sebelah sana," tunjukku ke lorong yang menyediakan pakaian bayi laki-laki.
"Liat deh, baju ini menggemaskan sekali, warna nya pink. Identik bayi perempuan banget," jawab mas Akram sambil menunjukan pakaian bayi perempuan berumur satu tahun yang dihiasi renda dan pita.
"Bener, Mas. Lucu bajunya, tapi anak kita kan laki-laki." Aku mengelus lengan kekar mas Akram dan tertawa.
"Ya siapa tau aja nanti adik nya Sagara perempuan," goda mas Akram.
Wajahku kini pasti memerah karena tersipu malu, memberikan adik perempuan untuk Sagara? Apa aku siap? Bahkan sejauh ini aku dan mas Akram hanya sebatas pelukan dan ciumann.
"Hahaha ... kamu gemesin banget, Dik. Kalo lagi malu-malu gini. Tenang aja Mas ga maksa kamu kok, Mas tadi becanda."
Kini aku merasa bersalah dengan mas Akram, lelaki mana yang bisa sabar menahan kebutuhan batinnya saat sudah memiliki istri sah?
"Ah, jangan dipikirkan. Saat kamu siap nanti, Mas. Akan memberikan adik kembar untuk Sagara."
Anak kembar? Tadi mas Akram hanya mengatakan ingin memberikan Sagara adik perempuan, tapi sekarang?
Aku melamun beberapa saat untuk membayangkan kalau memiliki anak sendiri dari mas Akram. Pasti akan ramai rumah kami nantinya, sampai mas Akram mengusap lembut rambutku membuat aku tersadar.
"Hayo ngelamunin apa?" tanyanya sambil senyum-senyum menatapku.
"Enggak, Mas. Hehehe ... yuk kita bayar baju-baju yang udah aku pilih ini." Aku mengajak suami tampan ku itu ke kasir dan membayar semua belanjaan kami.
Sudah jam tiga, tidak terasa sama sekali waku berjalan sangat cepat. Aku mengajak mas Akram untuk pulang namun ia mengajakku ke sebuah butik yang menjual pakaian wanita.
"Mas tadi liat baju itu, sangat cantik dan pas buat kamu." Mas Akram segera mengambil baju yang ia maksud dan mulai mencocokan di badanku, aku hanya terdiam.
__ADS_1
"Bener apa kata Mas, baju ini sangat cocok buat kamu."
Mas Akram langsung menyuruh penjaga toko untuk membungkus dress pilihan nya dan beberapa potong blouse sederhana, ia sudah hapal selera berpakaianku. Aku sangat bahagia sekali mendapat perhatian dari suamiku ini.
"Mas, makasi. Aku seneng banget, tapi bajuku masih banyak dirumah dan masih layak pakai."
"Apa harus menunggu baju-baju kamu itu robek untuk membeli yang baru? Tenang suami kamu ini sangat mampu membeli beberapa potong baju ini, kalau kamu makin cantik. Mas juga yang seneng."
Ah dasar gombal.
Saat kamu keluar dari butik itu, panggilan masuk ke handphone mas Akram. Ia menghentikan langkah nya mendorong troli belanjaan kami.
"Assalamualaikum. Ya, Mel?"
Lagi-lagi Amel, apa gadis itu sudah tidak sanggup di tinggal sendirian dalam waktu tiga jam ini? Seperti uji nyali saja. Aku sedikit kesal jadinya.
"Kenapa, Mel?" ulang mas Akram.
"Mas, bisa pulang sekarang? Badan amel ruam merah, kayaknya amel kena alergi gara-gara makan udang."
Itulah yang aku dengar setelah aku merapatkan kupingku untuk bisa mendengar apa yang Amel katakan, aku mencebikkan bibirku tanpa mas Akram tau. Apa lagi rencana nya kali ini?
Segera kami melajukan mobil untuk pulang kerumah, namun sayang karena memasuki jam pulang kantor. Keadaan jalanan lumayan macet.
"Amel alergi udang, Mas?" tanyaku.
"Aku gak tahu, Dik. Katanya begitu," jawab mas Akram.
"Kalau tau alergi udang kenapa Amel gak bilang? Jadi aku bisa masakin dia yang lain."
"Bukan salah kamu, kita berdoa aja semoga Amel gak kenapa-kenapa."
Kami tiba di apartment jam lima lewat, semua belanjaan sengaja kami tinggalkan di mobil. Aku menekan bell apartment dan Amel membukakan nya.
__ADS_1
Aku lihat beberapa ruam merah di leher, tangan, dan pipi Amel. Tetapi warna merah di kulit Amel lebih tepat seperti bekas garukan yang cukup kuat.