Mendadak Suami Istri

Mendadak Suami Istri
Orang Kepercayaan


__ADS_3

Sraya menjadi canggung setelah mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya. Belum sempat ia menjawab Masayu kembali bertanya. "Kamu kenapa pakai baju model begitu, Nak. Di tengah cuaca panas kayak gini?"


Sraya semakin menundukan kepalanya menyentuh dada, Masayu belum tau saja kalau Sraya memakai baju model turtle neck karena ulang anaknya.


Akram semalam membuat tanda kepemilikan di tubuh Sraya, mulai dari leher, bahu, dada terdapat tanda berwarna merah sebesar uang koin. Tubuh Sraya bagaikan peta yang terdapat bercak-bercak abstrak.


Mereka makan bersama siang itu, tidak sampai sore hari Masayu dan bude Rusnina pamit pulang. Akram mengantar mereka ke bandara sekalian ingin bertemu Daren.


Akram dan Daren telah membuat janji temu di salah satu caffe di Jakarta Barat. Daren datang lebih dulu sebagai bentuk profesionalitas, tak menunggu waktu yang lama Akram pun datang menyusul.


"Selamat siang, Tuan," ucap Daren. Lelaki muda seumuran istrinya itu membungkukan badan sebagai rasa hormat pada Akram.


Akram hanya menepuk bahu Daren dan memberi isyarat untuk duduk. "Bagaimana hasil penyelidikanmu mengenai Maxwell?" tanya Akram membuka obrolan.


"Untuk kondisi kesehatan Maxwell tidak menunjukan perkembangan, Tuan. Tanpa siapapun sadari, kakek anda telah membuat pengobatannya tidak memperlihatkan kemajuan." Daren menjelaskan situasi Maxwell dengan sikap duduk yang formal.


Akram hanya tersenyum tipis, menandakan ia puas dengan upaya sang kakek. "Lelaki bodoh! Bahkan ia sampai tidak menyadarinya." Akram memesan dua cangkir kopi beserta cemilan untuk mereka berdua.


"Aku ingin kau masuk kedalam perusahaan Maxwell sebagai investor, aku berniat ingin membuat Max hancur dari dalam. Dan aku yakin dengan kemampuanmu, kamu dapat melakukan apa yang aku pinta!"


Daren terdiam sejenak, kali ini perintah dari Akram bukan hal mudah. Mengingat Maxwell dan keluarganya memiliki pengaruh dan nama yang besar di dalam dunia bisnis. "Mengenai dananya, Tuan" tanya Daren sedikit ragu.


"Kau tidak perlu khawatir, kedua kakekku. Tuan Kim dan tuan Aaron menjamin semua dananya, ambil keuntungan sebanyak-banyak nya dari perusahaan Maxwell. Setelah itu hancurkan tanpa sisa!"


Akram mengatakan rencana nya dengan wajah yang sangat dingin. Sangat berbeda ketika berbicara dengan istri maupun keluarganya, inilah sisi gelap Akram yang menurun dari Kim dan juga Aaron yang akan ditunjukan kepada musuh-musuhnya saja.

__ADS_1


Daren menganggukan kepala tanda lelaki itu paham. "Apa, Tuan. tidak ingin menghubungi langsung nona Nastiti?" tanya Darren hati-hati.


"Aku sengaja menunggu Nastiti untuk memberi kabar lebih dulu, aku tidak ingin membuatnya merasa semakin bersalah. Dan aku ingin memberikan rasa kepercayaan pada Nastiti. Adikku itu sudah berpesan kalau ia akan pulang saat waktunya sudah tepat untuk balas dendam, tanpa ia tahu aku sudah memulai semuanya."


"Aku mengerti, Tuan."


"Aku telah membeli sebuah mansion atas namaku, kau tinggalah disana," ucap Akram enteng tanpa beban.


"Tapi, Tuan. Bagaimana mungkin saya tinggal di mansion sedangkan anda hanya tinggal di sebuah apartemen?"


"Apa kau lupa kalau kau adalah calon investor, Daren?" Akram menyecap kopinya dengan tenang dan melanjutkan kembali kalimatnya. "Kau akan terlihat meyankinkan kalau tinggal di sebuah mansion, ikuti saja rencana yang sudah aku atur!"


Mereka berdua berbincang-bincang mengenai kehidupan Daren selama di Inggris, tidak salah Akram dan keluarga nya dari pihak tuan Kim menyekolahi dan mengambil Daren dari panti asuhan belasan tahun silam. Pemuda ini sangat cerdas, setia, dan dapat di andalkan.


Akram mengingat kenangan masa lalu nya saat menjadi kekasih Sofi, bagi Sofi petani hanyalah petani. Yang berada di bawah level pengusaha.


"Tuan tentu memiliki pemikiran yang jauh di atas saya, tetapi dengan tidak mengurangi rasa hormat. Saya memiliki sebuah ide," jawab Daren.


Akram melipat kaki nya dan menunggu jawaban Daren dengan tenang. "Katakan!"


"Melihat niat Tuan yang ingin membuka bisnis hanya sebagai kamuflase dan melihat kondisi kota ini yang syarat akan banyaknya tempat hiburan. Sepertinya membuka sebuah caffe, restaurant, atau sejenisnya adalah hal yang cocok, Tuan," ujar Daren.


Akram teringat dengan setiap masakan yang Sraya masak, kebetulan istrinya itu dulu pernah bekerja di caffe. Apalagi hobi Sraya adalah memasak.


Ibarat pepatah yang mengatakan 'sekali dayung dua pulau terlampaui' Akram dapat membuka bisnis dengan sistem management yang mudah dan juga dapat membahagiakan Sraya.

__ADS_1


Akram tersenyum penuh arti dan wajahnya menjadi ceria. "Ide yang sangat bagus, Daren." puji Akram.


"Terima kasih, Tuan."


"Ah, nanti malam aku akan mengundang mu untuk makan malam. Saat bertemu dengan istriku nanti jangan bersikap formal ... Pakailah pakainan sepertiku. Kau tau Daren? Kau terlihat lebih tua kalau selalu memakai jas, kau mirip paman Levie!" ucap Akram pedas mengomentari penampilan Daren.


"Satu lagi, jangan panggil aku dengan sebutan, Tuan. Panggil aku kakak!" perintah Akram.


Daren memang orang kepercayaan Akram, tetapi lebih dari itu Akram telah menganggap Daren sebagai adiknya. Semua tentang Akram diketahui pemuda itu


..................


Jauh dari kota Jakarta, lebih tepatnya Brisbane. Nastiti yang baru saja menyelesaikan pekerjaan nya terlihat menunggu dokter Rei di lobi kantor.


Ia bekerja layaknya karyawan seperti biasa, tanpa ia tahu kalau seseorang yang memiliki jabatan tinggi di kantornya, selalu mengawasi Nastiti dan melaporkannya pada kakek Akram.


Seorang teman asal Indonesia yang menjadi rekan kerja Nastiti menyapa dan ikut duduk disamping Nastiti. "Kamu menunggu suami kamu, Nas?" tanya Aliya nama gadis itu.


Setiap ditanya mengenai hubungan Rei dan dirinya, Nastiti menjadi bingung. Kalau ia mengatakan mereka belum memiliki ikatan yang resmi tetapi tinggal diatap yang sama, pasti akan menimbulkan gosip.


Nastiti akhirnya hanya tersenyum dan menjawab dengan singkat. "Iya, Al. Aku lagi nunggu dokter Rei."


Nastiti yang dulunya lemah lembut dan gadis yang periang kini berubah menjadi sosok yang tertutup dan selalu waspada. Kejadian satu tahun yang lalu membuat dirinya selalu berhati-hati saat bertemu orang baru.


Nastiti selama ini salah! Dulu ia selalu menganggap semua orang itu baik, ternyata tidak demikian. Mereka yang di sebut manusia terkadang tidak memanusiakan sesama manusia!

__ADS_1


__ADS_2